Ungkap Tersangka Lain Pembunuh Tina, Suami Korban Diperiksa Polisi

oleh -2 views

Sumbawa Besar, SR (25/09/2015)

Polisi terus mengusut dugaan keterlibatan orang lain selain tersangka EM (37) dalam kasus penganiyaan yang menewaskan Nurtina (45). Jumat (25/9), penyidik Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Sumbawa menghadirkan suami korban, Umar Hasan Alamudy untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Pasalnya, Umar, sapaan akrab pria yang berprofesi sebagai kontraktor ini, diduga kuat mengetahui orang-orang yang diindikasikan terlibat.

Ditemui sejumlah wartawan usai diperiksa penyidik, Umar memastikan pelaku yang membunuh istrinya lebih dari satu orang. “Sebenarnya tersangka bukan hanya menantu saya (EM, Red) tapi ada juga yang lain,” kata Umar. Ia menuturkan, saat kejadian dia sedang berada di atas rumah sedang menonton televisi, sedangkan istrinya, Tina (korban) berada di rumah makan miliknya yang berada di bagian depan rumah. Setelah mendengar keributan, Umar mengaku bergegas turun ke bawah untuk melihat apa yang telah terjadi. “Saat saya turun sempat melihat mereka (beberapa orang yang sangat dikenalnya) lari ke luar dari rumah makan. Saya berteriak sambil mencaci maki mereka,” ucap Umar.

Saat masuk ke dalam rumah makan, seketika tubuhnya lemas melihat istrinya tergeletak bersimbah darah. Umar pun memastikan kondisi istrinya yang sangat menyedihkan itu adalah ulah mereka yang kabur saat melihat dirinya turun dari rumah. Nama-nama yang dimaksudkan tersebut telah dibeberkan kepada pihak penyidik kepolisian  dan berharap dapat ditangkap dan diproses untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Nama-nama yang terlibat selain EM, ungkap Umar, juga sempat disebutkan oleh istrinya ketika dirawat di rumah sakit. “Istri saya sempat sadar dan menyebutkan tiga nama yang menganiayanya. Ini bukan saya saja yang mendengar, tapi ada dua orang lagi termasuk ipar saya, dan mereka siap memberikan kesaksiannya. Selama ini saya sembunyikan ketika Tina masih dirawat. Tapi karena Tina sudah meninggal, ini saya beberkan,” aku Umar.

Baca Juga  Polisi Berbagi, Bhabinkamtibmas Sepayung Bantu Warga Tak Mampu

Selain itu, sambung Umar, ada tukang ojek asal Moyo Hilir yang kerap mangkal di depan rumah makan (TKP) melihat aksi para pelaku. Rencananya polisi akan menghadirkan saksi tersebut untuk memberikan keterangan.

Ia mengaku sangat menyayangi istrinya. Karena tidak ada orang lain meskipun anak dan cucunya yang bisa merawatnya selain istrinya. “Selama 26 tahun dia (Tina, Red) telah mendampingi dan yang merawat saya. Sekarang saya sepertinya tidak punya siapa-siapa lagi,” ujarnya lirih sembari menghapus air matanya.

Diakui Umar, sejak menikahi Tina, banyak yang tidak setuju, bahkan istrinya dimusuhi dan kerap mendapat ancaman. Dia selalu menenangkan istrinya bahwa ancaman tersebut tidak mungkin menjadi kenyataan. Ternyata perkiraannya meleset, istrinya dianiaya namun dapat diselesaikan secara kekeluargaan di kantor polisi. Rupanya sekarang kembali terulang menyebabkan istrinya meninggal dunia. “Saya minta polisi mengusut tuntas kasus ini. Siapa yang terlibat dapat dihukum seberat-beratnya karena perbuatan mereka sangat keji,” pintanya.

Sebelumnya Kasat Reskrim, IPTU Tri Prasetiyo mengatakan, kasus tewasnya Nurtina (45) yang dianiaya menantunya, EM (37) akan direka ulang dalam waktu dekat ini. Reka ulang atau rekonstruksi ini untuk mengetahui secara pasti kronologi penganiayaan yang menghilangkan nyawa istri seorang kontraktor tersebut, termasuk mengungkap siapa berbuat apa. Rekonstruksi ini juga dibutuhkan untuk menyingkronkan keterangan tersangka dan saksi dengan kejadian yang sebenarnya. Jadi tidak harus berpatokan dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP), melainkan lebih pada apa yang dilakukan, dilihat, dan dirasakan saat kejadian.

Baca Juga  Dedi Mohe Bolang Ntb: “Saya hanya Korban, Bukan Pelaku”

Kasus penganiayaan yang menewaskan Tina—sapaan korban terjadi Minggu (13/9) dinihari. Berawal dari cek-cok mulut antara tersangka dan korban di rumah sekaligus warung nasi milik korban, KM 3 jalan lintas Sumbawa—Bima, wilayah Kelurahan Samapuin. Cek-cok ini berujung penganiayaan. Tersangka diduga menganiaya korban menggunakan kursi besi lipat berwarna hitam. Akibatnya, korban menderita luka berat di bagian kepalanya dan sempat dirawat selama dua hari di RSUP Manambai Abdul Kadir, hingga akhirnya meninggal dunia. (Jen/SR)

 

bankntb DPRD DPRD