Konsultan Pengawas Pasar Batu Rotok Diperiksa Polisi

oleh -24 views
Konsultan Pengawas Diperiksa Penyidik Tipikor Polres Sumbawa

Sumbawa Besar, SR (19/09/2015)

Penyidik Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Sumbawa terus berusaha menyingkap dugaan penyimpangan pembangunan Pasar Tradisional Batu Rotok, Kecamatan Batu Lanteh, Kabupaten Sumbawa. Setelah sejumlah pejabat di Sumbawa dimintai keterangannya, kini giliran Ir H Peter Frans—konsultan pengawas dari PT Ciria Jasa Engineering Consultant sebuah perusahaan konsultan. Konsultan tersebut diperiksa penyidik selama beberapa jam, Sabtu (19/9) siang tadi.

Hal ini dibenarkan Kasat Reskrim setempat, IPTU Tri Prasetiyo yang dikonfirmasi SAMAWAREA. Perusahaan milik saksi ini mendapat kontrak untuk konsultan di 36 kabupaten/kota di Indonesia termasuk proyek pembangunan pasar tradisional di Kabupaten Sumbawa. Untuk melaksanakan pekerjaan konsultan ini, PT Ciria menjalin perjanjian kerjasama dengan tenaga ahli di masing-masing daerah, dan khusus Pasar Batu Rotok menugaskan AR guna melakukan pengawasan pengerjaan proyek pusat senilai Rp 548 juta tersebut. Dalam perjanjiannya tenaga ahli ini bertanggung jawab secara hukum jika laporan yang disampaikan kepada pihak perusahaan tidak sesuai dengan kondisi fisik yang ada. “Apabila hasil pengerjaan proyek itu tidak sesuai laporan yang diterima perusahaan, tenaga ahli yang ditugaskan bertanggung jawab secara hukum. Surat perjanjian itu telah kami kantongi,” jelas IPTU Tri—sapaan singkat perwira low profil ini.

Kasat Reskrim IPTU Tri Prasetiyo
Kasat Reskrim IPTU Tri Prasetiyo

Nantinya keterangan konsultan ini akan disingkronkan dengan keterangan saksi lain yang diperiksa sebelumnya. Dan dari keterangan konsultan ini juga penyidik akan menjadwalkan pemanggilan AR selaku tenaga ahli yang ditugaskan untuk melakukan pengawasan terhadap pembangunan Pasar Batu Rotok yang dikerjakan CV Lampui Jaya.

Baca Juga  Akhirnya Korban Tenggelam di Maronge Ditemukan

Disinggung mengenai perkembangan hasil pengumpulan data dan keterangan, IPTU Tri mengaku masih akan melakukan gelar perkara untuk menentukan ada dan tidaknya unsur pidana. “Kalau dari informasi yang kami peroleh memang ada yang mengarah. Tapi untuk masalah korupsi kita harus berbicara data dengan melihat dokumen yang telah dikantongi,” ucapnya.

Untuk diketahui pasar yang selesai dibangun Desember 2014 lalu ini sudah dalam keadaan rusak. Sebagian fisik bangunan hancur. Padahal sejak selesai dibangun belum pernah digunakan. Ada indikasi mutu pengerjaannya yang tidak beres. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan termasuk dua dari 6 anggota tim pemdamping yaitu Arya Ningsih SP M.Agribus dan Z Arifin S.Pt M.Si. Sebab dari enam orang tim pendamping ini tiga di antaranya termasuk Z Arifin menandatangani berita acara terkait dengan tuntasnya pembangunan Pasar Batu Rotok. Berita acara sekaligus rekomendasi tim inilah yang dijadikan acuan PPK proyek dimaksud untuk mencairkan dana. Selain anggota, ketua timnya yakni Ir Iskandar selaku Kepala Bappeda Sumbawa juga telah dimintainya keterangannya. Namun Ande—panggilan pejabat ini tidak ikut menandatangani bahkan tidak mengetahui adanya berita acara dimaksud.

Seperti diberitakan pembangunan pasar di Desa Batu Rotok Kecamatan Batu Lanteh ini merupakan program Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal yang diluncurkan melalui Kegiatan Percepatan Pembangunan Kawasan Perdesaan Terpadu (P2KPT) atau lebih dikenal dengan program Bedah Desa. Pembangunan Pasar Desa di Batu Rotok ini menghabiskan dana sebesar Rp 548 juta yang pengerjaannya dilakukan CV Lampui Jaya dengan masa pengerjaan 75 hari kalender dari 1 Oktober hingga 14 Desember 2014. (Jen/SR)

bankntb DPRD DPRD