Haji Gani, Petani Miskin Jadi Konglomerat

oleh -88 views

Rangkaian Study Tour Batu Hijau Wartawan Sumbawa (Bagian-7)

Maluk, SR (10/09/2015)

H Abdul Gani kini tidak lagi memegang cangkul dan sibuk mengusir burung yang menjadi hama padinya. Ayah tiga orang anak ini sudah menjadi Big Boss (Boss Besar) yang menghabiskan waktunya mengurus 400 orang karyawan, 30 unit bus yang beroperasi melayani antar jemput karyawan PTNNT, dan menyelesaikan sejumlah proyek besar. Kesuksesan yang diraih ini bukan tanpa proses melainkan perjalanan panjang yang penuh onak dan duri. Sebab Haji Gani—demikian sapaan singkatnya, bukan jebolan perguruan tinggi dan bukan pula dari kalangan orang kaya yang mendapat banyak warisan. Dia hanya seorang anak desa terpencil yang lahir dalam kondisi ekonomi pas-pasan, dan hanya mengeyam pendidikan sampai sekolah dasar (SD). Perubahan hidupnya menjadi konglomerat ini berkat campur tangan tuhan dan dukungan penuh PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT).  Wartawan SAMAWAREA dan wartawan Sumbawa lainnya berhasil menyita waktu pria super sibuk tersebut untuk diwawancarai dalam rangkaian Study Tour Batu Hijau, belum lama ini.Jen dan Newmont

Tidak sulit mencari kediaman Haji Gani. Meski letaknya di tengah Kecamatan Sekongkang, namun lebih mencolok dari rumah lainnya. Rumah besar, megah berlantai dua, dipenuhi marmer dan sangat mentereng, adalah salah satu bukti keberhasilannya menjadi pengusaha sukses dan terpandang. Dengan ramah Direktur PT Gita Usaha Mandiri (PT GUM) tersebut menyambut para insan pers yang datang didampingi Arie Burhanuddin, Fachry dan Mulyadi Molet dari Media Relation PTNNT. “Saya adalah petani tulen, profesi turun temurun yang diwariskan orang tua,” kata Haji Gani mengawali kisahnya sembari menyantap kacang rebus dan minuman kaleng.

Menjadi petani saat itu hanya untuk bertahan hidup. Sebab orang tuanya menggarap lahan tadah hujan yang hanya sekali panen dalam setahun. Apalagi, hasil panen itu sulit untuk dipasarkan. Pengepul atau pengusaha gabah enggan melirik hasil pertanian setempat mengingat daerah tempat tinggalnya sangat terisolir tanpa akses transportasi, informasi dan komunikasi. Untuk mencapai ibukota kecamatan, Jereweh (saat itu KSB masih menyatu dengan Kabupaten Sumbawa), warga harus menggunakan kuda. “Saking susahnya, orang yang sakit menemui ajal di jalan dan orang hamil terpaksa melahirkan di jalan, karena jauhnya jarak tempuh dengan rumah sakit,” ujar pria yang menikah Tahun 1988 ini.

Perubahan hidupnya sedikit berubah dan desanya merambat maju ketika PTNNT menemukan cebakan emas dan tembaga pada Tahun 1990 yang kemudian diberi nama Batu Hijau. Berkahnya,  cebakan emas dan tembaga yang akan ditambang ini berada di wilayahnya. Haji Gani mencoba mengadu peruntungan dengan menjadi karyawan eksplorasi pada Tahun 1993 dengan gaji Rp 4.000 per hari atau Rp 250 ribu per bulan. Pekerjaan ini hanya mampu dilakoni Haji Gani selama setahun, selain gajinya tidak cukup membuat asap dapur mengepul, juga sawahnya terbengkalai karena tidak tergarap. Kendati belum ada perubahan dalam hidupnya, tapi desanya lambat laun berbenah. PTNNT sudah mulai membuka akses jalan meski masih pengerasan dan truk sudah berani menembus Sekongkang. Perusahaan tambang yang berkantor pusat di Denver, Colorado, Amerika ini, juga menggelontorkan sejumlah program pemberdayaan untuk menggerakkan ekonomi rakyat setempat. Kesan pertama perusahaan ini membuat masyarakat dan pemerintah semakin terpikat untuk terus memberikan dukungan hingga akhirnya beroperasi penuh Maret 2000. Banyak tenaga kerja yang direkrut, termasuk Haji Gani sempat dipanggil untuk kembali bergabung karena pernah menjadi tenaga ekplorasi. Tapi Ia sudah tidak tertarik dan lebih memilih bertani. “Saya awam soal tambang, dan tidak pernah berpikir seperti apa ke depannya bekerja di tambang, makanya saya tolak,” kata kakek dua orang cucu ini.

Baca Juga  Penyerapan Anggaran Menunjukkan Trend Positif
Rumah Haji Gani saat jadi petani miskin (sebelum ada Newmont)
Rumah Haji Gani saat jadi petani miskin (sebelum ada Newmont)

Setelah dua tahun Newmont beroperasi, rekannya yang kebetulan menjadi Ketua LKMD (kini BPD) menawarkan agar Haji Gani membuat sebuah perusahaan. Lahirlah CV Gita Usaha Mandiri (GUM). Perusahaannya ini menjadi salah satu sub kontraktor PT Gunung Kijang dengan item pekerjaan catering. Usaha ini dijalankan selama tiga tahun, sedikit demi sedikit hidupnya mulai berubah. Haji Gani yang sudah semakin menguasai ilmu bisnis ini semakin terobsesi. Setiap peluang langsung disanggupi. Bahkan dengan beraninya mengajukan profil perusahaan ke PTNNT yang kebetulan sangat mengutamakan dan konsen terhadap pemberdayaan pengusaha lokal. CV GUM akhirnya menjadi suplayer tenaga kerja untuk menangani pekerjaan umum di wilayah kerja PTNNT, sedangkan usaha cateringnya  tetap berjalan. Melihat dedikasi Haji Gani, pada Tahun 2008, PTNNT meminta CV Gita Usaha Madani ditingkatkan menjadi Perseroan Terbatas (PT) GUM. Dengan berubahnya kapasitas perusahaan, PT Newmont langsung memberikan tenaga kerja kepada Haji Gani dengan jumlah yang cukup besar. Hampir semua pemuda dan warga Sekongkang, Maluk dan Benete direkrut sebagai tenaga kerja dari yang tidak sekolah, hanya tamatan SD hingga yang berumur apkir.

Kediaman Haji Gani setelah jadi pengusaha sukses
Kediaman Haji Gani setelah jadi pengusaha sukses

Setelah berjalan beberapa lama, PT GUM mulai mengembangkan sayapnya dengan melirik usaha yang bergerak di bidang transportasi untuk melayani antar jemput karyawan PTNNT dan perusahaan subkon-nya. “Kami memberanikan diri meski tidak punya kendaraan. Semua mobil yang menjadi angkutan umum kami sewa. Bersama teman-teman yang juga pengusaha mendapat jatah dari Newmont masing-masing 5 mobil,” akunya.

Baca Juga  Melalui Pendampingan, Semangat Berkarya UMKM Pasca Bencana Terus Terpacu

Keseriusan Haji Gani Cs menggelitik PTNNT untuk memberikan tantangan baru. Mereka diminta untuk menyiapkan bus ber-AC yang saat itu masih sangat langka. Permintaan PTNNT disanggupi dan terealisasi. Dari usaha ini mulai tampak bahwa Haji Gani akan menjadi OKB alias Orang Kaya Baru. Tahun 2009, Haji Gani sudah memiliki 6 unit bus yang dibeli dengan cara kredit. Dan sampai sekarang sudah mencapai 30 unit termasuk 5 unit yang masih berstatus kredit. Demikian dengan tenaga kerja ikut bertambah, dari 3 orang kini sudah mencapai 400 orang yang digaji mulai dari Rp 1,8 juta sampai Rp 5 juta.

Namun dalam perjalanan usahanya bukan tanpa masalah. Ini terjadi ketika pemerintah Indonesia tidak memperpanjang ijin eksport kosentrat PTNNT. Kondisi ini memberi dampak bagi usahanya dan para pengusaha lainnya. Operasional transportasinya distop dan ini berlangsung selama tiga bulan. Tapi PTNNT tetap memberikan uang standby, dan karyawannya tetap digaji sesuai besarnya basic. “Keadaan ini sempat membuat kami uring-uringan. Alhamdulillah ini tidak berlangsung lama,” ujarnya.

Kini hidup Haji Gani sudah berkecukupan. Dia pun menjadi orang terpandang, membuat berbagai tawaran berdatangan baik untuk menjadi kepala desa maupun wakil rakyat di DPRD. Semua itu ditolak secara halus, dengan alasan belum memiliki kemampuan atau kecapakapan untuk menjadi pejabat karena Ia sadar memiliki SDM yang sangat rendah. “Biarlah saya tetap menjadi pengusaha asalkan memberikan manfaat bagi banyak orang, itu juga salah satu bentuk pengabdian kepada desa dan masyarakat di sini,” ucapnya.

Meski sudah sukses Haji Gani tetap rendah hati. Dia tidak ingin apa yang telah diraihnya membuatnya sombong. Haji Gani sadar bahwa sebelum berharta bukan siapa-siapa. Sebagai pengingat masa-masa pahitnya hidup, Haji Gani sengaja tidak merobohkan atau menjual rumah panggung mungil dan sederhana miliknya yang berada satu komplek dengan rumah megahnya. “Banyak orang yang menawar untuk membeli rumah itu. Sampai kapanpun saya tidak akan menjual, karena dari situ saya memulai hidup dan akan menjadi kenangan sampai anak cucu di masa mendatang,” tutupnya. (Jen/SR)

bankntb DPRD DPRD