Diusir Sekda Karena Perwakilan Pendemo Tidak Beretika

oleh -4 views

Sumbawa Besar, SR (10/09/2015)

Sekda Sumbawa, Drs H Rasyidi terpaksa mengusir perwakilan warga Batu Lanteh yang menggelar aksi demo di Kantor Bupati Sumbawa, Kamis (10/9). Pasalnya salah satu pentolan aksi tersebut dinilai tidak beretika dan mengeluarkan kalimat yang mengganggu adab kesopanan. Karena itu perlu adanya klarifikasi agar tidak muncul opini yang bersifat sepihak dan tendensius.

Menurut Kabag Humas dan Protokol Setda Sumbawa, Rachman Ansori M.SE kepada SAMAWAREA, bahwa pemerintah daerah sangat mengapresiasi aksi masyarakat Batu Lanteh dalam menyuarakan aspirasinya. Dan diyakini bahwa aspirasi tersebut adalah murni suara rakyat yang menginginkan perubahan. Saat masyarakat Batu Lanteh menggelar aksi di Kantor Bupati, Bupati Sumbawa dan pimpinan lainnya sedang berada di luar kantor dan sepengetahuan Kabag Humas tengah meninjau persiapan Festival Moyo di Taman Kerato yang akan digelar, Jumat (11/9) besok. Pejabat yang ada di kantor hanya Sekda Drs H Rasyidi.

Kabag Humas dan Protokol Setda Sumbawa, Rachman Ansori M.SE
Kabag Humas dan Protokol Setda Sumbawa, Rachman Ansori M.SE

Ansori—sapaan karib Kabag Humas, mengaku bersama Kasat Intelkam Polres Sumbawa telah melaporkan tentang adanya aksi demo masyarakat Batu Lanteh kepada Sekda. Selanjutnya Sekda merespon laporan itu dengan menyatakan kesediaannya untuk menerima perwakilan pendemo di ruang kerjanya. Saat itu Sekda didampingi Kadis PU Ir A Rahim dan Kabid Bina Marga M Nur Hidayat selaku pihak yang membidangi tugas-tugas infrastruktur daerah.

Namun belum sempat terjadi pertemuan, salah satu dari tiga perwakilan aksi yang masuk ke ruang Sekda langsung mengucapkan kata-kata yang tidak beretika bahkan dengan intonasi yang meninggi. “Sekda enak-enak makan-makan, kami di Batu Lanteh sedang kesulitan,” demikian sepenggal kalimat yang dilontarkan perwakilan aksi, Hasrun Altebas. Kebetulan saat itu Sekda sedang menikmati snack “jagung marning” yang tersedia di atas meja yang juga disiapkan untuk para tamunya yaitu perwakilan aksi. Kesan ini ditunjukkan Sekda agar pertemuan tersebut berlangsung santai dan penuh kekeluargaan. Namun karena pernyataan itu Sekda merasa tersinggung sehingga meminta para perwakilan pendemo keluar dari ruangannya. “Intinya kita tidak melarang dan mempersilakan masyarakat memiliki kebebasan dalam berdemokrasi dan mengeluarkan pendapat, tapi etika harus tetap dijunjung tinggi,” ucap Ansori seraya menyampaikan terima kasih kepada aparat kepolisian yang telah menjaga sehingga aksi demo berlangsung dengan tertib.

Baca Juga  Dua Program Jarot-Moklis akan Pacu Pertumbuhan Ekonomi

Jalan Batu Lanteh Dihotmix 2016

Di bagian lain Ansori menjelaskan, bahwa aspirasi masyarakat Batu Lanteh sebenarnya sudah terakomodir, karena pada aksi sebelumnya juga menyampaikan hal yang sama terkait dengan infrastruktur jalan dan telah mendapat jawaban. Pada APBD Perubahan Tahun 2015, sudah didesain DED (Detail Engineering Design). DED ini dibuat untuk menentukan berapa dana yang terserap dalam pengerjaan infrastruktur jalan dimaksud yang telah direncanakan akan dikerjakan pada Tahun 2016. “Program Batu Lanteh itu ada 9 segmen. Inilah yang dibuat DED nya agar diketahui berapa besar dana untuk membiayainya,” ungkap Ansori.

Untuk dikerjakan menggunakan dana APBD-P menurutnya, sangat tidak memungkinkan. Selain dana terbatas juga waktu yang ada juga terbatas. Namun demikian perhatian pemerintah bagi pembangunan di Batu Lanteh menjadi prioritas, tentunya berdasarkan perencanaan dan tetap berada pada jalur aturan yang ditetapkan. (Jen/SR)

bankntb DPRD DPRD