Sehari Batu Hijau Hasilkan 40 Kilogram Emas

oleh -52 views

Rangkaian Study Tour Batu Hijau Wartawan Sumbawa (Bagian-1)

Batu Hijau, SR (04/09/2015)

Larangan ekspor beberapa mineral yang belum diolah dan pajak yang lebih tinggi untuk beberapa komoditas yang dikirim ke luar negeri yang diberlakukan Pemerintah Indonesia, sangat berdampak pada keberlangsungan operasi tambang di Batu Hijau, PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT). Karena aturan itulah PTNNT sempat tidak bisa mengeksport konsentrat selama berbulan-bulan yang berdampak pada dirumahkannya ribuan karyawan, ratusan pengusaha lokal gulung tikar, ekonomi setempat pun melambat. Sungguh dampak yang luar biasa.

Wartawan dari berbagai media study tour di Batu Hijau, Maluk, Sumbawa Barat
Wartawan dari berbagai media study tour di Batu Hijau, Maluk, Sumbawa Barat

Untuk mengetahui kondisi Batu Hijau saat ini Wartawan SAMAWAREA dan sejumlah wartawan lokal lainnya mendapat kesempatan untuk melakukan study tour selama dua hari, 2-3 September. Study tour di lokasi proyek Batu Hijau tersebut untuk melihat dari dekat aktivitas pertambangan perusahaan yang berkantor pusat di Denver, Colorado, Amerika Serikat ini. Tak dipungkiri, keberadaan PTNNT berdampak positif bagi pembangunan ekonomi di wilayah NTB khususnya KSB. PTNNT telah mampu merubah wajah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sebagai daerah baru hasil pemekaran Kabupaten Sumbawa yang dulunya terbelakang, kini sejajar dan patut diperhitungkan oleh daerah lainnya. Bukan hanya itu, dalam kunjungan tersebut para praktisi pers ini juga melihat aktivitas kelompok usaha masyarakat hasil binaan PTNNT yang sampai sekarang masih terus berkiprah, dan mampu membuka lapangan pekerjaan.

************************

Concentrator, Pabrik Pengolahan Material Tambang PTNNT
Concentrator, Pabrik Pengolahan Material Tambang PTNNT

Sedikitnya 11 orang wartawan perwakilan dari berbagai perusahaan pers di Sumbawa tiba di Terminal Benete, sekitar pukul 13.00 Wita. Para jurnalis yang didampingi Fachry dari Kantor Perwakilan PTNNT Sumbawa, disambut Arie Burhanuddin dan Molet Mulyadi Nur dari Media Relation (Medrel) yang sudah sejak pagi menunggu di Kantor Admin 1 Benete. Sembari melepas penat setelah menempuh perjalanan tidak kurang dari 3 jam dari Kota Sumbawa, wartawan mendapat penjelasan singkat mengenai rute dan tujuan yang akan dikunjungi. Di hari pertama ini rombongan langsung diajak ke Konsentrator–pabrik pengolahan hasil tambang PTNNT. Untuk mencapai lokasi tersebut, rombongan menempuh perjalanan selama satu jam. Sebenarnya perjalanan ini dapat dipersingkat jika tidak dibatasi aturan bahwa laju kendaraan maksimal 40 kilometer per jam. Memasuki areal Konsentrator, tercium bau yang cukup menyegat, dan dapat dipastikan berasal dari zat kimia. Bnelum lagi deru mesin pengolah bahan tambang yang cukup mengganggu pendengaran.

Baca Juga  Bunda Niken Ajak Pelaku Usaha Perluas Pangsa Pasar
Budi Satriawan
Budi Satriawan

Budi Satriawan–Senior Metalurgyst saat menerima rombongan, mengatakan, aroma menyengat tersebut berasal dari proses flotasi yaitu metode pengambilan mineral. Aroma tersebut tidak berbahaya bagi kesehatan, karena proses pengolahannya tidak menggunakan bahan kimia secara berlebihan, aman dan membantu meminimalkan dampak lingkungan. Sedangkan suara gaduh yang cukup mengganggu pendengaran bersumber dari dua mesin penggerus yang dinamakan Semi Autogenous (SAG) Mill yang masing-masing memiliki 4 Ball Mill. Mesin ini terus bergerak selama 24 jam untuk menghancurkan bijih batuan menjadi partikel halus. Di tempat ini rombongan dapat melihat dari dekat proses pengolahan batuan mulai dari penghancuran, pengambilan mineral berharga, hingga peningkatan kadar konsentrat. Dijelaskan Budi, bantuan yang berasal dari Mining dihancurkan menggunakan SAG hingga ukuran tertentu, selanjutnya diproses flotasi yang fokusnya mengambil mineral berharga atau konsentrat sebanyak-banyaknya terutama tembaga dan emas. Untuk bantuan kandungan tembaganya yang medium dinaikkan untuk dimurnikan lagi melalui proses cleaning. Hasilnya ini disebut dengan final concentrate (produk konsentrat).

Hasilkan 40 Kilogram Emas Per Hari

Untuk diketahui, kapasitas produksi batuan di pabrik pengolahan mineral (konsentrator) ini rata-rata mencapai 120 ribu ton per hari yang menghasilkan sekitar 1.500 hingga 2000 ton konsentrat. Semua kandungan konsentrat sudah dianalisa dan dimonitor oleh sedikitnya empat orang petugas yang berada di Control Room. Petugas ini memonitor proses penggilingan batuan, flotasi dan cleaning. “Dari layar monitor terlihat berapa batuan yang masuk untuk digerus dan berapa tingkat penghancurannya. Layar ini juga memonitor berapa tingkat pengambilan mineral berharganya, hingga dari daerah mana saja material diperoleh. Bahkan angka kandungan tembaga dan emas baik yang masuk dalam prosesing, yang dihasilkan, maupun yang menjadi tailing juga terdeteksi. Semua termonitor. Jadi kandungan mineral ini tidak hanya dianalisa di laboratorium, tapi kami memiliki Online Analyzer dan alat pengukur kadar batuan termasuk mengetahui berapa ribu ton mineral dari Cruiser yang masuk,” beber pria ramah ini.

Baca Juga  NTB Tuan Rumah Komodo Exercise 2018
Control Room, tempat memonitor kandungan, jumlah  dan daerah asal material
Control Room, tempat memonitor kandungan, jumlah dan daerah asal material

Dari monitor ini diketahui berapa kadar tembaga dan emas. Untuk tembaga kadarnya memiliki rata-rata 29 persen dari produk konsentrat yang dihasilkan setiap hari. Sedangkan emas 20 gram per ton. Jika dikalkulasikan dari 2000 ton konsentrat perharinya dapat menghasilkan 580 kilogram tembaga dan 40.000 gram atau 40 kilogram emas setiap harinya. “Kandungan tembaga dan emas mulai dari bentuk batuan sudah kita analisa. Dan batuan yang dihasilkan dari mining semua termonitor termasuk proses pengolahannya. Ini dilakukan untuk optimasi pengolahan di pabrik,” tandasnya.

Budi mengakui kandungan tingkat produksi batuan saat ini cukup rendah karena lebih sulit untuk diolah. Demikian dengan kandungan tembaganya juga rendah. Pasalnya tembaga yang dihasilkan adalah tembaga oksida. Ini terjadi karena kapasitas Mining lebih besar daripada kapasitas produksi. “Tidak semua batuan yang dihasilkan di Mining mampu diproduksi karena kapasitas produksinya sangat terbatas. Jadi yang tidak tertampung akan diangkut dan dikumpulkan ke tempat penampungan menunggu giliran pengolahan. Nah, selama proses penempatan ini, material tersebut mengalami oksidasi. Inilah yang membuat kandungan tembaganya rendah,” paparnya. (Jen/SR)

bankntb DPRD DPRD