IISBUD Beri Penghargaan Dua Tokoh Budaya

oleh -45 views

Sumbawa Besar, SR (08/07/2015)

Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Samawa Rea ((IISBUD Sarea) memberikan apresiasi kepada dua tokoh budayawan nasional asal Kabupaten Sumbawa. Mereka adalah Musbiawan dan Dinullah Rayes. Apresiasi ini dalam bentuk uang tunai masing-masing Rp 10 juta yang diserahkan langsung oleh Rektor IISBUD, Ahmad Yamin SH MH dalam kegiatan Buka Puasa Bersama dirangkaian dengan orbrolan budaya bersama Taufik Rahzen—tokoh dan budayawan nasional yang juga asal Sumbawa, kemarin malam.

Selain Dr H Zulkieflimansyah M.Sc—pendiri UTS dan IISBUD, sejumlah pejabat, budayawan dan seniman daerah hadir, serta tokoh politik, bahkan calon bupati yang akan bertarung pada Pilkada Sumbawa Desember mendatang. “pemberian penghargaan atau apresiasi seperti ini akan menjadi tradisi di IISBUD Sarea ini, bukan hanya kepada tokoh seniman dan budaya tapi juga tokoh sejarah, sosial, politik dan ekonomi,” cetus Rektor IISBUD, Ahmad Yamin yang populer disapa Young.   Penghargaan yang diberikan tersebut, sebagai apresiasi atas dedikasi kedua tokoh ini di bidang seni dan budaya yang tak pernah lekang dimakan usia. Ini menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi anak bangsa dalam menghasilkan sebuah karya.

IISBUD Puasa 2Sementara Musbiawan yang didaulat memberikan orasi politik berjudul “taraweh dan sandal jepit”. Orasi kocak ini mengupas bagaimana prilaku anak-anak sekarang yang semakin kreatif. Mereka senang sholat berjamaah di masjid dengan berbuat kreatif menyembunyikan sandal temannya, mengambil sandal yang baru dan meninggalkan yang jelek, serta menukar sandal satu dengan sandal lainnya sehingga dalam satu pasang berlainan. “Ini kreatif tapi kreatif yang salah,” ucapnya.

Baca Juga  Pengawas Dikbud Pantau UASBN di SMAN 1 Plampang

Di bagian lain pencipta lagu Opio Ode-ode Tahun 1974 ini menyoroti fenomena banyaknya pencipta seni dan budayawan beralih menjadi seorang politisi dan artis. Karena itu banyak pos-pos kosong karena ditinggal para punggawa budaya. Untuk mengisi pos-pos yang terpaksa kosong ini, jawabannya ada pada IISBUD Sarea yang nantinya akan melahirkan seniman dan budayawan berbakat di masanya. Dalam kesempatan itu Dinullah Rayes juga diberikan panggung untuk membacakan puisi. Meski telah berusia lanjut, namun hentakan suara atau intonasi bacanya masih semangat seperti usia muda dahulu.

Taufik Rahzen, Budayawan Nasional asal Sumbawa
Taufik Rahzen, Budayawan Nasional asal Sumbawa

Obrolan Budaya Bersama Taufik Rahzen

Setelah berbuka puasa, kegiatan itu dilanjutkan Obrolan Budaya bersama Taufik Rahzen mengupas sejarah Sumbawa sejak jaman kerajaan, munculnya satonda dan sangiang, serta Sumbawa dan pengaruhnya pada Indonesia dan dunia. Selain itu

TR—sapaan akrab kakak kandung Ridha Rahzen—CEO Gaung NTB ini, menyinggung soal letusan Tambora Tahun 1815 yang maha dahsyat sehingga merubah wajah dunia. Menurutnya seandainya Tambora tidak meletus mungkin tidak ada Amerika Serikat karena akan tetap menjadi negara kesatuan bukan federal. Tidak juga mungkin ada krisis ekonomi, tidak mungkin ada Eropa yang kala itu akan menjadi emporium Napoleon, dan tidak mungkin ada endemik kolera yang memusnahkan banyak orang sehingga merubah arah tradisi kesehatan dunia. Jika Tambora tidak meletus, tidak mungkin ada narkotika karena beberapa negara yang mengalami kelaparan yang candu saat itu masih diproduksi dalam jumlah terbatas akhirnya menjadi perdagangan utama. “Karenanya dengan melihat sejarah itu, kita mampu untuk menciptakan sesuatu di masa depan dalam upaya membangun suatu peradaban baru,” demikian TR. (Jen/SR)

bankntb DPRD DPRD