Belajar dari Italia, Sumbawa Siap Kembangkan Ternak Kerbau

oleh -17 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (28/06/15)

Populasi ternak kerbau di Kabupaten Sumbawa yang kian menurun, bakal teratasi dalam waktu beberapa tahun mendatang. Keyakinan ini setelah Bupati Sumbawa bersama rombongan terdiri dari pimpinan DPRD, Ketua Komisi II, Kadis Peternakan dan beberapa pejabat terkait lainnya bertolak ke Italia untuk melihat dari dekat sekaligus belajar secara khusus mengenai pengembangan ternak kerbau di sana.

amdal
H Ilham Mustami S.Ag, Wakil Ketua DPRD Sumbawa
H Ilham Mustami S.Ag, Wakil Ketua DPRD Sumbawa

Wakil Ketua DPRD Sumbawa, H Ilham Mustami S.Ag yang baru tiba dari Itali kepada SAMAWAREA, mengaku kagum dengan pengelolaan dan pemeliharaan kerbau di negeri Spaghetti tersebut. Pola pemeliharaannya pun sangat berbeda dengan pola yang diterapkan di Indonesia khususnya di Kabupaten Sumbawa. Di sana pemilik ternak menjadikan kerbau sebagai penghasilan utama, sedangkan di daerah ini dijadikan sampingan dan tabungan. Mengenai pakan ternak, peternak di sana tidak merasa kesulitan. Areal pertanian ditanami rumput dan gandum hanya untuk dijadikan bahan makanan ternak, bukan untuk manusia. “Kalau kita di sini sawahnya untuk kebutuhan utama, ternaknya sampingan. Ternak dibiarkan liar mencari makanan secara mandiri. Inilah yang menyebabkan pola pemeliharaannya yang berbeda. Di Itali hasil persawahannya untuk konsumsi kerbau, sebaliknya di sini untuk kita makan sendiri lalu kerbaunya dijual untuk keperluan lain,” kata politisi Hanura ini. Dengan pola pemeliharaan tersebut menyebabkan angka populasi kerbau di Itali melonjak tajam, dan angka kematian nol persen.

Baca Juga  Disambangi Kapolres dan Ibu Bhayangkari, Trauma Anak Korban Gempa Terobati

Selanjutnya teknis pemeliharaannya sangat sederhana dan sangat bisa diterapkan di Sumbawa. Di Itali, petani membeli makanan untuk ternak. Anaknya ketika lahir dipisahkan dari induknya. Induknya diperah susunya, dan susu itu dijual. Hasil dari pejualan susu induknya dibeli susu kaleng untuk minum anak kerbau. Jika dihitung secara ekonomi cara itu masih lebih menguntungkan. Masih banyak selisih menjual susu induknya dengan membeli susu untuk anaknya. Di Sumbawa malah sebaliknya, pemilik ternak tidak pernah melihat anak kerbau lahir dan tidak pernah memeliharanya serta memberikan asupan tambahan. Kondisi ini menyebabkan angka kematian kerbau sangat tinggi mencapai 70 persen dari angka kelahiran. Kemudian yang sangat berbeda lagi, di sana sudah menggunakan sistem dan teknologi IB (Inseminasi Buatan) dengan tingkat keberhasilan 99 persen. Di Sumbawa memang sudah dipraktekkan hanya tingkat keberhasilanya masih 20 persen.

Untuk kualitas genetic, petani di Itali sangat selektif. Di sana kerbau yang lahir tiga bulan dengan tinggi tidak mencapai satu meter akan dikonsumsi untuk pedaging dan tidak digunakan untuk memperbanyak keturunan. Selanjutnya kerbau yang besar dijadikan induk sehingga wajar dalam umur tiga bulan kerbau itu sudah mencapai berat 100 kg. “Berbeda dengan kita di sini, kerbau besar dijual karena harganya tinggi, yang kecil-kecil dikawinkan, sehingga anak yang lahir kerdil. Kelemahan kita di sini pemilihan kualitas dan rekayasa yang tidak ada,” jelas Haji Ilham, seraya menambahkan bahwa pengembangan kerbau di Itali selalu ditopang dengan riset. Dan Itali adalah negara dengan riset terbaik tidak hanya di Eropa melainkan di dunia.

Baca Juga  PKK NTB Ingatkan Bahaya Kanker Serviks

Untuk diketahui rombongan di Italia mengunjungi beberapa tempat di antaranya Hoterotodo sebuah desa kecil untuk mempelajari bagaimana pengelolaan ternak yang sangat sederhana kemudian pengadaan dan perlakuan induk dan anak yang baru lahir, serta produksi pakan. Kemudian berlanjut ke Perujia—desa sangat terpencil, untuk mempelajari tentang proses inseminasi buatan (IB) untuk peningkatan genetik. Rombongan juga menyempatkan diri ke Latina dan Napoli untuk mempelajari bagaimana produk olahan jadi yang dihasilkan kerbau menjadi produk yang bernilai tinggi.

Dari kunjungan ini banyak hal yang dapat diterapkan di Sumbawa khususnya bagi petani peternak. “Kami di DPRD akan berupaya merealisasikan pengetahuan dan pengalaman kunjungan ke Italia itu untuk diterapkan di Sumbawa. Salah satunya pengelolaan pakan, sumber air, dan seleksi bibit unggul baik pejantan maupun betina,” katanya.

Apalagi Sumbawa sudah memiliki laboratorium ternak di Kecamatan Maronge yang didukung beberapa kelompok petani ternak di sekitar lab untuk mencoba menerapkan pola pemeliharaan dan pengembangan ternak seperti ini Italia. “Ini akan menjadi pliot project bagi pengembangan ternak kerbau di Kabupaten Sumbawa,” demikian Haji Ilham. (*)

iklan bapenda