Menakar Kekuatan Para Figur Jelang Pilkada Sumbawa

oleh -2 views
Kursi Panas !!!
bankntb

Sumbawa Besar, SR (27/06/15)

Berapa paket yang akan muncul pada Pilkada Sumbawa hingga kini masih menjadi teka-teki karena sejauh ini belum ada jawaban yang pasti paket mana saja yang akan bertarung. Meski sudah ada beberapa paket yang muncul ke permukaan dan hampir pasti maju, namun semua itu akan terjawab ketika tibanya pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Namun diprediksikan hanya ada tiga pasangan yang siap bersaing pada 9 Desember 2015 mendatang. Mereka adalah pasangan H Asaat Abdullah ST—Chandra Wijaya Rayes ST (Saatnya Sumbawa Berjaya) yang dipastikan diusung Hanura, Nasdem, PKPI, dan PPP. Selanjutnya H Husni Jibril B.Sc—Drs H Mahmud Abdullah (Husni—Mo) hampir pasti diusung PDIP dan Demokrat. Dan Ir H Mokhlis M.Si—Baijuri Bulkiah SH (MUJUR) yang siap digolkan Gerindra—PAN. Apabila benar, majunya tiga pasangan ini akan menjadikan Pilkada Sumbawa semakin menarik dan berkualitas. Kekuatan tiga pasangan ini nyaris setara dengan basis massa yang potensial. Inilah yang membuat bingung kalangan birokrat di lingkup Pemerintah Kabupaten Sumbawa. Dukungan kalangan birokrasi bakal terpecah bahkan terperangkap pada pilihan yang sulit. Sebab tokoh-tokoh yang maju ini memiliki sejarah dan hubungan emosional yang sangat kuat dengan kalangan birokrasi. Seperti Haji Asaat yang sudah berkarat di Dinas PU yang selalu berhubungan dengan sejawatnya di instansi lain baik dalam kerangka persahabatan maupun koordinatif. Hubungannya ini semakin kuat karena didukung langsung Drs H Jamaluddin Malik yang hingga kini masih menjabat sebagai Bupati Sumbawa. Sudah pasti pasangan ini memiliki basis birokrat yang cukup kuat. JM—sapaan bupati pasti menempatkan figur yang duduk di jabatan strategis adalah orang yang loyal kepadanya. Dan sudah pasti pula yang diberikan jabatan strategis ini adalah figur yang dianggap mampu dan memiliki hamparan massa yang luas, sehingga diharapkan secara bergerilya mampu mendukung pasangan yang diusung sang bupati. Ini akan semakin diperkuat dengan mutasi terakhir masa pemerintahan JM—Arasy yang kabarnya dilaksanakan usai lebaran. JM mungkin bisa menguasai birokrat senior yang dianggap masih sangat loyal. Tapi di bawah itu bisa jadi melirik pasangan yang bukan pasangan dukungan JM. Mereka adalah kalangan birokrat yang mungkin menjadi korban mutasi, kaum ‘sakit hati’ maupun birokrat yang ingin mendapatkan promosi jabatan tertentu namun di pemerintahan JM sangat sulit untuk diraih. Para birokrat ini akan terbagi ke pasangan Husni-Mo’ karena tak dipungkiri H Mahmud Abdullah (Haji Mo) adalah mantan Sekda yang pernah berjasa bagi segelintir pejabat pada masanya. Sebagiannya lagi ke Mokhlis—Baijuri. Sebab Haji Mokhlis adalah mantan Penjabat Bupati Sumbawa yang pernah menguasai birokrasi meski singkat tapi cukup sukses. Prestasi terbesarnya adakah mengantarkan Pilkada Sumbawa tiga putaran dalam kondisi sangat kondusif. Tentu ada beberapa pejabat yang menjadi pengikutnya saat itu. Bahkan yang masih melekat di hati para birokrat dan masyarakat bahwa Haji Mokhlis adalah pemimpin yang dianggap santun dan ramah.

amdal

Lalu siapa yang paling memiliki kans ? Tentu terlalu dini untuk bisa membuat kesimpulan karena ketiganya setara. Namun asumsi-asumsi yang tercetus dan berkembang liar bisa menjadi acuan untuk berprediksi.

Baca Juga  Kagumi Dadong Lepo, Koster Berkomitmen Lestarikan Kesenian Jembrana

Pasangan Haji Asaat—Jaya diyakini beberapa kalangan sebagai pasangan yang cukup kuat dan populer. Sudah jauh hari pasangan ini mempromosikan diri karena sudah memiliki ‘tiket’ untuk melenggang ke Pilkada, sehingga memiliki cukup waktu untuk bergerak. Berbeda dengan pasangan lain yang masih bergelut dengan negosiasi untuk mendapatkan ‘tiket’. Tim yang mendukung pasangan inipun adalah tokoh-tokoh berpengaruh di daerah ini. Sebut saja Drs H Jamaluddin Malik (Bupati) yang dikenal memiliki kekuatan basis massa hampir merata di seluruh wilayah Sumbawa, H Mustami H Hamzah (mantan Ketua DPC PDIP Sumbawa yang kabarnya menjadi Ketua PKB) telah diplot untuk menguatkan basis di wilayah utara, H Ilham Mustami S.Ag (Wakil Ketua DPRD) memperkuat wilayah timur, Kamaluddin ST M.Si (Wakil Ketua DPRD Sumbawa) wilayah kota, serta dua mantan Wakil Gubernur NTB, H Bonyo Thamrin Rayes dan H Badrul Munir plus Chandra Wijaya Rayes (calon wakil bupati) yang dipasang untuk menyaingi tim paket lain di wilayah barat. Belum lagi para pejabat birokrasi yang secara diam-diam dan tersembunyi ikut menyukseskan pasangan ini sebagai bentuk balas jasa atau ingin berjasa agar mendapat jatah promosi jika kelak pasangan ini terpilih. Mereka tersebar di semua zona termasuk wilayah selatan. Namun kekuatan pasangan ini bisa terpecah dengan saingan terberatnya Husni—Mo. Persaingan dua pasangan ini pasti sangat ketat, bisa jadi ini perang ‘harga diri’. Sebab sudah menjadi rahasia umum jika keduanya memiliki sejarah ‘konflik’ politik yang sampai sekarang belum berkesudahan. Semua orang tahu bagaimana ‘konflik’ Haji Mo’ dengan Jaya (Chandra Wijaya Rayes) di internal Nasdem. Karena konflik inilah yang membuat karier politik Haji Mo’ pada Pilkada ini nyaris tamat, dan harus berkelana untuk mencari kendaraan politik lain yang konsekwensinya terdepak dari partai yang dicintai dan dibesarkannya. Kemudian Haji Husni juga terlibat ‘konflik’ dengan Mustami H Hamzah pasca Musda PDIP beberapa bulan lalu. Mustami yang dinilai berseberangan dengan kubu Husni dipecat dari kader PDIP dan kini telah menjadi tim sukses paket Saat—Jaya. Untuk ukuran kekuatan, Husni-Mo memiliki basis yang kuat di wilayah barat. Selain Haji Husni, di sana ada Lalu Budi Suryata (Ketua DPRD Sumbawa), dan A Rafiq (ketua DPC PDIP Sumbawa). Kekuatannya di basis barat ini sudah teruji yang dibuktikan keberhasilan PDIP mendapatkan dua kursi di wilayah barat setiap pemilu legislative. Untuk wilayah kota dan lainnya, Haji Mo’ bersaing dengan JM (bupati). Keduanya berasal dari rumpun yang sama dan memiliki kedekatan kekerabatan yang sangat kuat. Dengan keberadaan keduanya yang kini sebagai ‘lawan’ tentu rumpun satu akan terbelah menjadi dua, sehingga tidak ada dari keduanya yang berani mengklaim mendapatkan suara bulat. Haji Mo juga dikenal sebagai tokoh selatan dan sudah pasti memiliki basis massa yang kuat wilayah tersebut. Dengan sejarah konflik ini akan memantik persaingan tajam antar dua pasangan ini. Mereka bisa saling intip dan saling fokus, sehingga tidak fokus dan tidak menyadari bahwa ada pasangan lain yakni MUJUR (Mokhlis—Baijuri) yang terus melaju. MUJUR bisa jadi diuntungkan dengan ‘perseteruan terselubung’ antara pasangan Husni-Mo’ dan Saat—Jaya. Kekuatan pasangan ini tak bisa dianggap enteng. Mokhlis—BJ (sebutan Baijuri Bulkiah) adalah perpaduan dan representasi kekuatan barat—timur. Selain kekuatan itu, yang bisa dijual adalah ketokohan keduanya. Mokhlis yang dikenal tokoh santun, cerdas dan religius sangat dirindukan masyarakat saat ini yang mungkin jenuh dengan kondisi masa lalu. Masyarakat ingin ada warna yang berbeda. Demikian dengan BJ, figure yang dikenal tegas, konsisten, berani dan tidak ragu. BJ bisa jadi adalah tokoh yang cukup disegani pasangan lawan, karena jiwa pendobrak, juang dan tak kenal putus asa untuk meraih sesuatu. Keberadaan BJ akan menyeimbangi kekuatan di wilayah timur.  Sedangkan Mokhlis di wilayah barat mampu menyaingi pasangan lain yang juga memiliki basis yang sama. Demikian dengan zona lain seperti utara, selatan, dan tengah (kota) yang sudah disambangi secara intensif. Uniknya, pasangan ini lebih menyentuh kalangan akar rumput, terutama para petani yang mendambakan pemimpin yang paham pertanian. Mereka ingin harga padi tidak anjlok, pupuk subsidi tersedia, bebas tengkulak, dan petani sejahtera. Sebab selama ini hasil panen melimpah namun kesejahteraan yang dirasakan justru tidak sepadan. Inilah yang membuat ekspektasi masyarakat yang tinggi terhadap pasangan cerdas dan tegas tersebut untuk menjadi pemimpin selanjutnya di daerah ini.

Baca Juga  Pilkada Digelar 9 Desember, KPU Sumbawa Lanjutkan Tahapan Penyelenggaraan

Namun bukan berarti pasangan ini tidak memiliki konflik politik dengan lainnya. Misalnya konflik internal antara Baijuri Bulkiah dengan Syamsul Fikri-Ketua DPC Demokrat Sumbawa. Fikri dinilai sangat andil dalam upaya menggagalkan BJ (sapaan Baijuri) untuk menggunakan kendaraan Demokrat berkoalisi dengan Gerindra yang mengusung H Mokhlis. Kubu BJ menganggap Fikri bertindak sepihak mengangkat Haji Mo’ sebagai kader Demokrat sekaligus memberikan dukungan ‘mesin partai’ kepada mantan Sekda itu untuk berpasangan dengan Haji Husni dari PDIP. Perang dingin BJ dengan Fikri bukan baru ini saja, sudah terjadi sejak Pileg lalu. BJ maju dan sukses menjadi anggota DPRD Provinsi NTB tidak sepenuhnya didukung mesin partai (Demokrat) melainkan dukungan tim secara mandiri. Dan pada Pilkada ini BJ pun akan kembali membuktikannya bahwa tanpa Fikri Cs, timnya akan tetap jalan, bahkan lebih solid dari mesin partai. (*)

iklan bapenda