BPJS Mementingkan Surat Rujukan Daripada Nyawa Pasien

oleh -5 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (05/06/15)

Pelayanan BPJS terus dikeluhkan masyarakat. Sebab BPJS kerap mempersulit masyarakat dan lebih mementingkan prosedur daripada nyawa pasien. Terkadang pelayanan menjadi lambat karena direcoki dengan birokrasi yang kaku. Bahkan kerap terjadi saling lempar tanggung jawab antara pihak rumah sakit dan BPJS membuat pasien yang notabene pemegang kartu BPJS menjadi terlantar. BPJS selalu berlindung di balik aturan, padahal sebenarnya masih ada ruang untuk memberikan toleransi.

amdal

Seperti yang dialami salah seorang warga Kelurahan Bugis Kecamatan Sumbawa, Zainuddin. Saat itu, Rabu (04/06/15) siang, dia membawa anak bungsunya yang berumur 4 tahun ke RSUD Sumbawa, sebab sejak kemarin suhu tubuhnya mengalami panas tinggi.

Saat di loket pendaftaran, dia disarankan untuk ke Poli Umum. Menurut petugas loket percuma jika dibawa ke IGD karena nantinya juga disarankan ke poli karena anaknya dikategorikan tidak termasuk kondisi yang gawat. Ketika di Poli Umum, dia diarahkan ke loket BPJS karena tercatat sebagai peserta BPJS Mandiri dengan pelayanan kelas I. Di loket BPJS, dia disarankan untuk meminta rujukan dari dokter praktek yang dipilih sebagai dokter dalam pelayanan BPJS, dr Kosala Putra. Namun, dokter bersangkutan sedang berada di luar daerah dan disarankan lagi menemui dokter pengganti, dr Irfan. Namun dokter Irfan sedang melaksanakan tugas di Puskesmas Lantung, dan baru masuk praktek di kota pada sore harinya. Dengan kondisi anaknya yang terbilang parah ini tidak mungkin dirinya menunggu rujukan dari dokter hingga sore harinya. Sementara BPJS tidak akan melayani jika tidak ada rujukan meski surat itu menyusul pada sore harinya ketika Dokter Irfan sudah turun ke kota. Ironisnya lagi petugas loket BPJS justru meminta dia untuk membawa anaknya sore hari bersamaan dengan adanya surat rujukan itu. Tentu saja ayah tiga anak itu marah besar karena petugas lebih mementingkan prosedur yang sebenarnya bisa dibijaksanai ketimbang nyawa pasien. Sebab anaknya tersebut membutuhkan penanganan segera.

Baca Juga  Rekanan Rumah Adat KSB Jadi Tersangka

Akhirnya, dia berinisiatif untuk membawa anaknya langsung ke UGD dan mendaftar sebagai pasien umum. Setelah diperiksa, suhu tubuhnya mencapai 38,1 derajat celcius. Saat ini anaknya juga sudah didiagnosa oleh dokter menderita penyakit malaria vivak. Setelah dokter melakukan pemeriksaan dan disarankan untuk diopname.

Dia juga menyesalkan sangat mudahnya memvonis kondisi pasien tidak termasuk dalam kategori kegawatdaruratan hanya dengan melihat kasat mata, tanpa melakukan diagnosa lebih mendalam. Terkadang pasien BPJS ditolak ditangani di IGD hanya karena penglihatan dokter tanpa diagnosa. Hasil diagnosa tidak bisa diketahui secepatnya dan perlu dilakukan pemeriksaan. ‘Kami sebagai peserta BPJS hanya meminta haknya, namun terbentur banyak aturan,” keluhnya.

Ia meminta pelaksana BPJS memperbaiki pelayanan tersebut. Jangan sampai banyaknya aturan justru membahayakan nyawa pasien karena lambatnya penanganan. Selain itu apa yang disosialisasikan oleh pelaksana BPJS tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka hanya menyampaikan kelebihan BPJS, masyarakat tidak dijelaskan secara gamblang mengenai prosedur apa yang harus dilakukan ketika ingin mendapatkan pelayanan medis. BPJS hanya mengejar kuantitas bagaimana pendaftar itu semakin meningkat namun mengabaikan kualitas pelayanan.

Sementara Kepala BPJS Sumbawa, Abdul Muin yang dihubungi tetap bersikukuh harus menjalankan aturan, meski harus mengabaikan pelayanan. Menurutnya daftar rujukan itu menjadi dasar untuk menangani pasien. Lucunya lagi, Muin menyatakan BPJS mandiri dengan dokter pribadi hanya bisa dilayani saat dokter bersangkutan praktek saja. Padahal orang sakit tidak mengenal waktu dan bisa kapan saja. “Tidak ada toleransi harus berjalan sesuai aturan,” tukasnya. (*)

iklan bapenda