Buah Tangan dari Chatuchak

oleh -7 views
bankntb

Akhir Perjalanan UTS Mengunjungi Thailand

Bangkok, SR (04/06/15)

amdal

Tak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, Thailand khususnya Bangkok juga terkenal sebagai surganya belanja mulai dari barang-barang berkelas hingga pernak-pernik khas Thailand nan unik. Semua tersedia bak magnet yang selalu menarik minat wisatawan. Mengunjungi suatu negara pastinya takkan lengkap tanpa membawa pulang buah tangan yang khas dari negeri Gajah Putih tersebut. Jika berkunjung ke Thailand, salah satu tempat yang harus disambangi untuk mendapat beragam cinderamata adalah Chatuchak Weekend Market. Sesuai dengan namanya, pasar ini hanya ada pada saat akhir pekan saja, Sabtu dan Minggu pukul 09.00—18.00 Wita. Di pasar seluas 14 hektar ini dapat ditemukan beragam barang mulai dari fesyen dan aksesori, keramik, furniture, buku, kerajinan tangan khas Thailand, hingga tumbuhan dan hewan peliharaan. Rombongan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang dikomandani Dewi Noviany M.Pd—Wakil Rektor IV berkesempatan mengunjungi tempat yang selalu ‘diziarahi’ ribuan pendatang tidak hanya dari penjuru Bangkok namun juga negara lain di dunia. Ini adalah kesempatan pada hari terakhir rombongan berada di Thailand dalam rangka Traveling sambil menulis buku bersama Gola Gong—penulis Indonesia yang menelurkan ratusan buku di antaranya Catatan Si Boy, Balada Si Roy dan lainnya.

Setelah dari Suppatra Land—taman buah dan Pantai Pattaya yang menjadi ikon destinasi wisata pantai Thailand, rombongan langsung ke Chatuchak. Rute ini sengaja dipilih karena berada satu arah menuju Bandara Don Muang saat dalam perjalanan pulang meninggalkan Thailand. Menggunakan tiga jam waktu tersisa, rombongan dengan semangat 45 berhamburan turun dari mobil van yang sengaja dicarter dengan ongkos masing-masing 250 bath atau sekitar Rp 100 ribu masuk ke pasar tradisional modern tersebut. Tampak kaum hawa terlihat sangat bersemangat. Mereka sudah sangat terlatih tidak hanya mengendus keberadaan barang yang akan diburunya, tapi juga sangat mahir dalam menawarkan barang yang akan dibeli. Sedangkan kaum adam termasuk tiga wartawan lokal Sumbawa, Jen (Samawarea), Fajar (Radar Sumbawa) dan Iwan (Gaung NTB) hanya mengekor bahkan terkadang tertinggal di tengah padatnya pelancong. Memang hampir semua barang di dalam pasar tersebut murah meriah dan menggiurkan. Selain itu di dalam pasar cukup tertata dan terlihat apik serta tidak bercampur baur. Ingin membeli pakaian sudah ada bloknya, demikian dengan hewan peliharaan, tumbuhan, ukiran, buah dan kuliner. Menariknya kondisi dalam pasar bersih karena para pedagang memiliki tanggung jawab bersama mengingat pasar setempat telah dijadikan salah satu destinasi wisata. Seramai apapun pasar itu tak pernah terjadi kemacetan di jalan raya yang berada di depannya. Sebab kendaraan sudah memiliki tempat tersendiri untuk parkir dan tidak diperkenankan mengambil sebagian badan jalan. Sebenarnya ini bisa diterapkan di pasar-pasar tradisional di Kabupaten Sumbawa. Hanya butuh penataan karena masih banyak pedagang yang berjubel hingga ke jalan raya. Akibatnya selain semrawut, jalan menjadi macet karena sebagian besar badan jalan digunakan untuk tempat parkir. Meski ada petugas, namun kondisi itu terkesan dibiarkan.

Baca Juga  Kabupaten Sumbawa Pioner Program Keluarga Berencana Nasional

Sesuai kesepakatan, rombongan harus sudah berkumpul di halte depan Chatuchak sekitar pukul 14.00 (jam 2 siang). Dari jauh terlihat Novi—sapaan Warek IV, dan beberapa mahasiswa bersusah payah membawa barang hasil buruannya. Rupanya mereka melakukan aksi borong-borong. “Ini untuk menghabiskan uang bath yang masih tersisa karena kalau sudah di Indonesia, uang ini sulit kami belanjakan,” ucap Winda Meiristuti—salah seorang dosen Bahasa Inggris di UTS. Saking semangatnya belanja, jari kaki kiri gadis bongsor ini terkelupas. Menurutnya perih di kakinya tak terasa jika dibandingkan dengan kegembiraannya mendapatkan apa yang dia cari. Mulai dari souvenir untuk rekan-rekannya, tas untuk ibunya, hingga baju untuk keponakan dan keluarga lainnya. “Ini wisata belanja,” timpal Bu Camat—sapaan lain Warek IV. Tak mengherankan tas yang sebelumnya satu kini beranak pinak menjadi tiga bahkan empat. Mobil van yang ditumpangi pun menjadi penuh sesak karena banyaknya buah tangan dari Chatuchak.

Bangkok Chatuchak 1Kunjungan ke Chatuchak merupakan puncak sekaligus melengkapi perjalanan rombongan UTS ke Thailand. Banyak tempat yang sudah dikunjungi seperti Sungai Chao Phraya yang dapat disusuri menggunakan perahu, Floating Market, Wat Arun dan perkampungan di dalam Kota Bangkok, makan siang di Wat Pho sambil berfoto-foto di Kuil Buddha Berbaring (tidur)—Kuil terbesar di Thailand yang berdekatan dengan Grand Palace (komplek istana dan kuil), Kuil Emerald Buddha, alun-alun Kota Bangkok dan ‘terlibat’ dalam suasana malam di Khaosan Road.

Baca Juga  Batu Pertama Diletakkan Wagub Rohmi, Masjid Raudlatul Jannah Mulai Dibangun

Rombongan harus balik ke tanah air membawa sejuta kenangan, pengalaman, dan wawasan yang tidak hanya untuk diceritakan namun dapat diwujudkan di masa mendatang. Karenanya upaya UTS dalam mengirim mahasiswa dari semua fakultas ke beberapa negara agar mereka memiliki wawasan global dan membangun jaringan internasional. Hal ini mengingat mahasiswa UTS dan lainnya adalah calon pemimpin masa depan yang pikiran dan tenaganya sangat dibutuhkan dalam membangun Sumbawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya. (*)

iklan bapenda