Khaosan Road, Kebebasan yang Dilegalkan

oleh -1 views
bankntb

Perjalanan Mahasiswa UTS di Bangkok

Bangkok, SR (02/06/15)

Suara hentakan musik terdengar bising pada tengah malam buta di Khaosan Road. Aktivitas hiburan malam di lokasi yang berada tepat di jantung Kota Bangkok ini berlangsung selama 24 jam dan puncak dari fenomena malam itu terjadi di atas pukul 24.00. Aroma tersebut sangat terasa dan terdengar jelas karena Rainbow Guest House—tempat menginap rombongan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) hanya berjarak 50 meter dari lokasi tersebut. Para bule dari berbagai negara hilir mudik, padat merayap dan tak jarang terlihat adegan layak sensor yang di tempat itu sudah dianggap biasa. Penulis bersama dua rekan wartawan mencoba turun dari lantai 2 Rainbow untuk melihat dari dekat suasana hingar bingar lokasi yang menjadi buah bibir tersebut. Ini juga atas saran Golagong—pencipta buku “Balada Si Roy” yang menjadi guide traveling UTS. Menurutnya itu adalah sisi lain dari kehidupan malam Kota Bangkok yang menarik untuk dijadikan reportase.

Bangkok Road Khaosan 2Tak membutuhkan banyak tenaga untuk mencapai lokasi tersebut. Penulis menyaksikan lautan bule menguasai Road Khaosan—nama lokasi berupa jalan yang dilokalisir sebagai tempat ‘kebebasan’. Di sini aktivitas ekonomi sangat bergeliat, mulai dari bar, café, usaha pijit biasa, plus-plus hingga pedagang sayur mayur terhampar dan membaur. Beragam kuliner tersaji mulai dari halal hingga yang berkategori haram menurut keyakinan penulis sebagai seorang muslim. Ironisnya lagi ada tempat yang secara terang-terangan menjajakan seks. Pria paruh baya yang sudah ubanan mendekati penulis bersama dua rekannya, Fajar (Radar Sumbawa) dan Iwan (Gaung NTB) yang melintas lambat di depannya. Dengan sikap ramah, pria yang pantas disebut kakek ini memperlihatkan foto wanita-wanita sexy dengan pose yang menantang sembari mempersilahkan para wartawan masuk ke dalam. Di bawah foto sudah tertera bandrol dan durasi untuk ditemani wanita penghibur tersebut. Dengan fasihnya pria tua ini berpromosi menggunakan Bahasa Thai yang sulit diterjemahkan namun dapat dipahami sebagai ajakan untuk ‘membeli’ dagangannya. Fajar dan Iwan menolak ringan tawaran yang mungkin sebagian orang sangat menggiurkan.

Baca Juga  Prestasi di Tengah Corona, Dosen UTS Masuk Jajaran Peneliti Terbaik Indonesia

Beberapa meter bergeser ke depan, dua orang pemuda mendekat sambil mengangkat pamflet bertuliskan “Laughing Gas”. Bagi yang setuju akan diberikan balon, dan udara di dalam balon dihirup seperti menghisap shabu-shabu. Hanya dalam sekejap sang pembeli terlihat fly sembari tertawa merasakan sensasional dampak dari hisapan ini. Menurut Ram—kenalan kami asal Birma campuran India, Laughing gas ini yang jika diterjemahkan adalah “Balon Tertawa”. Hisapan udaranya setara dengan menenggak dua botol bir hitam. Pantas saja orang yang menghisapnya terlihat mabuk berat. Aktivitas ini bukan tidak diketahui petugas. Kesannya malah dibiarkan, karena di pintu masuk Road Khaosan terdapat kantor polisi setara Polsek. Petugas kepolisian sesekali masuk hanya melihat situasi tanpa melarang apapun aktivitas yang ada. Masalah keamanan sudah terjamin kendati tanpa polisi yang menjaga. Meski sangat bebas, tidak pernah terdengar ada perkelahian yang mengganggu keamanan di wilayah setempat. Sepertinya para pengusaha dan masyarakat sekitar memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaganya. Karena ketika terjadi keributan atau gangguan keamanan maka yang rugi mereka sendiri. Pasalnya keberadaan lokasi dengan segala aktivitas di dalamnya menjadi income yang cukup besar dalam menopang kehidupan ekonomi masyarakat di sana. Mereka harus membuat suasana yang aman dan nyaman bagi para pelancong. Apapun yang diinginkan para pendatang sudah tersedia dan patut dilayani, sebab mereka datang membawa uang. Di sinilah adanya simbiosis mutualistis. Benar-benar kebebasan di Road Khaosan dilegalkan. Kebebasan menjadi ‘dagangan’ bagi negeri itu untuk menarik minat turis datang ke Bangkok, di samping budaya dan destinasi wisata lain yang menyebar ke segala penjuru negeri Gajah Putih ini.

Baca Juga  Pemprov NTB Tegaskan Kebijakan Penanganan Gempa di KLU Terus Diupayakan

Kebebasan ini sudah pasti tidak pas untuk dijual di Sumbawa dalam memajukan sektor pariwisata. Mengingat falsafah Tau dan Tana Samawa adalah “adat barenti ko sara’, sara barenti ko kitabullah”. Untuk menyiasatinya, Sumbawa bisa menjual budaya dan potensi lainnya tanpa harus menampilkan kebebasan. Banyak destinasi yang indah dan patut dikunjungi para pelancong dari luar negeri. Sebab tidak semua turis menginginkan kebebasan, karena tidak sedikit dari mereka yang butuh ketenangan dan jauh dari hingar-bingar pesta dan kebebasan. Hanya diperlukan pembenahan obyek wisata dan pengemasan apik hasil kerjasama dari semua stake holder. Yang paling penting pemimpin Sumbawa ke depan harus visioner dan menjadikan pariwisata sebagai sector andalan yang mampu menjadi daya ungkit sector-sektor lainnya. Ini menjadi PR bersama mengingat pemilukada akan digelar beberapa bulan mendatang. Banyak figur dari putra terbaik Sumbawa yang muncul mencalonkan diri. Siapapun yang terpilih nanti mereka diharapkan bisa memenej daerah dan masyarakatnya ke arah yang lebih baik. Pastinya mampu mengelola sumber daya yang ada baik SDM maupun SDA bagi kemaslahatan umat. (*)

iklan bapenda