Fateta UTS Promosi Sumbawa di Thailand

oleh -6 views
bankntb

Bangkok, SR (01/06/15)

Ruang Meeting TGGS KMUTNB (Thai-German Graduate School King Mongkut’s University of Technology North Bangkok) menjadi ‘milik’ mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Pihak kampus terbesar di Thailand ini memberikan waktu dan tempat kepada mahasiswa dan para dosen Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) tersebut untuk memberikan informasi secara luas mengenai UTS dan Sumbawa. Mereka diterima Prof Dr Monpilai Narasingha—Dekan TGGS didampingi Prof Dr Tawiwan Kangsadan selaku Associate Dean for Academic Affairs (Wakil Dekan) dan Prof Dr Suksun Amornraksa sebagai Koordinator Program. Civitas TGGS ini sangat antusias mendengar presentasi yang disampaikan Kaprodi, dosen dan mahasiswa UTS dengan menggunakan Bahasa Inggris yang fasih. Benar-benar mereka ‘menjual’ Sumbawa dengan destinasi wisata dan kebudayaannya. Sebaliknya pihak TGGS sangat berkeinginan untuk menyambangi daerah Tana Intan Bulaeng dengan segala potensi yang dimiliki. Sebagai langkah awal, TGGS menyambut positif tawaran UTS untuk menjalin kerjasama di bidang akademik melingkupi riset, pertukaran dosen dan mahasiswa. Namun demikian penandatangan kerjasama akan dilakukan kemudian antar Rektor kedua universitas, dan kehadiran civitas UTS yang diwakili Wawat Rohdiawati—Kepala Program Studi (Kaprodi) Teknologi Industri Pertanian (TIP) didampingi Dinar Kaprodi THP (Teknologi Hasil Pertanian) hanya sebagai pembuka jalan. Sebelumnya mahasiswa UTS yakni Ariskanopitasari, Ary Satria Dirgantara, Denny Maardiansyah, dan Eko Sulistio, menyebar menyambangi dan berdialog dengan mahasiswa di sana. Satu sama lain tampak akrab, dan dialog sebagai pengikat mereka untuk bersua di lain waktu baik secara langsung maupun tidak langsung, minimal mahasiswa UTS ini telah membangun jaringan. Selain untuk menjalin keakraban dan membuka jaringan, mereka ingin mengetahui lebih jauh system perkuliahan dan bagaimana aktivitas yang dilakukan mahasiswa dari negara luar khususnya Thailand.

amdal

Saat presentasi di ruang meeting, Ary Satria Dirgantara membeberkan prestasi yang diraih UTS selama dua tahun berdiri mulai dari skala lokal, regional, nasional hingga internasional di antaranya meraih empat penghargaan dunia pada Kompetisi iGEM di Boston Amerika Serikat. Kemudian Eko Sulistiyo mengupas tentang organisasi yang ada di UTS seperti English Club yang mengundang beberapa native speaker (pembicara) dari luar negeri, Traditional Dance Club (TDC), olahraga dan lainnya.

Baca Juga  Festival Kuliner Ubur Ubur Teluk Saleh Digelar Perdana di Teluk Santong

Kemudian Ariskanopitasari menjelaskan mengenai kegiatan di luar kampus di antara Fun Activity (aktivitas menyenangkan) bagi mahasiswa sebagai ajang refresing setelah bergelut dengan situasi perkuliahan yang menyita pikiran. Namun refresing yang dilakukan ini tidak hanya sekedar bersenang-senang tapi dibarengi dengan kegiatan bakti sosial seperti penghijauan, dan mengunjungi tempat wisata.

Denny Maardiansyah, mahasiswa Fateta UTS lainnya mengupas soal aktivitas belajar mengajar di kampus UTS, yang beberapa dosennya dalam penyampaian materi di ruang kuliah menggunakan Bahasa Inggris.

Di bagian lain Dosen Bahasa Inggris Fateta, Winda Meiriastuti mempresentasikan tentang Sumbawa dengan segala potensi yang dimiliki terutama wisata. Dosen yang juga penyiar Radio Oisvira FM ini menyebutkan Sumbawa memiliki rumah panggung terbesar (the biggest wooden house) yakni Dalam Loka merupakan peninggalan bersejarah yang hingga kini tetap lestari, dan Pulau Moyo destinasi dunia yang pernah dikunjungi Lady Diana dan David Beckam. Winda demikian sapaan gadis subur ini juga mempromosikan destinasi baru yakni salah satu air terjun tertinggi di Indonesia ada di Marente Kecamatan Alas. Di wilayah ini terdapat tiga air terjun yakni Sebra Waterfall, Saketok dan Agal Waterfall. Selain obyek wisata, Winda juga memaparkan potensi budaya yang dimiliki Sumbawa. Di antaranya Maen Jaran dengan joki cilik, barapan kebo (Buffalo Race), dan nesek (cara membuat kain songket).

Sementara itu Dinar—Kaprodi THP Fateta menjelaskan seperti apa dan bagaimana Fakultas Teknologi Pertanian, serta departemen apa saja, dan apa yang sudah dihasilkan. Demikian dengan Wawat Rohdiawati—Kaprodi TIP. Gadis yang akan melepas masa lajang ini mempresentasikan tentang UTS, mulai dari sejarah berdirinya, jumlah fakultas, hingga kondisi terkininya. Presentasi dari rombongan Fateta UTS ini menarik perhatian dosen dan dekan setempat. Bahkan mereka menyambut baik rencana kerjasama dengan UTS dan berkeinginan penandatanganannya nanti dilakukan di UTS agar bisa sekaligus menikmati panorama alam daerah tersebut sebagaimana yang ‘dijual’ dalam presentasi.

Baca Juga  Harga Cabai di KSB Masih Selangit, IRT Mengeluh

Ditemui usai presentasi, ketua rombongan UTS, Wawat mengatakan dulunya TGGS KMUTNB sama seperti UTS yang memulainya dari nol. Dengan modal SDM yang mumpuni mereka mampu menjalin kerjasama dengan berbagai universitas di belahan dunia seperti Jerman, Belgia, Belanda dan lainnya. Secara perlahan tapi pasti TGGS menjadi salah satu universitas tekhnik terbaik dan kini berstatus negeri. Dengan label inilah mahasiswa dari segala penjuru Thailand dan negara lain datang menimba ilmu. TGGS sangat pas dengan UTS yang akan memiliki STP. Uniknya TGGS dijadikan Jerman sebagai universitas model di bidang engeenering, yang semua produknya harus berdasarkan industri. Jadi tidak sekedar melakukan riset sebatas disertasi, tapi mampu diaplikasikan bagi kepentingan industry dan masyarakat. “Sangat pas sekali, karena STP di UTS nantinya lebih pada industry oriented,” katanya.

Untuk itu ini kesempatan bagus bisa belajar dari TGGS terlebih lagi dalam rangka menyambut perdagangan bebas atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Karena negara-negara ASEAN harus bekerjasama. Inilah alasan Thailand melalui TGGS sangat respek menerima tawaran kerjasama dari Indonesia yang diwakili UTS agar negara di ASEAN bersatu dan tidak tertindas dari negara lain di luar ASEAN. “Kami berharap kerjasama dengan TGGS KMUTNB nanti, UTS dapat mengikuti jejaknya, UTS menjadi lebih baik, dan Sumbawa bisa bersaing di skala internasional,” demikian Wawat. (*)

iklan bapenda