Mahasiswa Fateta UTS Siap Menjajal Bangkok

oleh -12 views
bankntb

Menulis, Jalin Kerjasama Hingga Memburu Kuliner

Bangkok, SR (27/05/15)

amdal

“Kita bertemu lagi,” inilah sapaan pertama saat penulis bertemu dengan Gol A Gong—penulis buku ternama Indonesia di Bandara Soekarno—Hatta. Ya ini pertemuan yang kedua kali setelah tiga bulan lalu penulis dan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) dan Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) bergabung dalam Golagong Travelling ke Singapore, dalam rangka jalan-jalan sambil menulis buku yang bakal dirilis dalam waktu dekat ini. Kini Mahasiswa UTS dari Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) diberikan kesempatan kembali mempercayakan agen perjalanan yang sama untuk menikmati keindahan Bangkok Thailand selama 4 hari, 27—30 Mei 2015. Di tempat ini selain belajar menulis yang kemudian akan dijadikan buku seperti halnya mahasiswa Fikom dan Psikologi, juga menjalin kerjasama akademik yakni riset dan education dengan Thai-German Graduate School (TGGS) King Mongkut’s University of Technology North Bangkok (TGGS KMUTNB). Implementasi dari kerjasama ini di antaranya melakukan pertukaran mahasiswa dan dosen. Ini adalah perjalanan pertama rombongan yang terdiri dari 4 orang mahasiswa, dua dosen, dua kepala program studi (Kaprodi), dua wakil rector (Warek) dan tiga orang wartawan, kecuali Wawat Rodiahwati—Kaprodi yang sudah dua kali ke Bangkok dan pernah study selama 1,5 tahun di UTNB (University of Technology North Bangkok). Karena pengalaman dan penguasaan wilayah, akhirnya Wawat sapaan singkat dosen yang bakal mengakhiri masa lajangnya 7 Juni karena akan dipersunting M Nur Jihadi—Warek III UTS, dipercaya menjadi komandan dalam rombongan.

Ruang Tunggu Soeta, Siap Terbang ke Bangkok
Ruang Tunggu Soeta, Siap Terbang ke Bangkok

Rombongan bertolak ke Bangkok melalui Bandara Soeta, Rabu (27/5) sekitar pukul 12.05 Wita. Menggunakan pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ 256, penerbangan 38 ribu kaki di atas permukaan laut ini berlangsung cukup alot. Penulis yang duduk di Seat 17A ini berada di samping Ary Satria Dirgantara dan Eko Sulistio. Dua mahasiswa tersebut terlihat sangat tegang lantaran baru pertamakali naik pesawat. Ketika pesawat membentur awan yang menyebabkan terjadinya turbulensi ringan, mahasiswa asal Desa Marga dan Desa Sebasang Kecamatan Moyo Hulu ini tampak pucat. Meski demikian rasa panik seketika sirna berganti ketakjuban kala melihat awan yang menggumpal menyerupai pohon dan beragam bentuk lainnya.

Tiba di Bandara Don Muang bangkok
Tiba di Bandara Don Muang bangkok

Setelah tiga jam di atas udara, Air Asia mendarat mulus di Bandara Internasional Don Muang, Bangkok, Thailand. Aroma dupa dan kembang mulai terasa karena hampir di setiap tempat terdapat tempat ibadah umat Buddha—keyakinan mayoritas masyarakat Thailand. Bahkan di sepanjang jalan tampak kuil-kuil dengan patung Buddha kuning keemasan.

Baca Juga  Ini Juknis BOS 2018 (3)
Rainbow Guest House, tempat rombongan menginap
Rainbow Guest House, tempat rombongan menginap

Setelah proses imigrasi tuntas, rombongan menuju Rainbow Guest House yang akan menjadi titik sentral dalam memulai aktivitas exploring karena di sinilah tempat menginap. Rainbow Guest House ini terletak di Khaosan Road jantung Kota Bangkok. Khaosan Road mirip dengan Kuta atau Legian di Bali maupun Malioboro di Yogya. Ini adalah tempat para bule dan backpacker berkumpul. Di sini terdapat banyak kios yang menawarkan beragam barang mulai dari pakaian, aksesoris hingga sepatu murah. Bagi yang hobbi belanja pernak-pernik dapat mendatangi Khaosan Night Market.

Menurut Gola Gong, rombongan beruntung mendapat tempat penginapan yang sestrategis itu, sebab banyak turis mancanegara yang menjadi saingan dalam perebutan tempat favorit tersebut. “Siapa cepat dia dapat. Dan untung saya lebih cepat dari mereka,” ucap penulis yang bernama lengkap Heri Hendrayana ini.

Untuk mencapai Rainbow, rombongan UTS naik kereta ke Hua Lampong—stasiun kereta seperti Gambir Jakarta menempuh perjalanan hampir dua jam. Masing-masing membayar 20 bath atau setara dengan Rp 9000 (kurs Rp 450/bath). Kereta yang ditumpangi rombongan ini tak sebagus kereta di Gambir. Kondisinya kotor tak representatif dan bebas makan minum. Seperti halnya Jakarta, sepanjang perjalanan terdapat bangunan kumuh di sisi rel kereta api. Sementara di bagian lain terdapat sejumlah alat berat yang sedang bekerja, sepertinya pemerintah kota setempat sedang giat-giatnya membangun. Rombongan tiba di Terminal Hua Lampong tepat usai magrib.

Tuk Tuk yang Sensasional

Dua Warek UTS, Bu Novi dan Bu Ida, Tobat Naik Tuk-Tuk
Dua Warek UTS, Bu Novi dan Bu Ida, Tobat Naik Tuk-Tuk

Setelah menikmati sesaat suasana malam di terminal yang sangat ramai ini, rombongan melanjutkan perjalanan. Kali ini Golagong menawarkan naik Tuk Tuk. Transportasi ini mirip Bajaj. Golagong berpromosi bahwa naik Tuk Tuk sangat sensasional dan memacu adrenalin. Ongkosnya terbilang murah 150 bath/tuk-tuk yang bisa memuat maksimal 3 orang yang artinya masing-masing merogoh kocek 50 bath. Karena rombongan UTS cukup banyak, sopir Tuk Tuk berbaik hati menurunkan ongkos hingga 120 bath/tuk tuk.

Benar saja, seharusnya untuk mencapai penginapan membutuhkan waktu 1 jam menggunakan kendaraan lain, namun dapat dipersingkat Tuk Tuk menjadi hanya 30 menit. Aksi kebut-kebutan tak dapat dihindari karena antara sopir Tuk Tuk satu dengan lainnya tak mau kalah. Setali tiga uang dengan penumpangnya yang terus memberikan semangat bahkan sesekali menyesali jika Tuk Tuk yang ditumpangi penumpang lain menyalip Tuk Tuk yang mereka tumpangi. Beberapa kali Tuk-Tuk bermanuver dan nyaris menabrak kendaraan lain. Celakanya lagi, sopir Tuk-Tuk tak mengindahkan rambu-rambu lalulintas dan kerap menerobos traffic light menyala merah, tidak lain hanya untuk berpacu lebih cepat dari yang lainnya. Kebetulan penulis berada satu Tuk Tuk dengan dua orang wartawan, Fajar Rahmat (Radar Sumbawa) dan Iwan Setiawan (Gaung NTB). Sopir yang membawa ketiga wartawan ini bernama Bobi—wajahnya hampir mirip dengan Bobi Maramis (wartawan Tribun). Sesekali Bobi menoleh ke belakang sambil menyunggingkan senyum ketika Tuk Tuk yang dikendalikannya nyaris menabrak kendaraan lain. Mungkin dia ingin memuji diri paling hebat dan mampu mengendalikan laju kendaraannya. “Saya tobat naik Tuk-Tuk, sopirnya ugal-ugalan,” pekik Farida Idifitriani, Warek II UTS yang satu penumpang dengan Dewi Noviany—Warek IV.

Baca Juga  Bunga Oktaviani, Siswa SMAN 3 Sumbawa Pembawa Bendera Merah Putih

Meski demikian rombongan sudah merasakan salah satu transportasi yang merupakan icon unik yang memorable (menjadi kenangan). Tak jarang terdengar ungkapan jika belum naik Tuk-Tuk berarti belum pernah ke Thailand. Inilah perjalanan hari pertama rombongan saat menginjakkan kaki di Bangkok. Apa yang telah dinikmati merupakan sebagian kecil dari sisi lain Kota Bangkok, karena masih banyak hal yang akan disuguhkan terutama keindahan Kota Bangkok. Misalnya Sungai Chao Phraya yang dapat disusuri menggunakan perahu. Rombongan nanti akan dapat melihat Floating Market, Wat Arun dan perkampungan di dalam Kota Bangkok, serta akan menyempatkan diri makan siang di Wat Pho. Di Wat Pho ini dapat melihat dari dekat sambil berfoto-foto di Kuil Buddha Berbaring—Kuil terbesar di Thailand yang berdekatan dengan Grand Palace (komplek istana dan kuil), persisnya tepat berada di belakang Kuil Emerald Buddha. Untuk menemukan patung Buddha yang besar dan megah ini siap-siap menyediakan uang tiket masuk 100 bath (Rp 50 ribu) per orang. Yang wajib dikunjungi juga adalah Chaturchak Weekend Market. Sesuai dengan namanya, tempat ini hanya buka di akhir pecan yakni Sabtu dan Minggu. Artinya ini hari terakhir rombongan berada di Bangkok. Setelah check out, Sabtu lusa rombongan akan menyempatkan diri berkunjung dalam perjalanan pulang menuju bandara. (*)

 

iklan bapenda