RSUD Bantah Penanganan Musdalifah Terlambat

oleh -0 views
Ruangan terbatas, pasien dirawat di lorong
bankntb

Sumbawa Besar, SR (28/05/15)

Manajemen RSUD Sumbawa membantah dengan tegas adanya keterlambatan penanganan sehingga pasien Musdalifah meninggal dunia usai persalinan sebagaimana yang dikeluarganya. Menurut Kepala Ruangan Bagian Kandungan RSUD Sumbawa, Hj Rita, pasien  Musdalifah masuk RSUD 21 Mei sekitar pukul 12.30 Wita dengan kondisi hamil lewat bulan. Karena belum ada tanda-tanda persalinan dokter memberikan induksi untuk mempercepat terjadinya proses persalinan. Bidan pun telah memberikan penanganan sejak pasien masuk dan mengambil tindakan sesuai instruksi dokter. “Observasi sudah dilakukan tapi tanda-tanda persalinan belum terlihat,” akunya.

Esoknya kondisi pasien dievaluasi, dan baru mengalami pembukaan satu jari. Obat diberikan setiap enam jam sekali mengikuti perkembangan pasien. Sekitar pukul 10.00 Wita, pasien kembali dievaluasi dan mengalami kemajuan pembukaan empat centimeter. Dua jam berikutnya, dicek lagi sudah pembukaan enam centimeter. “Evaluasi dilakukan terus menerus,” ucapnya.

Sekitar pukul 17.30 Wita, pasien sudah merasakan mengedan yang berarti proses persalinan akan dimulai karena sudah memasuki pembukaan 10. Tapi kepala bayi ternyata belum turun dan cukup lama ditunggu. Persalinan pun baru dapat dilakukan sekitar pukul 19.00 Wita, dan bayi lahir dalam kondisi normal diikuti dengan ari-arinya 5 menit kemudian. Meski demikian bayi sedikit mengalami gangguan pernapasan. Saat itu sekitar pukul 19.25 Wita pasien mengalami pendarahan dan setelah dicek sumber pendarahannya adalah robekan pada bagian jalan lahir. Petugas langsung menangani dengan cara dijahit. Selang beberapa menit kembali dicek ternyata masih terjadi pendarahan yang ternyata masih ada robekan yang belum terjahit dan pendarahan berhasil dihentikan sekitar pukul 19.30 Wita. Semua dikerjakan oleh bidan sehingga pendarahan teratasi dan kontraksi rahim cukup bagus.

Baca Juga  Tiga Penadah Dibekuk, Pelaku Utama Dalam Pengejaran

Tak sampai di situ saja, bidan juga membersihkan dan memakaikan pembalut pada pasien. Kondisi pasien masih dinyatakan baik. Petugas juga memberikan obat drip melalui infus untuk menjaga kontraksi pasien tetap baik. Bidan kemudian berpesan kepada pasien dan seorang keluarga yang menunggu untuk melaporkan semua kondisi atau apapun yang dirasakan pasien kepada petugas. Setelah itu bidan meninggalkan pasien untuk membuat laporan persalinannya.

Tidak sampai 10 menit, bidan kembali mengontrol pasien yang masih dalam kondisi baik, lalu ditinggalkan untuk melanjutkan laporan sambil mengecek pasien lain. Sekitar pukul 20.20 Wita terjadi pergantian petugas. Bidan sebelumnya yang bertugas sudah menjelaskan kondisi Musdalifah kepada bidan yang baru sekaligus meminta untuk selalu mengawasi kondisi pasien yang sebelumnya mengalami perdarahan.

Sekitar pukul 20.30 Wita, pasien mengeluh sesak nafas dan terjadi perdarahan lagi. Bidan kemudian mengecek pasien dan memberikan oksigen serta infus dua jalur. Karena kulit pasien terlihat kebiru-biruan, bidan meminta agar perawatannya dipindahkan ke ruang ICU. Tidak beberapa lama di ruang ICU, pasien sudah tidak bernafas. Kejadian ini kemudian dilaporkan ke dokter jaga untuk selanjutnya diteruskan ke dokter spesialis kandungan. Menurut keterangan dokter spesialis, penyebab kematian kemungkinan besar terjadi emboli pada pasien tersebut. “Penanganan pasien Musdalifah sudah sesuai dengan standar operating procedure (SOP). Tidak ada keterlambatan penanganan, petugas selalu bertindak dengan cepat,” tukasnya.

Baca Juga  Bawaslu Sumbawa Segera Klarifikasi 7 Kadis dan 1 Kepala Sekolah

Ditambahkan Direktur RSUD Sumbawa, dr Selvi, apa yang terjadi terhadap Musdalifah sangat tidak terduga. Menurutnya, tidak ada yang bisa memprediksikan terjadi emboli terhadap pasien. Dan selama penanganan pasien, petugas diminta untuk mencatat semua tindakan yang dilakukan dalam bentuk laporan, sehingga dapat diketahui dengan jelas. Namun demikian pihaknya sudah memberikan pelayanan maksimal terhadap pasien, sesuai dengan standarisasi pelayanan. “Meski demikian perbaikan terus dilakukan agar segala kekurangan dapat teratasi dan harapan masyarakat bisa terpenuhi,” timpal Kabid Pelayanan, dr Putu Purnama. (*)

iklan bapenda