Dipenjara di Malaysia, 14 TKW Asal Sumbawa Dipulangkan

oleh -10 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (24/05/15)

Sedikitnya 14 TKW asal Sumbawa berhasil dipulangkan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sumbawa, setelah selama 5 bulan dibui di Penjara Bukit Jalil, Malaysia. Para TKW dari berbagai kecamatan ini tiba di Sumbawa, Sabtu (23/5) sekitar pukul 14.00 Wita. Mereka dijemput di Bandara Internasional Lombok (BIL) oleh Kabid Penempatan Tenaga Kerja, Z Arifin ST M.Si lalu menuju Sumbawa menggunakan Bus Damri.

amdal

Para TKW ini adalah Ayu Andika (Rhee), Delita Sari (Lenangguar), Eri Andani (Lawin Ropang), Fitri (Labuan Burung Buer), Hafni Azizah (Brang Biji), Indrawati (Moyo Hilir), Irawati (Juru Mapin Alas Barat), Kendawati (Kerato Unter Iwis), Linda Apriani (Boak), Salmawati (Jorok Utan), Santi Sardi (Brang Bara), Triana Anggraini (Labuan, Kecamatan Badas), dan Yanti (Kalimango Alas).

Sebelum tiba di Sumbawa, selama 8 jam mereka diperiksa penyidik Ditreskrim Polda NTB untuk dibuatkan berita acara pemeriksaan (BAP) karena kasus itu sudah resmi ditangani menyusul adanya laporan Kemenlu dan KBRI ke Mabes Polri. Perkara ini juga sempat dilimpahkan ke Polres Sumbawa dan sejauh ini sudah ada beberapa saksi yang dimintai keterangan di antaranya orang tua TKW dan pihak Imigrasi yang mengeluarkan passport.

Kabid Penta Disnakertrans Sumbawa, Z Arifin ST M.Si
Kabid Penta Disnakertrans Sumbawa, Z Arifin ST M.Si

Kabid Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Sumbawa, Z Arifin ST M.Si yang dikonfirmasi kemarin, mengatakan, terungkapnya kasus ini setelah pihak KBRI Kualalumpur mendapat informasi keberadaan TKW asal Sumbawa yang berstatus illegal. Mereka masuk Malaysia menggunakan visa kunjungan namun prakteknya bekerja. Para TKW ini sempat ditahan selama beberapa bulan yang kemudian dibebaskan dengan koordinasi Kemenlu dan KBRI dengan pemerintah Malaysia.

Baca Juga  Lagi, Gunung Baru Jari Meletus

Sebagai bentuk perhatian dan tanggung jawab pemerintah daerah, Disnakertrans menfasilitasi pemulangan para TKW ini. Setelah berkoordinasi Kemenlu dan BP3TKI, pihaknya langsung menjemput TKW tersebut di BIL, serta mendampingi mereka memberikan keterangan kepada penyidik kepolisian di Polda NTB. Selanjutnya mereka akan diantar ke rumahnya masing-masing. “Ini bentuk tanggung jawab kami, bagaimanapun status mereka dan darimana mereka diberangkatkan, ketika mereka berasal dari Sumbawa kami wajib menanganinya,” tandas Ipin—sapaan akrabnya.

TKW Bermasalah 1Sementara Kendawati (45) TKW asal Desa Kerato Kecamatan Unter Iwis, menyebutkan mereka yang berasal dari Sumbawa mencapai 20 orang dari PJTKI yang berbeda. “Hanya saya, Sri, Linda Apriani dan Delita berasal dari sponsor yang sama, yaitu PT Levi,” katanya.

Ia mengakui mereka direkrut dan dijanjikan untuk dipekerjakan sebagai Cleaning Service. Mereka pun berangkat menggunakan visa kunjungan dengan masa hanya 28 hari. Tapi di Malaysia mereka direkrut sebagai tenaga kerja dan permit (ijin) yang mereka pegang dibuat untuk pekerjaan perkebunan, namun dialihkan menjadi cleaning service. “Kami menyadari selain keberadaan kami illegal, juga salah penempatan tidak sesuai dengan dokumen yang kami kantongi,” ucap Kendawati, eks TKW Saudi Arabia ini.

Meski demikian, sudah bekerja selama 5 bulan dengan gaji 700 ringgit per bulan, tiga bulan gajinya dipotong majikan, dan dua bulannya lagi hingga kini belum terbayar.

Terungkapnya kasus TKW illegal ini, ungkap Kenda, setelah beberapa TKW menginformasikan kepada keluarganya di Sumbawa. Keluarga langsung bertindak dengan melaporkan persoalan itu ke Kemenlu yang kemudian diteruskan ke KBRI Kualalumpur. Tim dari kedutaan, imigrasi dan kepolisian Diraja Malaysia langsung bergerak ke tempat tinggalnya dan melakukan penangkapan. “Dari 20 orang di rumah itu, 6 di antaranya berhasil kabur dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Mereka itu adalah Murba (Bima), Supiati (Alas), Riska (Alas), Nurul (Juru Mapin), dan Mariyati (Alas),” beber Kenda.

Baca Juga  Oknum Guru Dilaporkan Diduga Cabuli Murid

Sejak penangkapan pada 8 Januari 2015 itu, mereka langsung berhenti bekerja. Para TKW digiring ke tempat perlindungan selama 14 hari, lalu ke Imigrasi sehari, dan selanjutnya ditahan di Penjara Bukit Jalil selama beberapa bulan. Penderitaan selama beberapa bulan ini berakhir setelah dijemput kedutaan dan kemenlu untuk dipulangkan.

Ia berharap kasus ini tidak dialami oleh TKW lain. Yang paling penting hindari pemberangkatan secara illegal karena akan merugikan TKW itu sendiri. Sebab tidak tenang dalam bekerja, ditangkap dan dipenjara, serta berpotensi tidak dibayarnya gaji,” tandasnya. (*)

iklan bapenda