IISBUD Sarea Bahas Tantangan MEA di Vietnam

oleh -0 views
Rektor dan Warek III IISBUD SAREA di pertemuan P2A di Vietnam
bankntb

Laporan dari Pertemuan Passage to Asean (P2A) di Danang Vietnam

Sumbawa Besar, SR (22/05/15)

Sebagai konsekweksi ditandatanganinya ASEAN Economic Community (AEC) atau masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) oleh negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara baik langsung maupun tak langsung, sudah menjadi bagian dari warga dunia. Sebagai warga dunia dituntut memiliki daya saing yang kompetitif dan komparatif. Tentu ini berhubungan dengan kemampuan untuk bersaing pada sisi kualitas sumber daya baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Sedangkan daya saing komparatif adalah daya saing yang berhubungan dengan instrospeksi diri suatu negara ketika dihadapkan dengan pasar-pasar internasional dalam menyajikan barang dan jasa.

Institut ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Samawa Rea (IISBUD SAREA) sebagai institusi baru yang belum genap satu tahun telah masuk menjadi anggota Passage to Asean (P2A) yang pertemuannya dilaksanakan dua kali dalam setahun secara bergiliran di perguruan tinggi negara-negara anggota. Untuk di wilayah timur Indonesia khususnya Nusa Tenggara Barat (NTB) hanya diwakili IISBUD SAREA dan UTS yang keduanya berada di bawah Yayasan Dea Mas. Pertemuan P2A kali ini diselenggarakan di Kota Danang Vietnam atau perjalanan satu jam tiga puluh menit penerbangan dari Ho Chi Min City (dulu Kota Saigon). Ada beberapa kegiatan yang dilakukan, selain pertemuan tingkat tinggi dari anggota yang terdiri dari beberapa perguruan tinggi seperti dari Vietnam, Kamboja, Thailand, Filipina, Indonesia, Singapura, Malaysia, Laos dan Miyanmar, kecuali Berunai Darussalam dan Timor Leste yang belum sempat hadir, membahas agrement/statuta kesepakatan tentang hak dan kewajiban dari beberapa perguruan tinggi negara anggota. Antara lain tentang pertukaran mahasiswa, perjalanan wisata belajar, duta pelajar dan hal-hal yang berhubungan pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kemudian pembicaraan informal tentang kemungkinan-kemungkinan kerjasama antar perguruan tinggi sesama anggota.

Baca Juga  Kadis Dikbud NTB Ingatkan Kepala Sekolah Tidak Mengeluh

Selama berada di Vietnam, IISBUD Sarea bersama perguruan tinggi negara-negara anggota ikut dalam seminar Internasional dengan tema “Tantangan MEA”. Dalam seminar tersebut tampil beberapa pembicara yang membicarakan beberapa hal.

Lengga Pradipta dari Singapura dengan judul makalah Masyarakat ASEAN mengatur sumber daya alam untuk mendukung perkembangan negara. Dengan poin makalah bahwa mengatur sumber daya alam membutuhkan perangkat pemerintah yang konsen dan berpengalaman dalam mendukung perkembangan dengan tangkas/cepat untuk berbagi pengalaman dan mengevaluasi ide-ide, di samping memiliki teknik tentang manajement pengaturan sumber daya alam. Selanjutnya Phan Thi Hong Xuan dari Vietnam dengan judul makalah meningkatkan efisiensi exploitasi budaya terhadap kegiatan diplomatik Vietnam dalam kontek membangun masyarakat ASEAN. Intinya mengemukakan tiga pilar diplomasi yaitu diplomasi politik, diplomasi ekonomi dan diplomasi budaya. Diplomasi budaya berperan signifikan karena diplomasi budaya menawarkan dasar spiritual dan cara untuk mengukur sebuah prestasi yang bagus untuk tujuan pengambilan kebijakan diplomatik di Vietnam. Dengan kata lain, diplomasi budaya mendukung secara efektif diplomasi politik, keamanan dan diplomasi ekonomi yang pada gilirannya akan membentuk kebijakan diplomasi terbaik yang menyeluruh untuk mendukung kekuatan nasional dan menyelaraskan secara efektif dengan situasi yang ada. Makalah lainnya dibuat Hoang Khac Nam dari Vietnam dengan judul “prospek masyarakat ASEAN pada dekade berikutnya”. Prospek dimaksud adalah kemungkinan untuk membuat tujuan kumpulan masyarakat ASEAN dengan menghadirkan benar-benar ASEAN pada 10 tahun mendatang. Jadi prospek Masyarakat ASEAN adalah masih belum jelas dan sulit diprediksi.

Baca Juga  Tiga Tersangka Kredit Bank NTB Batal Diperiksa

Selanjutnya makalah yang dibuat Werner R. Murhadi dari Indonesia dengan judul “Masyarakat Ekonomi ASEAN Baru Dimulai”. Dijelaskananya tergabungnya anggota ASEAN memberikan sisi positif untuk meningkatkan kegiatan ekonomi di antara negara-negara ASEAN. Bagaimanapun kebijakan untuk mengimplementasikan satu mata uang pada negara ASEAN ada sebuah rintangan yang besar. Ada sebuah kondisi yang penting seperti kesamaan persatuan di dalam kebijakan dan peraturan untuk mengimplementasikan satu mata uang ASEAN.. Sehingga ini lebih baik bagi ASEAN saat ini untuk mendorong menyatukan kemajuan kerjasama perdagangan dan memperbaiki ekonomi pada semua negara daripada membuat satu mata uang.

Selain seminar, moment pertemuan itu dimanfaatkan untuk melaksanakan pameran produk unggulan lokal termasuk hasil dari home industri makanan dan minuman khas masing-masing negara anggota untuk menambah semangat persatuan dan persaudaraan. (*)

iklan bapenda