Gauli Menantu, Mertua Diamankan Polisi

oleh -38 views
ilustrasi
bankntb

Sumbawa Besar, SR (21/05/15)

BH (38) ternyata bukan contoh mertua yang baik. Warga Alas Barat ini tidak bisa melindungi menantunya sendiri. Malah justru menggauli menantunya sebut saja Kembang saat sang suami tidak berada di tempat. Padahal menantunya tersebut tengah hamil dua bulan calon cucunya sendiri. Akibat perbuatannya, BH kini diamankan polisi dan penyidik sedang mendalami kasusnya.

amdal

Kapolres Sumbawa melalui Kasat Reskrim, IPTU Tri Prasetiyo yang dikonfirmasi Kamis (21/5), mengakui adanya laporan dugaan pemerkosaan mertua terhadap menantunya. Kasus ini sedang ditangani pihak Polsek Plampang dan Alas Barat. Namun sejauh ini polisi belum menentukan pasal mana yang akan dikenakan meski telah dilakukan gelar perkara di Polres Sumbawa. Rencananya kasus ini akan dilimpahkan ke Polres Sumbawa untuk ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Reserse dan Kriminal (Reskrim).

Kasus ini ungkap IPTU Tri, terjadi pada 5 Mei lalu di sebuah pondok tengah sawah wilayah Kecamatan Maronge. Sebelumnya korban bersama suami, mertua dan nenek korban dari Alas Barat untuk menjadi buruh tani di Maronge. Setiap habis bekerja mereka beristirahat di sebuah pondok tengah sawah. Kebetulan pada hari kejadian suami korban mengantar nenek mertua yang berprofesi sebagai tukang pijit ke pelanggan di perkampungan setempat. Tinggallah di pondok tersebut korban dan ayah mertuanya. Korban yang merebahkan tubuhnya karena kelelahan terlebih lagi sedang hamil dua bulan, menarik perhatian mertuanya. Sarung yang dikenakan korban ditarik sang mertua yang birahinya sudah memuncak. Tanpa bisa menolak, korban digauli. Setelah kejadian suami dan nenek korban pulang tanpa melihat ada kejanggalan dan situasi berlangsung biasa-biasa saja. Bahkan suami korban sempat memberikan nafkah bathin kepada sang istri sebelum mereka balik ke Alas Barat. Setiba di Alas, korban tidak langsung pulang ke rumah suaminya melainkan mampir di rumah neneknya. Kepada neneknya ini korban menceritakan ikhwal kasus yang menimpanya. Tentu saja sang nenek marah dan melarang korban pulang karena di rumah, suaminya tinggal bersama mertua korban. Karena korban tak pulang, suami datang menjemput dan korban bersikeras untuk tidak pulang tanpa memberikan alasan. Suami korban menjadi emosi lalu menampar korban. Setelah penamparan itu, korban ditemani neneknya melaporkan kasus dugaan pemerkosaan yang dilakukan mertuanya ke Polsek Alas Barat, tepatnya 11 Mei lalu. Untuk proses penyidikan, polisi memanggil sejumlah saksi termasuk suami korban. Ketika diperiksa penyidik barulah sang suami mengetahui apa yang telah terjadi. Suami bingung dan tidak bisa berbuat apa-apa karena di satu sisi yang menjadi korban adalah istrinya dan di sisi lain sebagai pelaku adalah ayah kandungnya.

Baca Juga  Tes Urine, Tiga Polisi Positif Narkoba

Inilah yang menyulitkan penyidik untuk mengungkap kasus ini karena suami korban memberi keterangan setengah hati. Kesulitan lainnya, polisi masih berusaha untuk membuktikan adanya pemaksaan atau pengancaman yang dilakukan mertua terhadap korban. Sebab korban yang mengaku kelelahan hanya bisa pasrah disetubuhi mertua. Dan saat berhubungan badan, korban juga mengaku mencapai klimaks. Demikian dengan mertua korban, yang membantah adanya pemaksaan dan menyatakan dilakukan atas dasar suka sama suka. “Jadi sejauh ini kasusnya belum bisa kami tingkatkan ke proses penyidikan, kecuali suami korban ingin melaporkan kasus dugaan perzinahan. Artinya baik korban maupun mertuanya dapat dijerat hukum,” ujarnya.

Meski demikian upaya penyelidikan masih terus dilakukan dengan pemeriksaan saksi-saksi, cek lokasi dan gelar perkara. Mengenai diamankannya mertua korban, IPTU Tri mengatakan untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan. Pasalnya pasca kejadian itu situasi di Alas Barat sempat memanas. “Mertuanya diamankan, dan korban dijemput keluarganya untuk dibawa ke Lombok,” demikian Kasat IPTU Tri Prasetiyo. (*)

iklan bapenda