Menteri Bapenas Resmikan Pembangunan UTS

oleh -0 views
bankntb

Andrinof: Kita Punya Mimpi yang Sama

Sumbawa Besar, SR (10/05/15)

Science and Techno Park (STP) benar-benar resmi ditempatkan di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Hal ini dibuktikan dengan peletakan batu pertama pembangunan STP oleh Menteri Negara Badan Perencanaan Nasional (Bapenas) Republik Indonesia, Andrianof Chaniago di lahan kampus tersebut, Sabtu (9/5).

Bupati Sumbawa Sematkan "Bulu Perindu" di Jari Menteri Bapenas
Bupati Sumbawa Sematkan “Bulu Perindu” di Jari Menteri Bapenas

Sebelumnya Menteri Bappenas bersama rombongan disambut Dewan Penasehat UTS, Dr H Zulkieflimansyah SE M.Sc, Bupati Sumbawa Drs H Jamaluddin Malik beserta jajarannya di Bandara Sultan Kaharuddin. Ikut dalam rombongan Menteri di antaranya Abdul Kahar—Direktur LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), dan Gubernur NTB yang diwakili Kadis Pertanian Ir H Mokhlis M.Si. Menariknya, bupati langsung menyematkan Cincin Batu Akik Sumbawa di jari menteri yang dikenal berpenampilan sederhana ini.

menteri andrinof 1Pada acara peletakan batu pertama STP, Menteri Bapenas Andrianof Chaniago mengungkapkan bahwa perubahan dan perbaikan harus dimulai dari mimpi, tentunya mimpi yang masuk akal. Dan mimpi seorang ilmuwan dan scientis, bukan mimpi orang yang nongkrong di warung kopi. “Saat ini kita bertemu jodoh karena sama-sama punya mimpi,” kata Andrinof—sapaan singkat pendiri Cirus Surveyors Group ini.

Dengan membangun STP, menurut Andrinof, berarti bermimpi untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Terlebih lagi membangun STP ini merupakan program yang menjadi angan-angannya sebelum ditunjuk menjadi salah satu menteri di Kabinet Kerja Pemerintahan Jokowi. “Alhamdulillah ketika dipercaya menjadi menteri, angan-angan ini dapat diwujudkan dalam RPJM (Rencana Program Jangka Menengah) dan kita punya program membangun 100 Techno Park di sejumlah daerah,” ungkap Andrinof.

Baca Juga  Gantikan Tarunawan, Repi Narkhoda Baru PERHIPTANI Sumbawa
Menteri Bapenas didampingi Kadis Pertanian NTB, Ir H Mokhlis M.Si
Menteri Bapenas didampingi Kadis Pertanian NTB, Ir H Mokhlis M.Si

SDA Melimpah, Pertumbuhan Ekonomi Melambat

Lebih jauh dikatakan Andrinof, Indonesia adalah bangsa yang dianugerahi kekayaan alam yang berlimpah. Namun harus disadari bangsa ini secara perlahan semakin jauh ketinggalan dari negara yang tidak memiliki apa-apa, baik SDA maupun lokasi yang bagus. Akibatnya, bangsa ini menjadi terombang ambing karena direcoki dengan berbagai persoalan bangsa seperti TKI, buruh tani, dan nelayan. “Apakah langkah kita yang pendek dan lamban ini kita biarkan, sementara orang lain langkah panjang dan lebih cepat ? kenapa itu terjadi ? Karena kita berpikir tidak jauh ke depan. Ini tidak boleh terus dibiarkan,” tukasnya.

Yang sangat disesalkannya adalah orang-orang yang mendapat akses baik ekonomi maupun kekuasaan tidak memikirkan jauh ke depan. Buktinya, para penguasa lebih suka menjual kekayaan alam yang masih mentah ke negara lain, membantu peningkatan daya saing negara lain, dan membiarkan daya saing negara sendiri tetap lemah. Selain itu membantu peningkatan kualitas ekonomi bangsa lain dan membiarkan kualitas bangsa sendiri tetap memburuk. “Jika dilihat secara agregat ekonomi kita jalannya terbalik untuk menuju ekonomi yang kuat dan berkualitas,” sesalnya.

Negara yang ekonominya kuat karena peranan industrinya yang besar. Tetapi di Indonesia peranan industrinya mengecil. Peranan Ekonomi manufaktur terhadap PDRB dari tahun ke tahun mengecil, sedangkan tingkat ketimpangan sosial ekonomi meningkat. Ini mencerminkan sector-sektor yang menghasilkan pertumbuhan dan pendapatan tinggi, jatuh ke tangan segelintir pihak. Dan sektor itu adalah sektor pengerukan dan penjualan barang mentah. Sektor ini menghasilkan margin keuntungan yang luar biasa. “Marjin keuntungan pertambangan itu 50 persen. Tapi kalau industry maufaktur hanya 7,8 persen, peluangnya tidak adil,” ucapnya.

Baca Juga  Pasebaya Agung Turun Gunung Tenangkan Warga KRB

Ketika industri itu tidak memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, artinya ada masalah dalam pengelolaannya. Daya serap dalam sector pertambangan itu paling kecil, sehingga kemampuan dalam menyediakan lapangan kerja paling kecil namun itulah yang terus dinikmati. Akhirnya secara disadari justru mensejahterakan sebagian kecil orang. “Disinilah kita berpikir, bagaimana kita memanfaatkan sumberdaya alam itu sesuai dengan amanat pasal 33 ayat 3 UUD 1945,” pungkasnya.

Sementara itu Bupati Sumbawa diwakili Kepala Bappeda, Ir Iskandar M.Dev meyakini STP menjadi kenyataan. Keyakinan ini setelah ia menghadiri langsung “Kick of 100 STP Indonesia” di Bandung. Dari presentasi para pengelola STP di Solo, Rektor UGM, dan Bandung Techno Park, Ande—sapaan pejabat cerdas ini optimis mampu menciptakan situasi bermimpi lebih jauh dari mimpi pertama ini. Di Solo misalnya, masyarakat di sana sudah menikmati hasil dari STP karena peran dari akademisi pada perguruan tinggi untuk menemukan persoalan utama semua keinginan dasar bagi pemenuhan dasar masyarakat. “Kami menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat dalam hal ini Menteri Bappenas yang telah mempercayai Kabupaten Sumbawa sebagai lokasi pembangunan STP,” pungkasnya. (*)

iklan bapenda