Halim: Saya Hanya Beladiri Karena Nyawa Terancam

oleh -3 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (09/05/15)

Penyesalan selalu datangnya terlambat. Itulah yang dirasakan Abdul Halim (37) warga Desa Ai Paya, Kecamatan Tarano, Kabupaten Sumbawa. Ayah tiga anak ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya karena menghilangkan pergelangan tangan kiri sepupunya, Kamaruddin (25) warga Kecamatan Plampang. Namun apa yang dilakukannya semata-mata untuk membela diri. Yang patut disyukurinya karena nyawa sepupunya itu masih terselamatkan.

amdal
Tersangka Abdul Halim
Tersangka Abdul Halim

Saat ditemui di ruang Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Sumbawa, Abdul Halim mengaku tak percaya harus berurusan dengan hukum. Dia yang hanya seorang petani dan selama hidupnya tidak pernah berbuat hal-hal yang berisiko hukum terpaksa meringkuk di balik jeruji besi. Sebenarnya ini tidak akan terjadi jika nyawanya tidak terancam. Dituturkannya, Rabu (6/5) malam sehari sebelum kejadian dia mendapat laporan dari keluarga besarnya jika salah seorang sepupunya sebut saja Bunga menjalin asmara dengan korban (Kamaruddin) yang juga masih sepupu dengannya. Selain Bunga masih di bawah umur juga harus menyelesaikan sekolahnya karena saat ini masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Apalagi korban sudah memiliki istri yang dinilai hubungan asmara itu akan merusak masa depan Bunga. Setelah memberikan wejangan, tersangka (Halim) menemui korban yang malam itu sedang bersama teman-temannya di sebuah tempat. Tersangka meminta korban untuk mengakhiri hubungan asmara itu. Antara sadar dan tidak, korban sepertinya tidak menggubris karena diduga menenggak sesuatu. Esok harinya, Kamis (7/5) sore sekitar pukul 18.00 Wita, tersangka bersama istrinya yang baru pulang dari ladang di hadang korban di dekat lapangan bola Dusun Jompong Kecamatan Plampang. Sambil menghunus pedang, korban mempersoalkan teguran pada malam itu dan mengancam akan menghabisi tersangka. “Istri saya ketakutan karena dia (korban) sudah siap menyerang,” kata Halim.

Baca Juga  Antisipasi Arus Mudik, Sopir akan Dites Urine
Putus, telapak tangan kiri korban
Putus, telapak tangan kiri korban

Tidak ada jalan lain kecuali melawan karena Ia merasa jika tidak bertahan maka nyawanya akan melayang. Dengan parang yang terselip di pinggang karena baru dari ladang, tersangka menyatakan siap meladeni. Akhirnya terjadi perkelahian dan berlangsung seru sehingga mengundang perhatian warga sekitar yang terus berteriak. Bagaikan film silat suara parang dan pedang yang saling bersentuhan ini cukup nyaring dan alot. Mungkin karena tersangka lebih cekatan, membuat korban kewalahan dan memilih menghindar sejauh 10 meter. Dalam jarak itu korban melempar pedangnya kearah tersangka. Pedang itu melesat tajam mengenai bahu sebelah kiri tersangka yang menyebabkan bajunya robek dan bahunya mengalami luka gores dan memar.

Korban pun kabur dan sempat dikejar tersangka sejauh beberapa meter. Tersangka tak meneruskan pengejarannya dan hendak berbalik arah ke tempat istrinya yang terlihat semaput. Tanpa diduga korban berbalik mencoba menyerang tersangka dengan sarung pedang yang masih dipegangnya. Kemungkinan korban mengira sarung pedang di tangannya adalah pedang, dan yang dilempar ke arah tersangka adalah sarung pedang.

Pertarungan ronde kedua pun terjadi. Ketika parang tersangka mengarah ke kepala korban, secara reflek korban menangkis menggunakan tangan kirinya. Crassss…..lengan kiri korban putus dan terlempar di tanah. Darah segarpun mengucur deras muncrat mengenai baju tersangka. Seketika korban lunglai lalu jatuh pingsan. Dalam kondisi yang masih kalap tersangka memegang leher korban berniat untuk dipenggal. Saat parang diacungkan untuk diarahkan ke leher korban, tersangka tersadar bahwa yang ingin dihabisinya ini adalah adik sepupunya sendiri. Tersangka langsung lemas, dan muncul rasa penyesalan. “Saya menangis menyesali mengapa perkelahian itu harus terjadi. Apalagi saya melihat telapak tangan sepupu (dua) saya itu tergeletak di tanah,” ujarnya lirih.

Baca Juga  ALIM Ajukan Rekaman Saksi Kunci, Dokumen dan Saksi Menyusul

Tak berselang lama muncul beberapa warga dan beberapa di antaranya memeluk tersangka karena menganggap tersangka bisa menahan diri dan tidak membunuh korban. “Saya benar-benar menyesal, ini pertama kali dalam hidup saya,” ucapnya.

Tersangka ditangkap polisi di kediamannya, Kamis (7/5) sekitar pukul 18.30 Wita. Selanjutnya tersangka dibawa dan ditahan di Mapolres Sumbawa setelah dijemput Tim Buru Sergap (Buser) Reserse dan Kriminal (Reskrim). Selain itu pihak Polsek Plampang mengamankan barang bukti satu telapak tangan korban yang dipungut di tanah. Sedangkan korban yang dari tangannya mengalir darah segar dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. (*)

 

iklan bapenda