Klinik Ditutup, 54 Karyawan Bakal Menganggur

oleh -0 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (30/04/15)

Kepala Perawat Klinik Lawang Gali Sumbawa Besar, Hj Fatmawati Malik memastikan bahwa klinik tersebut sudah tidak beroperasi sejak 19 April 2015 lalu. Sejak saat itu klinik menolak pasien yang datang untuk mendapat pelayanan medis, sehingga dokter, perawat dan bidan sudah tidak beraktivitas lagi. Ini terjadi karena permohonan perpanjangan ijin HO hingga kini belum diterbitkan KPPT karena adanya sikap penolakan dari warga sekitar. “Kita masih menunggu sikap pemerintah mengenai nasib operasional Klinik Lawang Gali,” kata Hajja Fat—sapaan akrabnya saat ditemui di Kantor KPPT, Rabu (29/4) kemarin.

amdal
Klinik Lawang Gali Sumbawa
Klinik Lawang Gali Sumbawa

Disebutkan Hj Fat, ada 54 karyawan mulai dari bidan, perawat, staf administrasi, hingga cleaning service dan Satpam, menggantungkan nafkahnya di klinik tersebut. Sampai saat ini mereka tetap masuk kantor dan rencananya hingga 30 April, hari ini. Jika perpanjangan ijin HO masih tetap tidak terbit hingga waktu tersebut, dengan sendiri puluhan karyawan ini berhenti bekerja. “Kami tidak tahu bagaimana nasib karyawan selanjutnya,” ucapnya.

Disinggung mengenai kedatangannya di KPPT, Hj Fat ingin mengetahui hasil pertemuan sejumlah SKPD dengan warga Kelurahan Brang Bara terutama yang berada di sekitar klinik. Sebab rapat tersebut tidak dihadiri pihak klinik, karena ada permintaan warga agar pemilik klinik dihadirkan dan tidak dapat diwakili.

Selama ini diakui Hj Fat, pihak klinik selalu memperhatikan keberadaan warga sekitar. Setiap yang membutuhkan pelayanan medis di klinik selalu mendapat kompensasi di antaranya dibebaskan biaya kamar dan visite dokter. Selain itu mengenai limbah klinik yang dikeluhkan, sebenarnya sudah terkelola dengan baik karena ada penampungan dan tidak mencemari lingkungan.  Ia berharap operasional klinik tidak ditutup, dan masyarakat sekitar dapat memberikan kesempatan kepada pihak klinik untuk membenahi ketidaksempurnaan yang ada.

Baca Juga  Kenaikan Iuran BPJS Bebani Daerah, Fraksi PKS KSB Minta Tinjau Ulang

Sebelumnya Kepala KPPT Sumbawa, Wirawan S.Si MT mengaku belum dapat merealisasikan permohonan perpanjangan ijin HO yang diajukan Heryanto selaku pemilik klinik tersebut. Sebab sejumlah warga di sekitar klinik yang telah beroperasi beberapa tahun yang lalu, menolak perpanjangan ijin HO tersebut. Artinya tanpa ijin HO, Klinik Lawang Gali tidak dapat beroperasi. Penolakan warga ini terungkap dalam pertemuan yang digelar di KPPT Sumbawa, Selasa (28/4) siang. Hadir dalam pertemuan yang dipimpin Kepala KPPT, Wirawan S.Si MT adalah perwakilan dari BPM-LH, Dinas PU, Satpol PP, Camat Sumbawa dan Lurah Brang Bara, serta 18 orang warga sekitar Klinik Lawang Gali.

Pertemuan itu menurut Wirawan, dihajatkan untuk mendengarkan aspirasi masyarakat serta alasan-alasan yang menyertai adanya penolakan tersebut. Dari pertemuan itu, warga secara bulat menyatakan sikap menolak perpanjangan ijin HO. Bahkan yang sebelumnya menyetujui, sekarang sudah ikut menolak. Terkait penolakan ini ungkap Wirawan, KPPT beserta SKPD terkait menyarankan agar pemohon (Heryanto) melakukan pendekatan dengan masyarakat sekitarnya jika ingin klinik tersebut tetap beroperasi. Pasalnya, dengan adanya penolakan itu tentu saja pemerintah belum dapat menerbitkan permohonan ijin HO. Karena salah satu persyaratan terbitnya ijin HO yaitu adanya persetujuan masyarakat. (Jen)

 

iklan bapenda