UTS akan Sulap Mikroalga Jadi Biodiesel

oleh -0 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (22/04)

Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) tengah fokus mengembangkan mikroalga menjadi biodiesel. Untuk mendukung upaya ini, UTS telah menjalin kerjasama dengan Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang. Kerjasama juga terjalin dengan Pertamina. Hal tersebut dilakukan UTS sebagai bentuk konstribusi dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak yang selama ini kerap dipersoalkan. Program besar itu diungkapkan Rektor UTS, Dr Arief Budi Witarto Ph.D saat melakukan kunjungan silaturrahmi di DPRD Sumbawa, Rabu (22/4).

amdal

Doktor Arief yang didampingi Warek V M Aries ZA MM dan Kabag Humas UTS Dina Raisya Rasyidi S.Sos menjelaskan, mikroalga adalah alga berukuran mikro yang biasa dijumpai di laut. Mikroalga merupakan spesies uniseluler yang dapat hidup soliter dan berkoloni. Berdasarkan spesiesnya ada berbagai macam bentuk dan ukuran mikroalga. Tidak seperti tanaman tingkat tinggi, mikroalga tidak memiliki akar, batang, dan daun. Dan di perairan Sumbawa kaya akan spesies ini. Karenanya sangat berpotensi untuk menghasilkan biodiesel.

MikroalgaDiMikroalga 1

Indonesia, ungkap Doktor Arief, biodiesel dihasilkan dari kepala sawit. Untuk mendapatkan sawit dibutuhkan lahan yang sangat luas sedangkan alga hanya membutuhkan lahan yang jauh lebih sedikit. Ini sangat cocok untuk daerah di Indonesia bagian timur yang sebagian besar kepulauan dengan daratan yang sempit dan wilayah perairan yang luas. Lahan sempit ini tidak potensial dijadikan lahan perkebunan, namun perairan yang luas cocok mengembangkan mikroalga seperti di Kabupaten Sumbawa. Inilah salah satu alasan mengapa UTS menggunakan alga daripada sawit. “Dalam satu hektar bisa menghasilkan 34 ton mikroalga, 6 kali lipat dari sawit yang hanya 6 ton dalam satu hektar. Jadi alga sangat ekonomis,” jelasnya.

Sejauh ini yang sudah mengembangkan mikroalga menjadi biodiesel adalah Jepang dan Amerika. Mereka membuat kolam di pinggir pantai untuk menampung air laut dan tidak jauh beda dengan bentuk tambak udang. Untuk proyek itu UTS sudah bekerjasama dengan Tokyo University. Sebab Tokyo University telah bekerjasama dengan J-Power—sebuah perusahaan minyak pemerintah Jepang yang terletak di Okinawa. Namun pengembangan Alga di Jepang kurang bagus mengingat Alga membutuhkan suhu tropis sedangkan di Negeri Sakura itu adalah daerah dingin. Meski demikian hasil biodiesel dari Tokyo University ini telah digunakan Yamaha.

Baca Juga  Selamat !! UNSA Naik Peringkat

Selain dengan Tokyo University kata Doktor Arief, UTS telah meyakinkan Pertamina bahwa proyek biodiesel mikroalga ini bukan teknologi main-main atau ajang coba-coba tapi sudah proven (terbukti). Pertamina pun menyambut gembira sebab selama ini biodiesel hanya dihasilkan dari Sumatera dan Jawa mengingat di sana ada kebun sawit. “Komitmen yang terjalin adalah Pertamina akan membeli, tugas UTS membuat teknologi yang menghasilkan produk. Dan untuk proyek ini kami memiliki partner dari Jepang,” ucap Doktor Arief.

Kembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa

Tidak hanya mikroalga menjadi biodiesel, program lain yang akan dilakukan UTS adalah mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa. Daya pembangkit berbahan baku bambu ini tidak besar hanya 2 Megawatt (MW). Dalam mengembangkan proyek ini, UTS telah menandatangani MoU dengan Elnusa—anak perusahaan Pertamina di Jakarta, Maret 2015 lalu. lingkup kerjasama ini di antaranya Elnusa akan menjadi investor, UTS menyediakan bibit dan teknologi, sedangkan hasilnya nantinya akan dibeli PLN. “UTS telah menyiapkan lahan untuk penanaman bibit bambu untuk bahan pembangkit listrik,” katanya.

Science and Techno Park

Di bagian lain Doktor Arief perlu menjelaskan tentang Science and Techno Park (STP) yang sempat dipolemikkan karena akan dibangun di sekitar UTS. Keberadaan STP diarahkan untuk mendukung pertanian dan pertambangan di Kabupaten Sumbawa. Keberadaan STP di Sumbawa bukan hasil penunjukan melainkan kompetisi dengan daerah lain. Karena STP bukan sekedar teknologi tepat guna tapi merupakan teknologi canggih yang menjadi bagian dari program Nawacita pemerintahan Jokowi untuk pemerataan pembangunan.

STP bukan tempat pelatihan seperti BLK, melainkan tempat penelitian, pengembangan, diseminasi, teknologi, dan advokasi bisnis. “Jadi STP menghasilkan teknologi yang bisa dipakai masyarakat dalam mengembangkan keunggulan daerah berbasis teknologi agar ekonomi masyarakatnya menjadi maju,” tandasnya.

Misalnya yang marak saat ini adalah pertambangan rakyat yang menggunakan bahan kimia berbahaya baik bagi lingkungan maupun kesehatan. Untuk menangani hal ini, UTS telah menjalin kerjasama dengan BPPT yang sudah memiliki tekhnologi pertambangan rakyat yang ramah lingkungan. “BPPT siap membantu STP di UTS untuk menghasilkan teknologi tersebut, sehingga tambang di Sumbawa tidak hanya dinikmati industry besar tapi juga masyarakat dengan cara yang ramah lingkungan,” terangnya.

Baca Juga  Mahasiswa Biologi UNSA Teliti Aphodius Marginellus

Selanjutnya di bidang pertanian dan peternakan. Dengan keberadaan STP yang menerapkan teknologi terkini akan menghasilkan nilai tambah di bidang tersebut. Salah satu contoh, ternak sapi di Jepang. Dengan sentuhan teknologi, daging yang diberi merk “Wagyu” memiliki lemak yang berada di tengah-tengah daging. Umumnya lemak ini berada terpisah dari daging. Karena sudah mendapat sentuhan itu harga daging menjadi mahal. Sekilo daging ‘wagyu’ dijual Rp 2,5 juta. “Ini salah satu contoh teknologi yang membuat nilai tambah. Harapannya kita tidak perlu lagi menjual sapi hidup melainkan sudah dalam bentuk daging yang nilai tambahnya lebih tinggi,” tandasnya. Demikian dengan teknologi pelayuan. Daging menjadi empuk sehingga dapat dibuat steak yang harganya sudah pasti mahal. “Inilah bagian kecil manfaat keberadaan STP untuk mengembangkan teknologi-teknologi itu,” pungkasnya.

Dukungan Pemerintah

Tukar Cinderamata, Ketua DPRD Lalu Budi Suryata SP Didampingi Kamaluddin ST M.Si bersama Rektor UTS Dr Arief Budi Witarto dan Warek V M Aries ZA MM
Tukar Cinderamata, Ketua DPRD Lalu Budi Suryata SP Didampingi Kamaluddin ST M.Si bersama Rektor UTS Dr Arief Budi Witarto dan Warek V M Aries ZA MM

Sementara itu Ketua DPRD Sumbawa, Lalu Budi Suryata SP mengatakan siap memberikan dukungan penuh atas upaya UTS dalam mengembangkan program berbasis teknologi. Seperti pengembangan mikroalga menjadi biodiesel, pembangkit listrik tenaga biomassa, dan Science and Techno Park (STP) yang semuanya berbasis kearifan lokal. “Ini luar biasa, kami bangga dan patut didukung karena menjadi sebuah harapan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera,” katanya.

Hal senada diungkapkan Wakil Ketua DPRD, Kamaluddin ST M.Si yang memberikan apresiasi kepada UTS yang terus mengembangkan teknologi. Ia merasa optimis di masa mendatang Sumbawa akan menjadi pusat ilmu pengetahuan yang siapapun dari segala penjuru akan datang menimba ilmu karena ada perguruan tinggi berkualitas yang mampu melahirkan generasi emas. Pemerintah kata Kamal—sapaan akrab politisi PPP ini akan terus memberikan support tidak hanya kepada UTS tapi juga perguruan tinggi lain yang mampu meretas persoalan daerah. (Jen)

iklan bapenda