Ditetapkan Sebagai Lokasi STP Karena UTS Unik

oleh -10 views
Ketua Dewan Penasehat UTS, Dr H Zulkieflimansyah SE M.Sc
bankntb

Sumbawa Besar, SR (16/04)

Penetapan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) sebagai lokasi Science and Techno Park (STP) yang ditandai penandatanganan dokumen oleh Menristek Dikti dengan Bupati Sumbawa ternyata mengundang reaksi. Salah satunya reaksi dari Rektor Universitas Samawa (UNSA), Prof Dr Syaifuddin Iskandar M.Pd yang menilai Pemda Sumbawa tidak adil dalam menunjuk UTS sebagai lokasi keberadaan STP. Rektor meminta keberadaan STP ditinjau kembali sekaligus mendesak agar ditempatkan di lokasi netral.

amdal

Reaksi ini disikapi Ketua Dewan Penasehat UTS, Dr H Zulkieflimansyah SE M.Sc. Kepada wartawan media ini, Doktor Zul sapaan akrabnya, memahami reaksi Rektor UNSA karena kemungkinan memperoleh informasi yang keliru atau kurang lengkap mengenai STP sehingga mengira bahwa yang menentukan lokasi STP itu Pemda Sumbawa. “Ini bisa dimengerti kalau beliau yang sudah saya anggap abang saya sendiri bereaksi seakan-akan kalau lokasinya di UTS terkesan tidak adil karena di Sumbawa universitas bukan hanya UTS tapi banyak juga yang lain,” kata Doktor Zul.

Bersama Rektor Lund University Prof Per Eriksson (Kerjasama Techno Park) di Swedia, Oktober 2014
Bersama Rektor Lund University Prof Per Eriksson (Kerjasama Techno Park) di Swedia, Oktober 2014

Penandatanganan yang terkesan mendadak dan tanpa komunikasi dengan universitas di Sumbawa selain UTS tentu mengundang kecurigaan yang menduga ada perlakuan khusus karena kedekatan relasi, kekuatan loby dan lainnya. Padahal menurut Doktor Zul, sebenarnya tidak demikian. STP ini adalah program pemerintah pusat dan yang menentukan lokasi dimana STP itu berada adalah pemerintah pusat. STP ini salah satu program andalan pemerintahan Jokowi—JK, sehingga penentuan lokasinya tidak mudah apalagi dilakukan secara asal-asalan. Jadi, lokasi STP harus memiliki kekhususan dan kekhasan yang tidak dimiliki oleh lokasi lain. UTS sendiri di mata pemerintah memiliki keunikan. Dan hal ini diakui Doktor Zul meski sebagai institusi pendidikan yang masih relative baru, UTS memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh universitas dan daerah lain. UTS sangat menonjol dan kuat di bidang Bioteknologi dan Metalurgi yang sudah dibuktikan dengan prestasi mengagumkan bukan hanya di level nasional bahkan juga internasional.

Untuk bidang bioteknologi dan metalurgi UTS dari segi SDM dosen dan mahasiswanya tidak kalah jika dibandingkan dengan Universitas Indonesia (UI), ITB dan UGM sekalipun. “Jadi pemerintah melihat UTS akan menjadi case yang menarik untuk mengembangkan dua area ini. Untuk Bioteknologi, Sumbawa kaya dengan biodiversitas apalagi untuk metalurgi dan pertambangan, sumber daya kita di Sumbawa sangat melimpah,” bebernya.

Baca Juga  Polres Sumbawa Minta Pelajar Tidak Melanggar Agar Selamat

Alasan inilah yang membuat dirinya yang ketika itu masih menjadi Rektor UTS menyanggupi tantangan Menteri Bappenas agar UTS mampu menampilkan kekhususan yang membedakannya dengan daerah lain, serta menjadi pusat bioteknologi nasional juga pusat metalurgi dan material baru.

Karena telah menyatakan kesanggupan ia mulai menyiapkan presentasi dan kajian mendalam tentang hal tersebut. Kesanggupan ini juga yang membuat dirinya bersama pimpinan ITB, BPPT, LIPI. LPDP dan Kemenristek Dikti mendalami STP ini di Universitas of Lund di Swedia, Oktober 2014 lalu. “Dan saya tahu saat itu pemerintah menetapkan UTS sebagai salah satu lokasi STP di Indonesia timur. Saya kira kehadiran STP di Batu Alang sudah pernah beberapa kali dimuat di media lokal. Mungkin Rektor UNSA tidak pernah atau luput membacanya,” ujar Doktor Zul.

Dalam kesempatan itu Ia ingin menyampaikan bahwa upaya UTS menjadi lokasi STP tidak diperoleh dengan mudah. UTS berkompetisi dengan universitas dan lembaga penelitian lain. Presentasi dan debat mendalam dilakukan di Bappenas, Menristek Dikti, LIPI dan BPPT. “Prosesnya panjang dan melelahkan, bukan ujug-ujug diusulkan Pemda terus memilih UTS. Dan UTS dipilih bukan sekedar karena saya politisi, tapi secara akademik memang saya dan Rektor UTS sekarang punya otoritas akademik terhadap persoalan STP ini, mengingat background kami tentang STP ini kuat maka pemerintah tanpa ragu menunjuk UTS sebagai lokasi STP. Tanpa menyombongkan diri dari sisi penguasaan substansi tentang STP, UTS saya kira salah satu lokasi yang paling siap di Indonesia bersama Bandung Techno Park,” tandasnya.

Lalu bagaimana peran Pemda Sumbawa ?. Secara jujur, kata Doktor Zul, tanpa Pemda pun lokasi STP itu akan tetap di UTS karena secara substansi perguruan tinggi di kaki Bukit Olat Maras ini siap bersaing dengan lokasi manapun. Tapi pemerintah pusat ingin juga ada disemenasi informasi dan keberadaan STP menghadirkan eksternalitas positif untuk daerah sekitarnya. Karenanya Pemda Sumbawa perlu dilibatkan untuk berpartisipasi sehingga memiliki tanggung jawab bersama menjaga kesinambungan STP ini.

Baca Juga  Resmi Dilantik, Dewan Pendidikan dan FKKS Langsung Bekerja

Pemda Sumbawa memiliki banyak keterbatasan, SDM yang memahami STP secara substansi juga terbatas, dan menyiapkan bangunan fisik pun terasa sulit. Salah satu yang bisa dilakukan Pemda sebagaimana pemda daerah lain adalah menyediakan lahan. “Saya tahu betul urusan lahan di Sumbawa tak sederhana, rumit dan prosesnya lama, padahal peluang ada di depan mata dan harus dieksekusi segera karena banyak daerah yang berminat,” imbuhnya.

Karenanya UTS rela menghibahkan tanahnya ke Pemda Sumbawa sebagai bentuk partisipasi Pemda dalam kegiatan STP ini. Selanjutnya kepala bappeda dan bupati tanpa ragu secara cepat merespon dan membuat surat emdorsement tentang STP di Sumbawa. “Itu kisahnya agar Abang saya Rektor UNSA jangan salah paham,” tukasnya.

Untuk diketahui, endorsement Bupati dan Kepala Bappeda Sumbawa kepada UTS diharapkan bukan hanya terhadap masalah STP ini, ada banyak hal lain yang akan menyusul lebih besar dan menantang dibandingkan dengan STP tersebut. “Kami sangat berterima kasih kepada Pemda Sumbawa dan Pemda NTB yang banyak sekali memberikan endorsement cepat dan bersemangat,” ucapnya.

Ia berharap Rektor UNSA tidak menyalahkan Pemda karena banyak inisiatif dan ide datang dari UTS. UNSA menurut Doktor Zul sudah lebih dulu ada dan memiliki banyak dosen yang hebat-hebat. Karenanya Ia mengajak untuk menyongsong peluang dan mengoptimalkan semua potensi dengan mental berkelimpahan dan berpikir win-win. Di bagian lain Doktor Zul menyatakan tidak mungkin menghambat kemajuan UNSA karena secara pribadi sudah cukup banyak membantu UNSA. “Saya justru mengagumi kiprah beliau (Rektor UNSA) sebagai perintis awal pendidikan tinggi di Tana Samawa,” demikian Doktor. (*)

iklan bapenda