Dinilai Anarkis, Pemda akan Polisikan Pentolan HMI

oleh -1 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (10/04)

Dinilai anarkis karena melakukan pengrusakan terhadap aset pemerintah, pentolan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sumbawa akan dipolisikan. Upaya ini ditegaskan Bupati Sumbawa, Drs H Jamaluddin Malik yang mendapat laporan beberapa lampu taman kantor Bupati hancur dirusak massa HMI yang menggelar aksi demo menuntut melengserkan Presiden Jokowi, di Kantor Bupati Sumbawa, belum lama ini. “Nanti saya perintahkan staf untuk lapor polisi terkait kasus pengrusakan,” kata JM—sapaan singkat Bupati Sumbawa, Jumat (10/4).

Dicegat usai menerima peserta Tambora Bike di Lapangan Pahlawan, JM menyesalkan cara menyampaikan aspirasi massa HMI. Sangat tidak dibenarkan jika ingin memperjuangkan kebenaran dengan cara yang salah. “Ketika kebenaran diperjuangkan harus juga dengan cara yang benar,” tukasnya.

Jika mereka mengaku dari kalangan intelektual dan cerdas, tambah JM, sudah pasti melakukan hal-hal yang cerdas dan mengerti mekanisme bagaimana cara menyampaikan aspirasi yang benar.

Merusak, anggota HMI Diamankan Satpol PP
Merusak, anggota HMI Diamankan Satpol PP

Seperti diberitakan Puluhan massa yang tergabung Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sumbawa terlibat bentrok dengan anggota Satpol PP. Ini terjadi setelah massa HMI gabungan Sumbawa, Bima, Dompu dan Makasar ini menggelar aksi demo di halaman Kantor Bupati Sumbawa, Rabu (8/4) pagi. Aksi damai yang berubah anarkis ini menyebabkan beberapa korban terluka baik dari HMI maupun Satpol PP, termasuk salah satu dari massa HMI jatuh pingsan terkena pukulan. Selain itu dua bola lampu yang tepat berada di taman depan ruang Bupati hancur. Situasi ini terkendali setelah puluhan anggota kepolisian yang dipimpin Kasat Intelkam AKP M Hatta dan Kanit Provost IPDA Buhari Tamal, turun tangan.

Baca Juga  Menyamar Jadi Pembeli, Polisi Ringkus Kurir Ekstasi

Kisruh aksi demo ini bermula ketika massa HMI yang mendatangi Kantor Bupati Sumbawa menggunakan satu unit roda empat dan beberapa roda dua berorasi menuntut Presiden Jokowi diturunkan karena dianggap tidak mampu menjadi seorang pemimpin sehingga Indonesia menjadi negara gagal.

Setelah puas berorasi, massa hendak merangsek ke halaman parkir mobil dinas Bupati. Namun keinginan massa ini dihalangi blockade Satpol PP. Aksi saling dorong tak terelakkan, emosinya pun memuncak membuat situasi menjadi ricuh. Puncaknya ketika massa HMI membakar dua buah ban bekas lalu membuat lingkaran agar ban tersebut tidak diganggu. Saat api menyala, pasukan Satpol PP berusaha memadamkannya. Beradu fisik pun terjadi. Kedua belah pihak terlibat baku pukul sehingga terdengar suara histeris massa HMI yang sebagiannya adalah wanita. Polisi turun tangan menenangkan situasi. Dua anggota HMI terpaksa digotong ke mobil karena terkapar dan tidak sadarkan diri. Massa HMI yang marah karena melihat rekannya ini langsung emosi menghancurkan dua bola lampu besar. Selain itu mereka bergerak ke arah Kantor Satpol PP untuk melakukan sweeping mencari oknum anggota Satpol PP yang dituding sebagai pelaku penganiayaan. Upaya ini tak membuahkan hasil karena beberapa anggota Satpol PP sudah menunggu dan menghalau mereka.

Karena aspirasi tak terakomodir dan ambisinya untuk mendapatkan sang penganiaya tak berhasil, akhirnya mereka beranjak ke Kantor DPRD, kemudian berakhir di Polres Sumbawa untuk membukukan laporan polisi terkait tindak pidana penganiayaan yang menimpa rekannya. (*)

iklan bapenda