Tagana Sumbawa Ikut Apel Siaga Tambora Menyapa Dunia

oleh -11 views
bankntb

Dompu, SR (05/04)

Bupati Dompu dan Kadisos NTB
Bupati Dompu dan Kadisos NTB

Tambora menyapa dunia menjadi event yang sangat prestisius. Tidak hanya mengenang sejarah yang sudah berlangsung 200 tahun yang silam, namun keberadaan event tersebut dapat menggairahkan pariwisata NTB. Tentu semua pihak harus berperan dalam menyukseskan kegiatan mengenang meletusnya Gunung Tambora, 5 April Tahun 1815 silam. Salah satunya, Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Sumbawa ikut ambil bagian dalam menyukseskannya. Hal ini bertepatan dengan peringatan HUT Tagana Propinsi NTB ke-11 yang kebetulan memusatkan semua kegiatannya termasuk Apel Siaga Akbar di kaki Gunung Tambora, Desa Doropeti, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu.

amdal

Dalam kegiatan tersebut, Tagana Kabupaten Sumbawa mengirim 21 pasukan. Tim yang didampingi Sekretaris Dinas Sosial Sumbawa Ir Irin Wahyu Indarni didampingi Kabid Banjamsos Syarifah S.Sos M.Si, Kasi Bencana Alam, Asiah SH, dan Ketua LK3 Ety Ariati S.Sos ini akan bergabung dengan 296 personil Tagana dari 9 kabupaten/kota di NTB termasuk Tagana Propinsi yang mengirim sekitar 31 anggotanya. Di sana pasukan akan menggelar bhakti sosial selama tiga hari 2—4 April, termasuk membuka dapur umum lapangan (Dumlap). Selain itu menggelar mitigasi bencana melibatkan relawan Kampung Siaga Bencana (KSB) dan masyarakat sekitar sehingga diharapkan akan memiliki pengetahuan atau wawasan dalam melakukan pencegahan dini terhadap munculnya bencana guna meminimalisir resiko atau dampak yang ditimbulkan. “Kegiatan ini sangat penting, tidak hanya bagi anggota Tagana sendiri tapi juga masyarakat sekitar sehingga bermanfaat minimal pengetahuan bagi dirinya maupun keluarga untuk dapat terhindar dari bencana,” kata Ipok—sapaan akrab Syarifah S.Sos M.Si.

Tagana Sumbawa Ikut Apel Siaga di Dompu
Tagana Sumbawa Ikut Apel Siaga di Dompu

Sementara itu Kadisos Propinsi NTB, Drs H Husni Thamrin MM melaporkan bahwa Apel Siaga HUT Tagana sekaligus memeriahkan Dua Abad Tambora Menyapa Dunia diikuti sebanyak 296 personil terdiri dari Tagana NTB 31 orang, Mataram 16, Lobar 17, Lombok Utara 12 orang, Loteng 18 orang, Lotim 16, KSB 13 orang, Sumbawa 21, Dompu 27, Bima 32, dan Kota Bima 24 orang. Kegiatan ini dilaksanakan selain ajang refleksi kegiatan Tagana Tahun 2004—2015, juga sebagai upaya membangun jiwa korsa dan peningkatan kualitas dan kuantitas relawan bencana yang siap berada di lini terdepan untuk terjun ke tengah masyarakat yang membutuhkan pertolongan kemanusiaan. “Kami juga hadir di sini ikut berpastisipasi memeriahkan dan menyukseskan kegiatan pemerintah Propinsi NTB yaitu Tambora Menyapa Dunia 2015,” tandasnya.

Baca Juga  Gubernur Sebut Kunci Daya Saing: Lebih Murah, Lebih Cepat dan Lebih Baik
Simulasi bencana
Simulasi bencana

Di tempat yang sama, Bupati Dompu, Drs H Bambang M Yasin saat menjadi inspektur upacara HUT Tagana, meminta Tagana ke depan semakin kompak dan berkiprah lebih banyak dalam proses penanggulangan bencana. Ia menyampaikan apresiasi atas upaya Tagana dalam menciptakan Desa Doropeti sebagai Kampung Siaga Bencana (KSB) dengan memberikan pelatihan kepada sekitar 80 orang warga untuk menjadi relawan kemanusiaan. Hal ini sejalan dengan tema HUT Tagana ke-11 yaitu “Living Harmony With Disaster”. Menurutnya, keberadaan relawan bencana ini sangat penting. Sebab tidak hanya hidup mereka berdampingan dengan bencana namun harus memiliki pemahaman yang utuh tentang ancaman bencana agar dapat menyiapkan diri untuk terhindar dari bencana dan membantu masyarakat yang tertimpa musibah. “Jumlah anggota Tagana sangat terbatas jika dibandingkan dengan luas wilayah khususnya di Dompu, untuk menyiasatinya salah satunya dengan menciptakan relawan-relawan bencana melalui kampung siaga bencana,” katanya.

Di bagian lain, Bupati mengingatkan bahwa Tagana dibentuk untuk tujuan kemanusiaan, bukan untuk kepentingan politik. Karenanya anggota Tagana diminta tidak hanyut dan terbawa arus politik baik nasional maupun lokal. “Anda semua adalah relawan dan harus murni untuk kemanusiaan,” demikian Bupati Dompu.

Tentang Tambora

Letusan Gunung Tambora sungguh tragis. Letusan itu melenyapkan ratusan ribu manusia, baik mereka yang terkena dampak langsung maupun tak langsung. Kisah memilukan ini sesuai dengan nama Tambora yang berasal dari dua kata “ta dan mbora” yang berarti ajakan menghilang.

Menurut mitos yang berkembang, masyarakat di sekitar gunung percaya, kabarnya ada sekitar 4.500 pendaki, pemburu, dan penjelajah yang hilang. Mereka itu tak pernah ditemukan di Gunung Tambora yang kini diselimuti hutan dengan aneka bunga anggrek yang sangat mempesona.

Letusan hebat Gunung Tambora pada April 1815 bukan saja melumat dan meluluhlantakkan tiga kerajaan kecil di Pulau Sumbawa. Lebih dari itu, nun jauh di daratan Eropa, tepatnya di Belgia, pasukan tentara di bawah komando penguasa Prancis, Jenderal Napoleon Bonaparte harus bertekuk lutut di tangan Inggris dan Prussia.

Baca Juga  DPPP KSB Dorong Petani Tanam Bawang Merah

Tiga hari setelah Tambora meletus dahsyat, tepatnya pada 18 Juni 1815, pasukan Napolean terjebak musuh. Pasalnya di sepanjang hari itu cuaca memburuk. Hujan terus mengguyur kawasan tersebut. Padahal, tentara Prancis itu sedang menuju laga pertempuran.

Akibat cuaca buruk, roda kereta penghela meriam terjebak lumpur. Semua kendaraan tak bisa melaju dengan mulus. Tanahnya licin, berselimutkan salju. Maklum, abu tebal dari letusan Gunung Tambora masih bertebaran di atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari yang jatuh ke bumi.

Perang Waterloo itu menjadi kisah tragis bagi Napoleon. Kehebatan Napoleon dalam menundukkan musuh-musuhnya berakhir sudah. Ia pun menyerah kalah. Jenderal itu lalu dibuang ke Pulau Saint Helena, sebuah pulau kecil di selatan Samudra Atlantik. Di pulau terpencil itulah ia menghabiskan waktunya hingga meninggal dunia pada 1821 akibat serangan kanker.

Kenneth Spink, seorang pakar geologi berteori, bahwa cuaca buruk akibat letusan Gunung Tambora menjadi salah satu pemicu kekalahan Napoleon. Pada pertemuan ilmiah tentang Applied Geosciences di Warwick, Inggris (1996), Spink mengatakan bahwa letusan Gunung Tambora telah berdampak besar terhadap tatanan iklim dunia kala itu, termasuk cuaca buruk di Waterloo pada Juni 1815.

Di Yogyakarta, letusan Tambora mengagetkan Thomas Stamford Raffles. Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa yang berkuasa pada tahun 1811-1816 itu tadinya mengira ledakan itu berasal dari suara tembakan meriam musuh. Wajar saja demikian karena ketika itu teknologi komunikasi (telegram) memang belum tercipta sehingga letusan itu tak bisa disampaikan ke berbagai penjuru daerah dalam waktu yang relatif cepat.

Takut diserang musuh, Raffles pun lalu mengirim tentara ke pos-pos jaga di sepanjang pesisir untuk siap siaga. Perahu-perahu pun disiagakan. Apa boleh buat, dugaan Raffles keliru. Tak ada serangan musuh. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda