Raja Pupuk Dorong Mahasiswa UTS Jadi Generasi Sukses

oleh -1 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (05/04)

Ir Arifin Tasrif, Dirut PT Pupuk Indonesia
Ir Arifin Tasrif, Dirut PT Pupuk Indonesia

Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) mendapat kesempatan langka. Karena belum lama ini mereka didatangi Direktur Utama (Dirut) Pupuk Indonesia, Ir Arifin Tasrif yang berkesempatan memberikan kuliah umum dalam rangka meningkatkan wawasan dan memotivasi mahasiswa untuk mampu berkembang menjadi generasi yang sukses.  Selain berbagi pengalaman berkarier, Arifin yang menjadi salah satu dewan penasehat UTS ini juga mengupas tuntas mengenai sejarah dan teknologi pupuk di Indonesia, serta membuka kesempatan bagi mahasiswa UTS untuk magang di perusahaan yang dipimpinnya. Kegiatan yang dipandu langsung Rektor UTS, Dr Arief Budi Witarto Ph.D, dihadiri Pendiri UTS, Dr Zulkieflimansyah M.Sc dan Kadis Pertanian Propinsi NTB, Ir H Mokhlis M.Si ini, disambut antusias dosen dan mahasiswa setempat yang ikut memberikan pertanyaan kritis di sesi dialog.

amdal
Bersama Rektor, Pendiri UTS, dan Dekan.
Bersama Rektor, Pendiri UTS, dan Dekan.

Ir Arifin mengaku terkejut melihat kemajuan UTS yang sangat pesat dalam waktu yang singkat. Meski masih berumur dua tahun, jumlah siswa terus bertambah hingga saat ini mencapai hampir 1000 orang,  di samping berbagai raihan prestasi tidak hanya regional dan nasional namun juga internasional seperti keberhasilan mahasiswa Fakultas Teknobiologi meraih 4 penghargaan dunia pada kompetisi IGEM di Boston Amerika Serikat. Ia berharap prestasi tersebut dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan lagi dalam upaya melahirkan sumberdaya manusia berkualitas sekaligus menjadi UTS sebagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia bagian timur.

Arifin mengaku memulai kariernya selepas kuliah di jurusan teknik

Bersama mahasiswa UTS yang mengajukan pertanyaan di sesi dialog
Bersama mahasiswa UTS yang mengajukan pertanyaan di sesi dialog

kimia di ITB Tahun 1977. Ia langsung bergabung di Pertamina dengan jabatan dan gaji yang cukup tinggi. Rupanya gaji ini tidak membuat Arifin bertahan, Ia keluar dan meneruskan kariernya di PT Unilever. Di tempat ini juga tidak terlalu lama, karena merasa ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah tidak dapat diterapkan secara optimal sehingga memaksanya mencari tantangan baru di Bontang Kalimantan Timur. Di tempat terpencil itu Arifin merintis usaha barunya yang didesain di atas kapal. Sebagai seorang teknokrat, Arifin tertarik melihat ketersediaan gas alam di lepas pantai yang melimpah, sehingga dibangunlah pabrik pupuk. Lambat laun pabrik ini berkembang sehingga Departemen Perindustrian mengambil alih dan pabrik itu kemudian dibangun di darat sebagai pabrik pupuk pertama di Bontang. Pabrik ini terus berkembang tidak hanya secara kualitas namun juga kuantitas karena pabrik-pabrik lain bermunculan. Kondisi ini membuat Arifin ‘tersandera’ untuk terus menekuni dan menangani pupuk sampai sekarang.

Baca Juga  1000 Karyawan Amman Mineral Ikut Diklat Bela Negara  

Pekerjaan itu ditekuninya dengan hati yang senang meski berada jauh dari hiburan dan kemegahan kota besar. Konsistensi inilah yang membuatnya tetap bertahan yang lambat laun dedikasinya mendapat apresiasi melalui kariernya yang terus menanjak hingga akhirnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Pupuk Indonesia—raja dari semua perusahaan pupuk di negara ini.

Sejarah Pupuk

Lebih jauh dijelaskan Arifin, pupuk Indonesia dimulai Tahun 1959, dengan dibentuknya PT Pusri di Palembang karena melihat kebutuhan pangan Indonesia dalam jangka panjang tidak mampu didukung pupuk alam (pupuk organik). Saat itu pabrik yang ada hanya mampu menghasilkan 100 ribu ton per tahun, sekarang dengan tekhnologi yang kian maju sudah bisa mencapai 1 juta ton pertahun. Sekarang di Indonesia sudah berdiri 9 pabrik urea dan 5 pabrik non urea di samping banyak pabrik pendukung lainnya yang mampu menghasilkan 12,5 juta ton per tahun,” sebut Arifin.

Menjawab pertanyaan mengenai kekurangan dan keterlambatan pupuk yang kerap dialami para petani, Arifin menyatakan bahwa di setiap daerah dialokasikan pupuk sesuai dengan kebutuhan. Kasus yang terjadi itu bisa karena keterlambatan permintaan, juga anggaran pemerintah bagi subsidi pupuk tersebut juga sangat terbatas. Kekurangan ini bisa juga terjadi karena petani berlebihan dalam penggunaan pupuk. Padahal penggunaan pupuk berlebih justru berdampak buruk bagi tanaman. “Gunakan pupuk secara berimbang dengan dosis yang tepat,” saran Arifin.

Baca Juga  46 Kafilah Sumbawa Masuk TC Persiapan MTQ Propinsi

Terkait adanya keinginan untuk dibangunnya pabrik pupuk di Sumbawa sebagai solusi atasi kekurangan pupuk, Arifin mengaku sulit direalisasikan sebab daerah ini tidak memiliki gas alam sebagai bahan baku pembuatan pupuk.

Bersama Dosen UTS
Bersama Dosen UTS

Sementara  Rektor UTS, Dr Arief Budi Witarto Ph.D, berharap dosen dan mahasiswanya bisa belajar dari pengalaman dan karier Ir Arifin Tasrif. Dengan mengusung idealisme keilmuwannya rela meninggalkan Pertamina dengan gaji tinggi, untuk berusaha ke pedalaman Bontang selama 16 tahun. Idealisme Arifin terhadap sesuatu hal yang diyakininya menurut Arief, sangat penting dalam meraih masa depan. “Ini yang bisa dipetik oleh mahasiswa dan para dosen UTS,” katanya.

Ia mengaku Ir Arifin Tasrif memiliki hubungan emosional yang cukup erat dengan UTS karena selain menjadi dewan penasehat juga donator tetap bagi UTS. “Semoga terus diperhatikan, tidak hanya materi namun juga motivasi bagi UTS untuk terus belajar dan meningkatkan kualitasnya,” pintanya.

Dukung IISBUD ke Malaka

Setelah berkunjung ke UTS, Direktur Utama Pupuk Indonesia, Ir Arifin Tasrif juga menyempatkan diri bersilaturrahim dengan dosen dan mahasiswa Institut Sosial Seni dan Budaya Samawa Rea (IISBUD Sarea). Dalam sambutannya, IISBUD menyuguhkan beberapa jenis kesenian tradisional yang nantinya juga akan dipersiapkan untuk mengikuti Festival Malaka di Malaysia, Mei mendatang. Dirut Pupuk ini pun sangat terkesima dan bersedia akan memberikan dukungannya bagi IISBUD untuk penampilan IISBUD di luar negeri dalam rangka mengharumkan nama daerah dan bangsa.

Pendiri IISBUD, Dr Zulkieflimansyah M.Sc mengatakan, keberangkatan mahasiswa UTS dan IISBUD ke luar negeri agar mereka memiliki wawasan global. Menurut Doktor Zul, cerita tentang kemajuan dunia dan lainnya akan baru terasa ketika mereka melihat langsung wajah belahan lain. Jika sudah melihatnya maka symbol perubahan akan menyapanya. (*) Baca juga di Gaung NTB

 

iklan bapenda