Produksi Pertanian Sumbawa Harus Diselamatkan

oleh -0 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (26/03)

Distan NTB 2Upaya peningkatan produksi pertanian harus terus dilakukan untuk menghindari permasalahan pangan akibat serangan hama, perubahan iklim global, dan berkurangnya lahan pertanian. Karena itu berbagai program digelontorkan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi NTB untuk mengamankan produksi hasil-hasil pertanian baik pangan, palawija, holtikultura dan biofarma. Hal tersebut dilakukan untuk menyelamatkan perekonomian petani akibat dari menurunnya hasil produksi pertanian. Apalagi dari laporan Kadis Pertanian Sumbawa, sekitar 150 Ha tanaman padi terserang penyakit blas dan kresek. Salah satu upaya yang dilakukan dinas yang dipimpin Ir H Mokhlis M.Si melalui Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPTPH) ini adalah menggelar Pertemuan Koordinasi POPT-PHP se NTB dan Pemantapan Metode Pengamatan OPT. Kegiatan yang dihadiri 120 orang utusan 10 kabupaten/kota di NTB ini dilaksanakan di Kabupaten Sumbawa tepatnya di Hotel Cirebon selama tiga hari, 25—27 Maret 2015.

Kepala BPTPH Dispertapan Provinsi NTB, Ir Sriwijaya Ningsih M.Si mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan ini sebagai bagian dari tugas pengamanan produksi hasil pertanian. Ini berkaitan erat dengan tuntutan swasembada pangan melalui berbagai program di antaranya upaya khusus (upsus), optimasi lahan, perbaikan jaringan irigasi, dan Gerakan Penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (GPPTT) secara luas.

Kepala BPTPH Dispertapan Provinsi NTB, Ir Sriwijaya Ningsih M.Si
Kepala BPTPH Dispertapan Provinsi NTB, Ir Sriwijaya Ningsih M.Si

Untuk mendukung swasembada pangan tersebut, lanjut Sativa—sapaan akrab wanita low profil ini, pihaknya melakukan langkah-langkah bagaimana melakukan pengamanan produksi dalam rangka mengantisipasi perubahan iklim yang ekstrim maupun pengendalian gangguan tanaman baik hama maupun penyakit yang dapat mengganggu proses pertumbuhan tanaman. Tentunya langkah ini harus didukung dengan peningkatan kapasitas sumberdaya yang ada agar dapat melakukan pengamatan, menganalisa hasil pengamatan kemudian melakukan tindakan berupa pencegahan dan pengendalian terhadap serangan hama, penyakit dan iklim ekstrim. “Inilah tujuan diselenggarakannya pertemuan,” ucap Sativa.

Baca Juga  TNI-Polri Bantu Warga Bersihkan Puing Kebakaran di Baturotok

Siapa yang melakukan pengamatan dan pengendalian ini ? menurut Sativa, adalah petani itu sendiri. Untuk diketahui Distan Provinsi NTB telah membentuk Brigade Proteksi yang bertugas melakukan pengendalian terhadap OPT (Orgasme Penyakit Tanaman) yang dilengkapi sarana pengedalian. Mengingat jumlahnya terbatas dibandingkan dengan luasnya wilayah di 10 kabupaten/kota, dibentuklah regu pengendali hama. Personil di dalam regu ini direkrut dari para petani jebolan sekolah lapang PHT (Pengendalian Hama Terpadu) karena manfaatnya dari petani, oleh petani dan untuk petani. “Kami ingin dengan dibentuknya regu ini petani bisa mandiri mengatasi persoalannya sekaligus menjadi pengamat swadaya tanpa tergantung lagi dengan petugas,” ujar Sativa didampingi Ir Ida Nengah Gianyar selaku Koordinator Regu Pengendali Hama (RPH) NTB.

Hal tersebut dilakukan agar dapat melakukan pencegahan gejala dini penyakit tanaman untuk menghindari terjadinya ledakan secara eksplosif (besar-besaran). “Jangan sampai sudah besar baru dikendali, ini terlambat karena dampaknya petani bisa gagal panen,” tandasnya.

Untuk itu ekonomi petani khususnya di Kabupaten Sumbawa harus diselamatkan dengan meningkatkan produksi pertanian melalui pengamanan pangan serta pencegahan atau pengendalian hama dan penyakit tanaman. “Jika produksi pertanian meningkat, sudah pasti berpengaruh positif terhadap perekonomian yang berujung pada terciptanya kesejahteraan para petani,” pungkasnya. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda