Disinyalir Cafe Keluarga Jadi Tempat Maksiat

oleh -23 views
bankntb

Ada Waitress dan Miras

Sumbawa Besar, SR (26/03)

amdal

Sejumlah café keluarga yang beroperasi di dalam Kota Sumbawa digaruk Tim Gabungan (Timgab). Dalam operasi yang digelar Selasa (24/3) malam, tim yang terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Polisi, TNI, Denpom, BIN, Dukcapil dan Dinas Sosial ini mengamankan sedikitnya 4 orang wanita dan 2 pria yang tersebar di 7 cafe.

Mereka terindikasi waitress dan pria hidung belang. Dijadikannya café keluarga sebagai sasaran operasi karena disinyalir menyediakan waitress dan minuman keras. Sehingga fungsinya sebagai tempat hiburan keluarga diduga telah beralih menjadi tempat maksiat.

Kasat Pol PP Setda Sumbawa, Edy Retno Sanjaya SH yang dikonfirmasi kemarin, mengakui hal tersebut. Operasi Bina Lingkungan yang digelar jajarannya ini melibatkan sejumlah instansi terkait ini untuk mencegah dan memberantas penyakit masyarakat. Operasi tersebut akan berlangsung selama setahun dan rutin dilaksanakan tanpa mengenal waktu. “Bisa siang, malam, dan sore hari,” katanya.

Edy—akrab Kasat Pol PP ini disapa, mengakui adanya indikasi jika café keluarga menyediakan minuman beralkohol dan waitress. Hal inilah yang menjadi latar belakang operasi yang diarahkan ke café keluarga khususnya di dalam kota. Menurut aturan, sangat tidak dibenarkan café keluarga ini menyediakan miras dan waitress, melainkan hanya diperbolehkan menjual soft drink dan makanan. Selain itu café keluarga hanya bisa beroperasi hingga pukul 00.00 Wita. “Ada dua café yang kedapatan menjual minuman keras,” kata Edy.

Baca Juga  Curi Motor di Sumbawa, Warga Mataram Ditangkap di Kayangan

Disinggung sejumlah wanita yang terjaring operasi, Edy mengatakan akan melakukan identifikasi. Jika terindikasi PSK akan diserahkan ke Dinas Sosial untuk dikirim ke Panti Rehabilitasi Budi Rini Mataram. “Ini yang berumur 17 tahun ke atas,” ucap Edy Retno.

Sedangkan bagi yang berumur 17 tahun ke bawah, akan dikirim ke Pondok Pesantren Kediri untuk dilakukan pembinaan dan pendekatan keagamaan. “Pemerintah daerah sudah menjalin kerjasama dengan dua lembaga tersebut, ketika ada yang terjaring operasi bisa langsung dikirim setelah diidentifikasi,” ujarnya.

Bagaimana yang bukan PSK, Edy menyatakan akan dikembalikan kepada pihak keluarga untuk pembinaan lebih lanjut. Namun sebelumnya dibuatkan surat pernyataan agar tidak mengulangi lagi perbuatannya. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda