Fakultas Teknik UTS Siap Bantu Petani Kopi dan Pengusaha Rumah Makan

oleh -9 views
bankntb

Buat Alat Sangrai dan Sofware Rumah Makan

Jakarta, SR (23/03)

amdal

Alat Sangrai UTS 1Kecamatan Batu Lanteh dikenal sebagai daerah penghasil kopi terbesar di Kabupaten Sumbawa, NTB. Banyak kopi unggulan yang dihasilkan di daerah subur dan potensial ini, sebut saja Arabika, Robusta dan Luwak. Untuk memasarkan kopi tersebut, petani setempat harus menunggu selama beberapa hari. Sebab biji kopi yang masih basah harus disangrai di bawah terik matahari. Untuk melakukan hal ini dibutuhkan waktu cukup lama minimal 4 hari, inipun di musim kemarau, sebab akan lain cerita jika musim hujan sudah pasti akan lebih lama lagi. Persoalan inilah yang ingin diretas Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Belum lama ini perguruan tinggi yang berada di kaki Bukit Olat Maras jauh dari pusat ibukota Kabupaten Sumbawa tersebut mengutus beberapa mahasiswa Fakultas Teknik jurusan Mesin ke Jakarta. Mereka akan belajar membuat alat ‘sangrai’ di Wahyu Jayakarta—Pusat Sparepart dan Jasa Service, Cibitung. Di sana mereka belajar langsung dari penemu sekaligus pemegang hak paten alat tersebut. Para mahasiswa akan belajar selama dua bulan, dan saat ini sudah berjalan hampir satu bulan.

Alat sangrai ini tidak hanya digunakan untuk mengeringkan biji kopi namun juga biji-biji lainnya sehingga cepat dipasarkan. Dengan alat ini petani tidak perlu lagi menunggu matahari terbit, dan tidak lagi menunggu dalam waktu yang lama. Hanya dalam waktu 1 jam, biji kopi yang basah sudah berubah kering dan siap dipasarkan. Keberadaan alat ini sangat membantu para petani terutama petani kopi. Selain mempercepat proses pengeringan, alat tersebut dapat mengukur dan mengatur suhu atau tingkat kepanasan, sehingga tidak hanya biji kopi namun biji lainnya dapat diproses oleh alat ini. “Kami ingin hasil pelatihan ini dapat cepat diaplikasikan untuk petani kopi di Sumbawa,” ucap Riki Adi Suryadi didampingi empat rekannya, Syafri Ade Kantari, Bayu Dwi Putrawan, Solihin dan Ilham Kurniawan.

Baca Juga  RICE dan IBC Ciptakan Olat Maras Jadi Pusat Industri

Mengingat alat ini cukup sederhana karena bahan-bahannya berasal dari limbah rumah tangga, pembuatannya juga terbilang mudah. Hanya dibutuhkan sedikit skill, sentuhan dan tingkat kecermatan sebab ada perangkat di dalamnya yang bisa mengatur suhu.

Alat Sangrai UTS 2Membuat Software “RM Market Plus”

Tidak mau kalah dengan rekannya, empat mahasiswa Fakultas Teknik lainnya melakukan hal berbeda namun memiliki tujuan yang sama. Kali ini mahasiswa Teknik dari Program Studi Teknik Informatika. Mahasiswa yang berjumlah 4 orang ini tengah magang di PT Badar Interaktive untuk membuat sebuah software yang dinamakan “RM Market Plus”. Seperti koleganya di Prodi Teknik Mesin, mereka akan mengikuti magang ini selama dua bulan dan sudah berjalan hampir sebulan.

Dengan program tersebut, mereka ingin memberikan kemudahan kepada pengusaha rumah makan, tidak hanya mempercepat pelayanan dan memudahkan karyawan, tapi juga mampu memasarkan menu rumah makan dimaksud secara online.

Pembeli atau pelanggan dapat mengetahui menu masakan dan lainnya hanya melalui handphone. Selain itu pemesanan mereka dapat diketahui pihak rumah makan melalui software yang dibuat para mahasiswa ini. “Program ini masih diterapkan di wilayah Depok, semoga Sumbawa menjadi kota kedua di Indonesia,” kata Erwin—salah seorang mahasiswa Prodi Teknik Informatika UTS.

Dalam mengikuti magang ini, mereka juga melakukan survey di lapangan untuk memastikan respon para pengusaha rumah makan terhadap keberadaan software tersebut. Ternyata mendapat sambutan luar biasa, karena di era digital saat ini masyarakat menginginkan pelayanan yang cepat dan pasti. “Semoga apa yang kami pelajari di sini dapat kami aplikasikan nanti di Sumbawa sehingga bermanfaat bagi daerah dan masyarakat,” demikian Erwin diamini tiga rekannya. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda