‘Negara Pajak’ dan ‘Negeri Denda’

oleh -2 views
bankntb

Tour Study Mahasiswa UTS

Singapore, SR (23/03)

amdal

Singapore Traveling 2Rakyat Singapore sering diidentikkan bagaikan robot, karena apa yang mereka lakukan serba diatur. Semua kegiatan masyarakatnya sudah tersistem. Ketika warganya melakukan hal di luar system hanya ada dua pilihan, membayar denda atau dipenjara. Regulasi yang diterapkan pemerintah Negeri Singa tersebut tidak hanya harus diikuti warganya tapi juga para pendatang. Untuk mengingatkan regulasi itu di semua tempat publik selalu terpampang anjuran, larangan bahkan sanksi yang akan diterima jika melakukan pelanggaran. Seperti larangan merokok, meludah, buang sampah, makan minum di dalam transportasi umum, membawa korek gas bahkan hingga permen karet.

Singapore Traveling 1Khusus permen karet ini, pemerintah membuat larangan yang cukup keras. Ini karena pernah terjadi peristiwa besar. Gara-gara permen karet aktivitas Kota Singapore menjadi lumpuh. Permen karet yang di buang dicelah pintu lift dan pintu MRT, membuat lift menjadi macet, MRT menjadi mogok membuat pengguna terlantar dan kepentingan umum menjadi terganggu. Sudah pasti denda yang diberikan untuk pelakunya sangat besar. Jumlah denda yang akan diterima bagi pelanggar cukup mengernyitkan dahi. Mulai dari 500 hingga 5.000 dollar Singapore atau setara dengan Rp 5 juta—50 juta. Untuk mengawasinya, pemerintah memasang CCTV di berbagai tempat. Tidak mengherankan jika sewaktu-waktu mereka didatangi petugas karena kesalahan yang dilakukan tanpa sadar. Rasa was-was inilah yang menghinggapi Royhana saat dalam perjalanan menuju Bandara Changi Singapore untuk kembali ke Indonesia. Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) ini merasa tidak tenang karena tanpa sengaja minum air mineral di dalam MRT (Mass Rapid Trans). Apalagi kamera CCTV tepat berada di depannya. “Saya ingin cepat pulang,” ucapnya cemas. Hana—sapaan karib gadis kelahiran Belanda ini membayangkan akan didatangi petugas dan menyodorkan kertas denda 500 dollar atau Rp 5 juta hanya untuk menebus kesalahannya. Mungkin petugas mahfum melihat wajah lugu Hana dari sorotan CCTV sehingga tidak tega untuk ‘mengejarnya’ dan membiarkannya lolos. Sebab hingga pesawat mengudara mahasiswa yang doyan ngemil ini tak tersentuh aparat. Perlakuan pemerintah ini berdampak positif pada pembentukan karakter rakyatnya untuk membiasakan hidup tertib dan disiplin. Sebab karakter itu terbentuk dari kebiasaan. Karena itu di sepanjang jalan yang dilalui rombongan mahasiswa UTS tidak ditemukan sampah berserakan, puntung rokok berceceran, dan tak seorang pun yang makan dan minum di dalam transportasi umum (MRT, LRT dan bus).

Baca Juga  Fisika ESDM Jembatan Pengetahuan Mengolah SDA Melimpah
Hana (Pakai Jilbab dan Baju Biru)
Hana (Pakai Jilbab dan Baju Biru)

Persoalan ini memang sepele, dan aturan yang dibuat pemerintah untuk hal-hal kecil semacam ini ternyata manfaatnya lebih besar bagi masyarakat. Bagaimana permen karet bisa melumpuhkan aktivitas, dan sampah bisa menyebabkan banjir besar. Pencegahan ini dilakukan agar tidak terjadi persoalan yang lebih besar di kemudian hari. Pemerintah memikirkan itu ‘bagaimana nanti’ yang artinya memikirkan hal-hal yang belum terjadi, bukan ‘nanti bagaimana’ yang terkesan menyepelekan masalah.

Selain denda, pemerintah Singapore menerapkan pajak yang cukup tinggi. Meski terbilang mapan namun warga di sana berusaha untuk memperkecil pengeluaran. Banyak dari mereka lebih memilih menggunakan sepeda motor atau sepeda dayung untuk berangkat kerja dan melakukan aktivitas lainnya. Dan tidak sedikit pula memilih transportasi umum yang menggunakan jalur monorail. Selain cepat sampai tujuan, biayanya pun murah. Masyarakat Singapore bukan tidak mampu membeli mobil. Tapi yang membuat mereka berpikir dua kali adalah bea pajak mobil yang fantastis. “Harga mobil di sini mencapai 250 juta, sedangkan pajaknya bisa mencapai 1 Milyar,” kata Arif Kirdiat, warga Indonesia yang pernah lama menetap di Singapore.

Langkah pemerintah untuk memperbesar pajak kendaraan selain menggenjot pemasukan negara, juga ada kaitannya dengan upaya mencegah kemacetan. Ada juga cara lain mengatasi kemacetan yaitu mengatur pengoperasian kendaraan. Di Singapore ada dua nomor plat kendaraan yaitu merah dan hitam. Plat merah bukan kendaraan dinas milik pemerintah seperti di Indonesia, melainkan tanda untuk mobil yang pajaknya lebih murah dari plat hitam. Mobil berplat merah ini hanya boleh beroperasi di malam hari dari pukul 17.00—05.00 dinihari. Jika beroperasi di luar waktu tersebut akan didenda.  Sedangkan berplat hitam pajaknya lebih tinggi dan boleh beroperasi sepanjang waktu. Pemerintah juga mengenakan biaya parkir cukup tinggi dengan waktu yang terbatas. Apabila melebihi batas waktu siap-siap untuk didenda. Petugas tidak harus menemui pemilik kendaraan, tapi meninggalkan kwitansi denda di mobil, dan fotocopiannya akan diantar ke rumah. Inilah beberapa alasan warga memilih transportasi umum dibandingkan kendaraan pribadi. Jadi, sebanyak apapun kendaraan, jalan raya di Singapore tidak akan pernah macet.

Baca Juga  Semarak Hari Ibu, Salimah Sumbawa Sukses Gelar Lomba

Pajak tinggi tidak hanya dikenakan bagi pemilik kendaraan pribadi, tapi juga rokok. Rokok di Singapore terbilang sangat mahal, sebungkusnya mencapai Rp 100 ribu. Mahalnya harga rokok karena tingginya pajak cukai. Ini diterapkan pemerintah agar secara perlahan warga tidak merokok. Ketika warga berhenti merokok, dagangan rokok tidak laku, sudah pasti pedagang rokok tidak lagi menjual rokok. Pembatasan rokok juga diterapkan bagi wisatawan. Mereka hanya diijinkan paling banyak memiliki dua bungkus rokok saat memasuki Singapore melalui pemeriksaan di Bandara.

Pemerintah juga mengatur kehidupan bertetangga. Tetangga yang satu dengan lainnya harus saling menghargai. Saat satunya sedang beristirahat, tetangga lainnya harus memberikan ketenangan. Ketika membuat kegaduhan, maka siap-siap didatangi petugas yang memberikan sanksi denda.

Singapore TravelingPajak dan denda adalah upaya pemerintah mencari uang sekaligus mendidik dan memberikan pelajaran bagi warganya dengan segala macam cara. Namun hasil ‘pungutan’ dari denda dan pajak yang besar ini akan dikembalikan kepada warganya melalui layanan prima, dan pemenuhan kebutuhan hidup. Dengan kata lain, pajak tinggi dan denda besar, rakyat menjadi sejahtera. (*) Baca juga Gaung NTB

iklan bapenda