Rumah Aspirasi yang Aspiratif

oleh -1 views
bankntb

Singapore, SR (21/03)

Gong 2015 3Tiga hari berada di Singapura belum cukup bagi rombongan mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang tergabung dalam Gong Travelling untuk mengetahui kehidupan masyarakatnya secara paripurna. Namun secara kasat mata, warga di Negeri Singa ini hidup dengan ekonomi yang berkecukupan. Segala kebutuhan mampu dipenuhi pemerintah. Contoh kecil, di sepanjang jalan yang dilalui 10 mahasiswa Fakultas Psikologi dan 10 Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) ini tak menjumpai pengemis atau gelandangan berkeliaran. Kondisi ini berbanding terbalik dengan keadaan di Sumbawa khususnya dan Indonesia secara umum. Sepertinya Singapura lah yang mengaplikasikan pasal 34 ayat (1) UUD RI 1945 yakni fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Kemudian pasal 34 ayat (2) bahwa negara mengembangkan system jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Sedangkan pasal 34 ayat (3) negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

amdal

Gong 2015 2Untuk mengakomodir kepentingan warganya, eksekutif (birokrasi) berkolaborasi dengan Member of Parlemen (MP) sebutan untuk legislatif. Komposisi MP di Singapore mengikuti jumlah ras. Jika warga China 45 persen maka kursi yang diraih di parlemen juga 45 persen, selebihnya India, dan Melayu. Anggota MP berkewajiban mengunjungi, mendengar, menyerap dan menfasilitasi kepentingan masyarakat di daerah pemilihannya hingga tuntas. Jadi tidak hanya mendengar dan mengakomodir tanpa eksekusi. Untuk menfasilitasi pertemuan antara rakyat dan wakilnya disediakan ‘Rumah Aspirasi’ yang dijadikan sebagai tempat bertatap muka sekali dalam seminggu. Aspirasi ini tidak hanya menyangkut program fisik seperti membangun infrastruktur berupa jalan lingkungan, jembatan, deker, drainase atau fisik lainnya. Di Singapore, warganya dapat menyampaikan persoalan pribadi di antaranya sakit, tidak memiliki pekerjaan, terlilit hutang, hingga pertengkaran dalam keluarga. Misalnya pengangguran, anggota MP akan menyerahkan permasalahan warganya ke instansi terkait serupa dengan Dinas Sosial atau Dinas Koperasi dan UKM. Nantinya instansi ini mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minat warga dimaksud. Bisa juga dengan pemberian modal usaha. Demikian dengan si sakit akan direhabilitasi atau dirawat intensif di rumah sakit. Implementasi dari aspirasi ini akan dievaluasi pada pertemuan seminggu berikutnya guna memastikan apakah instansi tersebut sudah melaksanakannya. Biasanya instansi memberikan record atau laporan warga berdasarkan data kependudukan. Di sana akan terungkap ada warga yang sudah beberapa kali diberikan bantuan modal usaha namun tidak membawa perubahan bagi ekonominya. Usahanya malah bangkrut dan tidak berkembang. MP akan mencari cara lain meminta instansi lainnya untuk memberikan pendampingan hingga orang bersangkutan bisa sukses dan tidak lagi menyusahkan pemerintah. Dengan penanganan seperti ini, sangat jarang terdengar ada warga yang kelaparan, pengangguran maupun sakit yang tidak tertangani.

Baca Juga  OPINI: Pemilih Ormas dan Milenial di NTB

gong 2015 4Disabilitas yang Diistimewakan

Bukan hanya pengangguran, penyandang disabilitas di Singapore dapat beraktivitas layaknya orang normal. Cacat fisik yang dialami mereka bukan menjadi penghalang dalam rutinitas kesehariannya. Jangan heran, penyandang cacat di sana tanpa dipapah orang lain mampu melakukan rutinitasnya secara mandiri. Meski menggunakan kursi roda, mereka bisa menyusuri jalan, naik kereta, bus dan transportasi lainnya seorang diri. Bahkan mencari nafkah sebatas yang bisa dikerjakan, dan selalu disupport pemerintah. Demikian dengan orang buta, hanya menggunakan tongkat mereka mampu bepergian dari satu kota ke kota lainnya. Jarang petugas mendapat laporan orang buta tersesat. Ini bisa dilakukan karena fasilitas yang disediakan pemerintah. Penyandang disabilitas mendapat perlakuan istimewa. Misalnya di dalam kereta (MRT), dari sederet tempat duduk, sebagian besar disediakan untuk penyandang disabilitas, orang jompo dan ibu hamil. Di setiap jalan umum selalu ada jalan khusus orang buta, demikian di terminal atau ruang tunggu kereta maupun transportasi lainnya. Demikian juga orang cacat lainnya yang tidak bisa berjalan, akan diberikan bantuan kursi roda mesin, tanpa dikayuh bisa jalan sendiri bagaikan sepeda motor. Pemerintah juga menyediakan program usaha untuk penyandang disabilitas dan menjamin kesehatannya.

di Club Heal, lembaga untuk rehab mental
di Club Heal, lembaga untuk rehab mental

Di sebagian daerah di Indonesia, penyandang disabilitas masih dipandang sebelah mata, mereka dianggap aib bagi keluarga, orang tak berguna dan menyusahkan. Tidak jarang di antara mereka diisolir. Hal ini terjadi karena minimnya perhatian pemerintah terhadap mereka. Nyaris tidak tersedia fasilitas umum untuk mereka. Akibatnya banyak penyandang disabilitas yang menjadi pengemis. “Tidak seperti di Singapore, tidak ada masalah warga yang tidak bisa terselesaikan,” kata Fauzi, salah seorang warga setempat.

Susah Tersenyum

Untuk diketahui, orang Singapura lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Misalnya di eskalator, mereka mengambil posisi di sebelah kiri untuk memberi ruang di sebelah kanan bagi pengguna lain yang terburu-buru. Di dalam kereta pun, mereka secara sadar memberikan tempat bagi orang tua, penyandang cacat atau ibu hamil dan anak-anak untuk duduk, kendati dia harus berdiri dalam perjalanan yang panjang. Sayangnya orang Singapore sangat susah untuk tersenyum. Senyuman adalah barang mahal dan langka, sehingga memaksa pemerintah setempat memprakarsai gerakan “Smile Singapore” guna mendorong warganya membiasakan diri untuk tersenyum. Tekanan dan stress kemungkinan menjadi factor penyebab warganya jarang tersenyum. Pasalnya hampir semua kegiatannya diatur dan tersistem. Dengan tingkat stress yang tinggi berkorelasi positif dengan kebiasaan warga Singapore yang jarang menikah untuk memiliki anak karena dinilai merepotkan. Keengganan inilah yang membuat Singapore mengalami krisis kependudukan mengingat pertumbuhan penduduknya lambat. Pemerintah meminta agar warganya memiliki anak yang banyak, dan melarang keras mengikuti program KB. Pemerintah sangat senang ketika ada pasangan yang melahirkan anak. Mereka akan disubsidi, dibiayai hidupnya dan anaknya disekolahkan. Permerintah ingin mempersiapkan generasi unggul di masa mendatang. Karenanya anak-anak yang masih di bawah umur diawasi secara ketat dan hanya diijinkan keluar malam sampai pukul 19.00 Wita. Tentu saja banyak larangan yang menyertai.

Baca Juga  Resmi Digelar, O2SN SD Diikuti Kontingen di 24 Kecamatan

gong 2015 7Inilah sedikit gambaran yang terekam dalam perjalanan singkat Gong Travelling dan diharapkan dengan wawasan yang terserap, mahasiswa UTS menjadi individu-individu berbeda. “Kalian ke sana tidak hanya sebagai turis tapi belajar dari kemajuan Singapore dengan segala kebiasaan positifnya. Dengan kekurangan yang kita miliki akan membangkitkan rasa optimisme bahwa kesuksesan yang diraih saat ini akan memanggil kesuksesan-kesuksesan berikutnya,” pesan Rektor UTS, Dr Arief Budi Witarto Ph.D sebelum memberangkatkan mahasiswanya ke Singapore.

Dikirimnya mahasiswa UTS ke luar negeri seperti Amerika, Jepang, Malaysia dan kini Singapore serta Mei mendatang ke Bangkok, agar mereka menjadi manusia global yang tidak hanya menikmati dunia sebatas lingkungannya, karena di luar sana ada dunia lain yang lebih indah. “Kita ingin orang lain memandang dunia berubah karena konstribusi kita,” pungkas pendiri UTS Dr Zulkieflimansyah SE M.Sc. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda