Sensasi Ketinggian, Ngebolang Hingga Jurnalis Investigatif

oleh -1 views
bankntb

UTS Gong Travelling Xplore Singapore

Singapore, SR (19/03)

amdal
Meeting point di Bandara Changi Singapore
Meeting point di Bandara Changi Singapore

Langit cerah menyambut kedatangan rombongan besar mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) setelah Lion Air dengan nomor penerbangan JT 150 mendarat mulus di Bandar Udara Internasional Changi Singapore, Selasa (17/3) pukul 13.00 Wita. Inilah awal bagi 20 mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) dan Fakultas Psikologi untuk memulai misi menjadi seorang penulis.

Penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta (Soeta) Jakarta—Changi Singapore hanya membutuhkan waktu tidak kurang dari 1 jam 45 menit. Penerbangan dari pukul 11.00—12.45 ini terbilang cepat dibandingkan dengan penerbangan dari Bandara International Lombok (BIL)—Soeta Jakarta. Penerbangan ini adalah yang pertama bagi mahasiswa dua fakultas tersebut mengikuti jejak rekannya dari Fakultas Teknobiologi (FTB) dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang lebih dulu menginjakkan kaki di daratan luar Indonesia, meski sebelumnya secara teori dari membaca buku, membuka internet maupun mendengar cerita, sedikit mengetahui tentang negeri yang terkenal dengan Patung berkepala singa dan berbadan ikan ini. Katanya, negara dengan tingkat ekonomi nomor wahid ini memiliki aturan yang super ketat terutama bagi para pendatang. Hal tersebut menjadi alasan guide dari Gong Traveling Xplore Singapore sebagai sponsor perjalanan, memberikan meeting point di Terminal 2 Bandara Soeta mengenai aturan di Singapore, terutama apa yang tidak boleh dilakukan dari mulai memasuki Bandara Changi hingga berada dan menetap di Singapore dengan berbagai larangan seperti merokok, meludah hingga membuang sampah sembarangan. Jika itu dilanggar, petugas akan mengambil tindakan, tidak hanya sanksi denda tapi juga ancaman untuk dibui. Penjelasan mengenai ketatnya aturan di Singapore ini sedikit membuat beberapa mahasiswa merinding. Mereka tidak ingin menjadi bagian dari orang yang terjaring razia.

Nanyang University
Nanyang University

Penerbangan nyaris tanpa bersentuhan dengan awan columunimbus ini membuat peserta traveling cukup tenang. Bahkan beberapa di antaranya sangat bersemangat untuk mengabadikan setiap pemandangan yang terlihat dari udara melalui kamera digital maupun handphone androidnya. Mulai dari daratan yang dikelilingi sebagian besar lautan, bangunan perumahan dan gedung yang nyaris tak terlihat, hingga gumpalan awan tak beraturan yang menawan. Pemandangan itu sangat indah terlihat dari ketinggian 36 ribu kaki. “Ini sensasi di atas ketinggian,” pekik Firda Wahyuningtiyas—salah seorang mahasiswa Fikom UTS.

Firda—sapaan akrab gadis tomboy yang kebetulan duduk di samping penulis pada Seat 8A, mengaku sangat takjub akan keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa. Terlebih lagi keberadaannya melewati batas tanah air yang belum pernah dirasakannya. Menurut alumni Paskibraka yang terobsesi masuk TNI ini, keluar negeri terutama Singapura adalah dambaannya sejak lama. Pernah beberapa bulan lalu Firda bersama 6 rekan fakultasnya bertamasya di Pantai Hawai Luk Kecamatan Rhee, Sumbawa. Saat mengabadikan diri menggunakan video handphone spontan tercetus kalau mereka sedang berada di salah satu pantai Singapore. Ternyata ucapan itu menjadi kenyataan. Tiga dari mereka termasuk dirinya terpilih menjadi peserta Gong Travelling Xplore Singapore yang berlangsung selama tiga hari, 17—19 Maret 2015. “Saya, Puput, dan Puji diberangkatkan UTS ke Singapore melalui seleksi,” kata Firda.

Baca Juga  “Kerik Salamat” Wujudkan Pemerintahan yang Berkeadilan

Ketakjuban yang sama diucapkan Puput. Gadis yang memiliki nama lengkap Arini Shalsabella Putri itu mengaku selama ini hanya melihat awan nun jauh di atas, kini awan justru tepat berada di bawah kakinya. Seperti halnya Firda yang mengabadikan keindahan itu via kamera, Puput merekam rasa takjubnya dengan tulisan tangan di note booknya.

Terjaring Imigrasi

Tak terasa pesawat telah sampai di Bandara Changi Singapore. Rasa tak sabar pun menghinggapi para turis UTS ini. Dikomandani Asri Ramdhani S.Psi., M.Pd—Dosen Psikologi Perkembangan dan Psikologi Sosial, yang dipandu Gola Gong—penulis terkenal sekaligus pengasuh Yayasan Rumah Dunia dan Muhammad Arif Kirdiat–Alumni Nanyang University Singapore, satu per satu mereka melewati pemeriksaan petugas imigrasi setempat. Teringat pesan Gola Gong, untuk menghindari kecurigaan petugas diharapkan tidak bergerombol, bertingkah aneh dan membawa benda yang dilarang semisal cairan, narkoba,  senjata tajam atau sejenisnya. Apabila ini tertangkap CCTV, petugas tanpa kompromi datang menjemput dan menggiringnya ke salah satu ruangan untuk diinterogasi. Mata pun tertuju pada penulis yang kebetulan berada di antrian nomor dua terakhir setelah Fajar Rachmat—jurnalis dari Radar Sumbawa. Penulis yang sedang didata di salah satu koridor dihampiri petugas Imigrasi untuk dipersilahkan keluar mengikutinya menuju pos penjagaan. Muncul tanda tanya besar di benak kesalahan apa yang sudah dilakukan sehingga petugas memperlakukan berbeda dari lainnya. Di pos Imigrasi ini, penulis tidak sendiri melainkan bersama dua warga negara asing yakni dari Malaysia dan Thailand. Ketiganya diarahkan duduk santai di kursi sofa dengan kesegaran ruangan ber-AC yang cukup nyaman. Anehnya petugas tak mengajukan sepatah pertanyaan. Mereka hanya tersenyum dan menyodorkan manisan (permen). Hanya beberapa menit petugas menyerahkan passport seraya mempersilahkan untuk kembali bergabung dengan rombongan. Karena tak pernah mengetahui apa yang menjadi alasan petugas ‘mengamankan’ penulis, beragam dugaan pun muncul. Apakah petugas imigrasi bertindak mengada-ada karena penulis hanya digiring lalu dipersilahkan tanpa ada pertanyaan. Bisa jadi ini hanya untuk memberikan kesan kepada yang lain jika mereka sangat ketat. Atau mungkin penulis memiliki visa kunjungan ke Amerika ? Tapi sepertinya kemungkinan terakhir sedikit mendekat kebenarannya. Indikasinya, penulis dan dua WNA yang ‘diamankan’ sama-sama pernah berkunjung ke negeri Paman Sam beberapa bulan yang lalu. Sepertinya Imigrasi Singapore secara tidak langsung ingin memberikan kesan kepada penulis dan dua WNA tersebut bahwa pengawasan di negaranya lebih awas dari Amerika.

Baca Juga  Hadiri Acara Hari Anak Nasional, Wagub Berikan Motivasi
Merlion park, ikon Singapore
Merlion park, ikon Singapore

Setelah meninggalkan Bandara Changi, rombongan menuju WOW Hostel 67B Lorong 27 Geylang, Singapore—tempat menetap selama kegiatan travelling. Perjalanan ke Hostel berjalan sekitar hampir satu jam menggunakan MRT lalu turun di Aljuneid MET Station (Terminal Ajuneid). MRT merupakan salah satu alat transportasi publik murah meriah yang disediakan pemerintah setempat.

Untuk bisa naik MRT (Mass Rapid Trans) rombongan diharuskan membeli tiket dalam bentuk Card STP (Singapore Tourist Pass) seharga 30 dollar Singapore termasuk deposit 10 dollar untuk tiga hari perjalanan. Card ini dapat digunakan tidak hanya untuk MRT tapi juga LRT dan Bus. Keberadaan sejumlah sarana transportasi publik sudah menjadi kebutuhan masyarakat, karena jika menggunakan kendaraan pribadi mereka harus mengeluarkan biaya parkir dan menghindari terjadinya kesalahan lainnya yang berdampak pada sanksi denda.

Hari kedua, perjalanan mengelilingi Kota Singapore sehari penuh. Diawali dari Al Junaed lalu Jorong menuju Nanyang University dilanjutkan ke Harbour Bay, Sentosa—sebuah pulau wisata yang di dalamnya terdapat Universal Studio dengan suguhan bermacam wahana yang luar biasa. Untuk masuk ke Universal Studio terbilang cukup mahal, per orangnya 70 dollar Singapore atau setara dengan Rp 700 ribu. Selepas dari Universal, rombongan melakukan safari shopping sebut saja di Little India, China Town dan Bugis Junction. Harga barang di pusat perbelanjaan ini sedikit berbeda, namun masih terbilang murah. Aktivitas hari kedua ini ditutup dengan acaar foto-foto di Merlion Park—patung singa yang menjadi ikon wisata Singapore. Di hari terakhir Kamis (19/3) sebelum bertolak ke Jakarta sekitar pukul 18.00 Wita, pagi hingga menjelang siang rombongan menyempatkan diri ke Club Heal sebuah tempat rehabilitas mental terapi yang berlokasi di BLK 244 Bukit Batok East. Di Club ini rombongan langsung bertemu dengan Dr Radiah, President of Club Heal di samping melihat dan berkomunikasi dengan pasien setempat. Kemudian melakukan evaluasi hasil kunjungan (travel writing) selama tiga hari yang nantinya akan dikemas dalam bentuk buku dan direncanakan akan dilaunching beberapa bulan ke depan. Evaluasi ini untuk menentukan judul buku dan angel tulisan. Buku yang diliris ini ada dua, hasil karya mahasiswa Psikologi dan mahasiswa FIKOM. Buku ini mengulas tentang budaya, system transportasi, kuliner, penerapan aturan dan sanksi sampai prilaku masyarakat Singapore yang dikenal disiplin dan tersibuk di dunia. Semoga dari buku yang merangkum kunjungan singkat mahasiswa UTS ini dapat dijadikan referensi tidak hanya diterapkan di lingkungan kampus, namun secara umum di Sumbawa dan NTB. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda