KMP dan KIH Bakal Bersaing di Pilkada Sumbawa

oleh -1 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (09/03)

Suharto SH M.Si
Suharto SH M.Si

Hiruk-pikuk Pilkada Sumbawa sudah mulai nampak terutama gerakan para figure untuk mendapatkan partai pendukung. Sejumlah nama muncul bahkan ada yang sudah memantapkan diri sebagai paket karena diusung beberapa partai yang berkoalisi. Figur yang cukup banyak dan tidak sebanding dengan ‘tiket’ yang tersedia untuk berkompetisi di pentas demokrasi menimbulkan pertanyaan masyarakat berapa jumlah paket yang akan maju pada Pilkada Sumbawa. Pertanyaan lainnya masih solidkan partai yang tergabung dalam KMP maupun KIH untuk mengusung paket calon ?

amdal

Tokoh Sumbawa sekaligus Pemerhati Sosial Politik, Suharto SH M.Si, Minggu (8/3), menyebutkan paling banyak paket yang maju maksimal tiga pasangan yaitu paket Koalisi Merah Putih (KMP), Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan independent. Dua koalisi besar (KMP dan KIH) itu dianggap masih solid dan permanen dari pusat hingga daerah. Keyakinan ini karena sebelumnya masyarakat Sumbawa dihadapkan pada sebuah peristiwa menarik saat pemilihan alat-alat kelengkapan dewan di DPRD Sumbawa yang berujung pada pemecatan Ketua DPD PKS Sumbawa Sambirang Ahmadi S.Ag M.Si dan perintah pengunduran diri dua kader PKS, Adizul Sahabuddin SP dan Salamuddin Maula dari jabatan Ketua Komisi I dan Wakil Ketua Komisi II. Peristiwa ini bukan hal yang biasa dan akan berlaku secara terus menerus. Ketika sikap KMP berubah pada Pilkada ini maka akan ada konsekuensi hukum dan politik. Sambirang yang diberhentikan dan dua kader PKS yang dipaksa mundur harus dipulihkan, direhabilitir dan dikembalikan pada posisi semula yakni sebagai Ketua DPD PKS, Ketua Komisi I dan Wakil Ketua Komisi II DPRD Sumbawa. “Inilah konsekwensi yang harus terjadi ketika sikap KMP inkonsisten,” tukas Harto—sapaan akrab ketua Komisi I DPRD Sumbawa ini.

Baca Juga  Jack Morsa Ajukan Pengunduran Diri, Jaya Diusulkan PAW

Disinggung adanya pergerakan liar para politisi dari berbagai parpol untuk memperoleh dukungan dalam mengusung calon dengan mengabaikan koalisi ‘permanen’ tersebut, Harto menyatakan hal itu sebuah keniscayaan, karena mereka tengah berupaya mencari formula yang tepat untuk menempatkan siapa yang layak untuk diusung. “Ini sah-sah saja untuk membangun kekuatan politik dengan mencari mitra koalisi tanpa melihat KMP atau KIH. Tapi saya berpegang pada konsistensi sikap koalisi (KMP dan KIH) hingga ke daerah, karena pemilihan kepala daerah tidak jauh beda dengan pemilihan alat kelengkapan dewan kemarin,” ucapnya.

Dengan konsistensi koalisi ini, Ia tidak yakin calon KIH akan berpadu satu paket dengan calon KMP. “Yang kita butuhkan kepemimpinan yang konsisten. Dapat dibayangkan pemimpin yang tidak konsisten akan berdampak buruk pada nasib rakyatnya,” demikian Harto. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda