Doktor Arief Budi Witarto Rektor Baru UTS

oleh -19 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (09/03)

Doktor Arief bersama mahasiswa FTB UTS saat berkompetisi di Amerika Serikat
Doktor Arief bersama mahasiswa FTB UTS saat berkompetisi di Amerika Serikat

Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) akan memiliki Rektor baru. Hal ini setelah Dr Zulkiflimansyah M.Sc mengundurkan diri karena kesibukan sebagai politisi dan legislator senayan serta kegiatan penting lainnya. Pendiri UTS tersebut  mempercayakan Dr Arief Budi Witarto sebagai penggantinya untuk memimpin perguruan tinggi yang berlokasi di kaki Bukit Olat Maras, Desa Batu Alang, Kecamatan Moyo Hulu, Sumbawa ini. Serah terima jabatan itu rencananya akan dilaksanakan secara resmi Rabu (11/3) sore.

amdal

Selama ini Doktor Arief—sapaan akrab Dekan Fakultas Teknobiologi (FTB) UTS, lebih banyak menghabiskan waktu di Tokyo Jepang. Dengan jabatan barunya ini, Doktor Arief akan menetap di Sumbawa dan ini merupakan kebanggaan masyarakat dan daerah karena salah seorang ilmuwan dunia mau mengabdi dan berkonstribusi dalam pembangunan Sumbawa.

Doktor Arief Menjadi Juri di IGEM 2014, Boston Amerika
Doktor Arief Menjadi Juri di IGEM 2014, Boston Amerika

Penunjukan Doktor Arief dinilai tepat. Selain lebih senior dari dekan lainnya, Peneliti Muda Terbaik Indonesia Tahun 2002 bidang Ilmu Pengetahuan Teknik dan Rekayasa ini cukup disegani, tegas, cerdas dan dikenal pekerja keras.

Pria kelahiran Lahat, Sumatera Utara, 12 Mei 1971 memulai karier akademiknya setelah lulus SMA dan diterima di jurusan yang disenanginya di Matematika ITB. Ia mengambil keputusan yang sangat tepat ketika melepaskan ITBnya untuk masuk jurusan Bioteknologi di Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang, dengan dukungan program beasiswa STMDP (Science and Technology Manpower Development)-nya KMNRT (Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi). Keputusan inilah yang turut menghantarkannya menjadi ahli muda satu-satunya di bidang rekayasa protein yang terlihat saat ini.

Arief belajar bioteknologi dari S-1 hingga S-3 di jurusan bioteknologi, Fakultas Teknik, Tokyo University of Agriculture and Technology, Tokyo, Jepang, pada 1991-2000.

Selama kuliah di Jepang, indeks prestasi kumulatifnya (IPK) memuaskan, yakni 3,54 (S-1), 3,89 (S-2), dan 4,00 (S-3). Dengan prestasi akademiknya itu, ia mendapatkan beasiswa dari berbagai lembaga, yakni Kementerian Riset dan Teknologi (S-1), Iwaki Glass Jepang (S-2), serta Ultizyme International Jepang dan Menteri Riset dan Teknologi (S-3).

Baca Juga  Gali Potensi Sumbawa, Rektor UTS Gandeng Pengusaha Perancis dan Peneliti Rusia

Setelah lulus S-3 pada 2000, Arief menjadi research associate di School of Materials Science, Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), Ishikawa, ia memutuskan pulang karena ingin mengembangkan ilmu bioteknologi-rekayasa protein yang masih sangat jarang di Indonesia pada 2002. Ia memilih bekerja di LIPI. Selama di Indonesia, Arief sempat menjadi peneliti tamu di perusahaan bioteknologi enzim, Ultizyme International, Tokyo, pada 2004. Tiga tahun kemudian, ia menjadi peneliti tamu di Fraunhofer Institute for Molecular Biology and Applied Ecology, Aachen, Jerman.

Dengan latar belakang pendidikan dan profesi cemerlang, ia menggaet sejumlah penghargaan, di antaranya Peneliti Muda Indonesia Terbaik Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknik, dan Rekayasa dari LIPI (2002), Satya Lencana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden RI (2003), dan Technopreneur Award dari Fraunhofer Society dan German Academic Exchange Service, Jerman (2007).  Di Indonesia, Arief bisa melakukan penelitian sendiri. Obyek penelitian melimpah. Sayangnya, orang Indonesia kurang menghargai keahlian seseorang. Prestasi internasional tak menjamin seseorang bisa mendapatkan dana penelitian sehingga tak mendorong peneliti berprestasi yang sebenarnya. Sering kali dana penelitian diberikan karena faktor kedekatan dengan penilai.

Untuk mendanai risetnya, ia membantu penelitian di perguruan tinggi, menjadi konsultan pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi serta lembaga penelitian. Pada 2002-2007, Arief meneliti molecular farming produksi protein rekombinan untuk farmasi, terutama tembakau dan tanaman kantong semar. Selama periode ini, ia mendapatkan dana penelitian dari pemerintah lewat LIPI dan Menteri Riset dan Teknologi.

Sejak 2007, ia meneliti nano-bioteknologi pada virus demam berdarah untuk pengembangan vaksin dan obat demam berdarah. Salah satu penelitian didanai perusahaan bioteknologi Australia dan sudah dipresentasikan di Brisbane, Australia.

Ia melanjutkan penelitian itu dengan mengajukan proposal ke LIPI dan Menteri Riset dan Teknologi, tapi ditolak. Ia pun mendanai riset dari kocek sendiri dibantu fasilitas dan peneliti dari Litbang Departemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Batan. Upaya ini tidak sia-sia karena Agustus 2009 hasilnya mendapat perhatian dunia dan diundang untuk presentasi di Sydney, Australia.

Baca Juga  Beasiswa Pendidikan Luar Negeri NTB Banjir Peminat

Tak mudah bagi Arief untuk menjalankan risetnya. Karena keterbatasan dukungan fasilitas laboratorium, ia melakukan penelitian di tempat lain dengan meninggalkan jam kerja. Singkat cerita potensi luar biasa yang dimiliki  Doktor Arief dilirik Doktor Zul yang mendirikan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Rayuan Doktor Zul meluluhkan hati Doktor Arief yang kemudian menerima ‘pinangan’ tersebut untuk bersama-sama membesarkan UTS. Salah satu kesuksesan Doktor Arief dalam membina mahasiswanya di Fakultas Teknobiologi adalah keberhasilan meraih empat penghargaan dunia pada kompetisi iGEM (International Genetically Engineered Machine) di Boston, Amerika Serikat.  Selain meraih medali perunggu (bronze medal) dari keberhasilannya melakukan pemaparan project Econey, dalam kompetisi itu UTS menerima penghargaan Interlab Study Awards, Best Policy and Practices Shout Out (kebijakan dan praktik) dan IGEM Chairman’s Award–penghargaan spesial yang paling prestisius dari Presiden IGEM. Empat penghargaan ini secara tidak langsung melambungkan nama UTS dan Sumbawa di mata dunia. Yang membanggakan lagi, Dr Arief menjadi satu-satunya ilmuwan yang mewakili Indonesia menjadi juri di ajang yang diikuti 250 perguruan tinggi dunia dari 31 negara tersebut.

Dengan jabatan barunya sebagai Rektor UTS, banyak pekerjaan yang menanti Doktor Arief. Di antaranya kembali mengirim mahasiswa FTB untuk mengikuti IGEM 2015 di Boston Amerika Serikat, mahasiswa FATETA ke Amerika dan Tahun 2016 mendatang menjadi tuan rumah ASEAN University Youth Summit (AUYS) 2016 yang diikuti 10 negara ASEAN termasuk ratusan perguruan tinggi di Indonesia. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda