Petani di Sumbawa akan Sejahtera

oleh -6 views
Bersama Kadis Pertanian Sumbawa Ir Talifuddin M.Si
bankntb

Dinas Pertanian Propinsi Siap Bombardir Bantuan

Sumbawa Besar, SR (14/02)

Mokhlis Pertanian 1Petani di Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya di Kabupaten Sumbawa bakal semakin sejahtera. Sebab pemerintah memberikan perhatian yang lebih pada sector tersebut. Hal ini terungkap dalam kunjungan silaturrahim Kepala Dinas Pertanian Provinsi NTB, Ir H Mokhlis M.Si di Kabupaten Sumbawa, Kamis (12/2). Sebagai pejabat baru, mantan Kepala Arsip dan Perpustakaan NTB ini langsung menggelar pertemuan dengan Kadis Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir Talifuddin M.Si beserta jajarannya di Aula Kantor Dinas setempat.

Haji Mokhlis—akrab mantan penjabat Bupati Sumbawa ini disapa menyampaikan, pemerintah pusat telah menggelontorkan anggaran yang cukup besar bagi sector pertanian. Untuk bidang pertanian di NTB, pemerintah mengalokasikan dana APBN 2015 sebesar Rp 126 miliar. Anggaran ini digunakan untuk menambah sarana prasarana pertanian. Berkat komunikasi intensif yang dibangun Dinas Pertanian Provinsi, ungkap Haji Mokhlis, pemerintah pusat menganggarkan dana bagi pertanian NTB melalui APBN-P lebih dari Rp 500 miliar atau 4-5 kali lipat dana APBN. Dana cukup besar ini akan dialokasikan untuk menambah perbaikan jaringan irigasi sekitar 65 ribu hektar, optimasi lahan 29.700 Ha, pengadaan traktor sekitar 570-an unit, roda empat dan lainnya. Ini merupakan khabar gembira, peluang yang harus diraih sekaligus menjadi tantangan bagi para petani terutama di Kabupaten Sumbawa.

Namun dari program ini, Haji Mokhlis berjanji akan memberikan porsi lebih banyak untuk daerah ini mengingat Sumbawa memiliki potensi lahan yang sangat luas jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di NTB. Karenanya Ia meminta pemerintah daerah melalui dinas pertanian untuk menginventarisir kebutuhan pertanian. “Berapa kebutuhan perbaikan jaringan, pengadaan hand tractor, mesin air dan lainnya harus terinventarisir sebagai acuan bagi kami untuk merealisasikannya,” ucap Haji Mokhlis.

Selain itu Sumbawa mendapat program pengembangan jagung dengan luas lahan mencapai 2.000 Ha, di samping 8000 Ha untuk Upsus (Upaya khusus) tanaman padi. “Kami menawarkan berapa lagi yang dibutuhkan Sumbawa, insha Allah akan kami upayakan asalkan sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang ada,” ujar putra daerah yang pernah sukses menjadi Pimpinan Bagian Proyek (Pimbagpro) Perintisan Transmigrasi Labangka 1, 2, 3 dan 4 Bidang Pertanian, belasan tahun silam.

Baca Juga  Rumah Zakat Garap Pemuda, Bangun Mental Enterpreneur

Mokhlis berharap jajaran pertanian di Sumbawa perlu mengidentifikasi kembali factor pembatas apa yang harus dibenahi dalam rangka peningkatan produksi pertanian. Dari identifikasi inilah yang nantinya akan disupport propinsi. Hanya satu syarat yang diinginkan pemerintah, bagaimana produksi pertanian berupa padi, jagung dan kedelai di Kabupaten Sumbawa dapat ditingkatkan minimal 20-30 persen.

Terkait dengan keluhan petani di Sumbawa akan kekurangan pupuk, Haji Mokhlis menyatakan akan memberikan perhatiannya. Sebab diakui bahwa pupuk adalah salah satu yang dibutuhkan untuk peningkatan produksi. Ia mengaku telah diperintahkan Gubernur saat meninjau kondisi sektor pertanian khususnya tanaman jagung yang merupakan salah satu program PIJAR unggulan Pemerintah Provinsi NTB di Kecamatan Labangka, Rabu (11/2) lalu. Gubernur meminta dirinya bersurat ke pusat untuk meminta tambahan kuota pupuk. “Kami ingin Dinas Pertanian Sumbawa memberikan data berapa pupuk yang ada sekarang, berapa kekurangan dan kebutuhannya sebagai dasar permintaan kami ke pusat,” imbuh jebolan S2 Fakultas Ekonomika Pembangunan Universitas Gajah Mada (UGM) ini.

Untuk meningkatkan produksi pertanian lanjut Mokhlis, merupakan tugas bersama. Semua harus kompak baik penyuluh, KCD, Statistik bahkan Babinsa dalam mendorong sektor ini di lapangan, termasuk memotivasi petani untuk giat dan bekerja keras. Seperti di Lombok Timur, Lombok Barat dan Lombok Tengah, Babinsa di sana turun bersama PPL memperbaiki jaringan irigasi. Kenyataan ini harus juga dilakukan di Sumbawa yang memiliki potensi yang lebih besar daripada daerah lain di NTB. Kombinasi sejumlah unsur ini harus diperkuat dengan mengintensifkan koordinasi bukan hanya di tingkat kabupaten, melainkan di tingkat BPP maupun kelompok. “Jangan hanya kita di atas yang bergerak sementara di bawah melempem, padahal eksekusinya berada di bawah. Inilah tujuan kami datang untuk menggelar rapat ke kabupaten dan insha Allah ke depan rapat dan koordinasi seperti ini langsung dilakukan di tingkat lapangan supaya di bawah semakin bergerak,” tandasnya.

Baca Juga  Klinik Lawang Gali Tutup, KPPT Tidak Takut Digugat

Tidak ada alasan pemerintah untuk tidak mengutamakan pertanian. Karena pertanian adalah urat nadi peradaban umat manusia. “Ketika petaninya sejahtera, maka masyarakat dan daerahnya pasti makmur,” cetusnya.

Revolusi Hijau

Mokhlis menyinggung bagaimana peradaban Islam pada abad ke-8 M berhasil menancapkan kekuasaan di tiga benua Asia, Afrika dan Eropa. Ini karena mampu melakukan sebuah revolusi yang sangat hebat atau dikenal sebagai ‘’Revolusi Hijau’‘ atau ‘’Revolusi Pertanian’‘. Saat itu, umat Islam berhasil melakukan transformasi fundamental di sektor pertanian. Revolusi yang dimulai dari bagian paling timur dunia Islam itu meluas ke seluruh wilayah kekuasaan Islam. Pada abad ke-11 M, ‘’Revolusi Hijau’‘ mampu memberi dampak positif bagi seluruh aspek kehidupan. Revolusi ini berdampak besar pada produksi pertanian, kependudukan, pertumbuhan kota, distribusi tenaga kerja, industri, pakaian, makanan, masakan dan lainnya.

Kemajuan menyentuh ranah pertanian. Serangkaian teori ditemukan oleh kaum intelektual dan dipraktikkan hingga membuahkan hasil melimpah di tanah-tanah negeri Muslim. Panen pun mengerek tingkat kesejahteraan. Ini semua bermuara pada pengetahuan umat Islam yang memadai tentang pertanian.Tak hanya soal cara memanen. Mereka telah mengetahui bagaimana memilih lahan bagi tanaman mereka, mana yang cocok dan yang tidak. Sistem pengairan bermunculan dan memicu perkembangan teknologi di bidang ini. Mereka hafal bagaimana membuat pupuk dan komposisi penggunaannya.

Karenanya pertanian di Sumbawa harus mengalami revolusi sehingga mampu meningkatkan produksi serta menjadi contoh dan andalan NTB maupun nasional. “Balong ai kayu, telas kebo jaran, mole pade antap,” tutupnya. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda