Komitmen Relokasi RSUD Ditagih

oleh -1 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (14/02)

Rencana rekonstruksi RSUD Sumbawa dengan mengambil lahan SMAN 1 Sumbawa gagal dilaksanakan setelah adanya reaksi penolakan dari masyarakat. Meski gagal, namun pemerintah daerah tetap berkomitmen untuk merelokasi RSUD karena lokasi sekarang ini dinilai tidak representatif. Beberapa lokasi sudah diplot menjadi calon relokasi di antaranya Balai Benih Sering yang telah dijadikan Taman Genang Genis, dan Taman Kerato Kecamatan Unter Iwis. Komitmen yang akan direalisasikan secara bertahap mulai Tahun 2015 inilah yang ditagih masyarakat. Sebab sampai sekarang tidak terlihat tanda-tanda RSUD Sumbawa direlokasi, bahkan sebaliknya beberapa sarana prasarana terus ditingkatkan.

Hal ini mendapat sorotan salah seorang Tokoh Sumbawa, Suharto SH M.Si. Sebagai orang yang menolak rekonstruksi RSUD dengan mengambil lahan SMAN 1 Sumbawa dan menyetujui relokasi, mempertanyakan komitmen tersebut. Sebab komitmen ini tercetus dalam pertemuan yang langsung dihadirinya.

“Harusnya tahun ini sudah dimulai dengan pembuatan DEDnya atau FS (Feasibility Study) dan menetapkan lokasi relokasi, sebagai wujud kesungguhan dari komitmen yang telah dicetuskan,” kata Harto—akrab disapa mantan Ketua Komisi I DPRD Sumbawa dua periode ini.

Ironisnya justru RSUD Sumbawa semakin dibenahi dan rencananya IGD akan dibangun lantai II. Memang pembenahan RSUD sangat baik bagi masyarakat selaku penerima manfaat, tapi yang menjadi persoalan adalah kepantasan dan konsistensi pemerintah daerah. “Mengapa harus fokus membangun RSUD di lokasi yang sudah dianggap tidak representative, padahal sudah ada komitmen relokasi. Harusnya relokasi yang lebih difokuskan tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat yang tetap membutuhkan pelayanan kesehatan di RSUD di lokasi sekarang ini,” tukas Harto.

Baca Juga  Presiden: Percepat Pendataan dan Penataan Tanah di Kawasan Hutan

Karenanya Harto mendesak pemerintah baik eksekutif maupun legislative untuk kembali pada komitmen bahwa relokasi RSUD sudah menjadi kebutuhan. “Rencanakanlah apa yang akan dikerjakan, dan kerjakanlah apa yang sudah direncanakan,” demikian tokoh kritis ini. (*) Baca juga di Gaung NTB

 

iklan bapenda