Mengais Rezeki di Negeri Jiran

oleh -2 views
Hani
bankntb

Malaysia, SR (02/02)

Hani
Hani

Tak sedikit cerita miris para Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di berbagai negara nyaring terdengar bahkan hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah melalui kementerian tenaga kerja atau dinas tenaga kerja (Disnaker) di tingkat kabupaten untuk menuntaskannya. Namun cukup banyak dari mereka yang bisa bangkit dan berhasil mengais rejeki tanpa menemui banyak persoalan. Bahkan dari jerih payah selama bekerja sebagai TKI telah mampu meningkatkan taraf ekonomi keluarga. Hal ini terungkap dalam kunjungan wartawan Gaung NTB selama seminggu di Kuala Lumpur dan sejumlah Negara bagian di Malaysia mendampingi 10 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang ditunjuk sebagai delegasi Indonesia pada ASEAN University Youth Summit (AUYS) di Universitas Utara Malaysia (UUM), Kedah, Negara Bagian Utara Malaysia, 24—31 Januari 2015.

amdal

Dalam dalam perjalanan singkat itu berhasil menemui dan mewawancarai beberapa TKI. Salah satunya Hani (45) TKW asal Kelurahan Brang Biji Sumbawa yang sudah bekerja di Malaysia sejak 8 tahun silam. Hani yang ditemui di Gombak, Selangor Kuala Lumpur mengaku berangkat ke negeri “Upin Ipin” sekitar Tahun 2007 melalui agen resmi di Surabaya.

Hani memulai ‘karier’ TKW-nya dengan menjadi seorang baby sister dengan gaji 800 RM (Ringgit Malaysia) atau sekitar Rp 2,4 juta per bulan. Selama bekerja, sang majikan memperlakukannya cukup baik membuat Hani merasa betah dan tidak gonta-ganti majikan hingga sekarang sudah mengasuh 4 anak majikannya. Dari hasil jerih payahnya ini, Hani sudah bisa membeli rumah dan tanah di Solo, serta sepetak tanah di Kebayan Brang Biji Sumbawa. Setiap bulannya Hani tetap mengirim uang untuk keperluan pendidikan anak-anaknya. Kebetulan Hani memiliki tiga orang anak hasil perkawinannya dengan pria asal Solo. Meski menetap di Solo, Hani bersama keluarganya masih sempat mengunjungi keluarganya di Sumbawa. Majikannya rutin memberikan cuti, dan Hani diberikan keleluasaan untuk berinteraksi dengan TKI lain maupun tetangga tempatnya bekerja, termasuk menjemput rombongan UTS di Taman Gombak yang melaju menggunakan bus dari Kuala Lumpur (KL) Center. Hani juga yang mencarikan home stay untuk rombongan UTS persiapan bertolak ke Indonesia selepas mengikuti kegiatan AUYS selama tiga hari. Dari Hani-lah, diperoleh gambaran situasi tentang Malaysia baik dari sisi plus maupun minusnya sehingga rombongan dapat beradaptasi.

Hani tak menampik adanya TKI bermasalah yang tersebar di beberapa tempat termasuk di lingkungan tempatnya bekerja. Banyak di antara TKW yang menjadi pembantu rumah tangga mendapat perlakuan tak senonoh dari majikan. Mereka rata-rata bekerja pada majikan asal India dan China. Untuk menyelamatkan TKI bermasalah ini, Hani kerap menghubungi rekan TKI lainnya yang lumayan cukup banyak untuk mencari strategi. Sebagian menemui majikan, sebagian TKI lainnya menghubungi polisi Diraja Malaysia. Akhirnya TKI bermasalah yang ditangani ini berhasil diselamatkan. Namun ada juga TKI yang tak tertangani dan menjadi urusan polisi setempat. Mereka sebagian besar berangkat secara illegal yang oleh polisi Malaysia disebut sebagai pendatang haram.

Baca Juga  Sudah Tuntas, Akses Jembatan Samota Dibuka

Selain sebagai TKI resmi, Hani secara rutin mengurus Permit—dokumen kependudukan sementara bagi pekerja yang diperpanjang setiap tahunnya. Dengan dokumen ini, para TKI bebas kemana saja di wilayah Malaysia tanpa gangguan dari petugas yang hampir setiap waktu melakukan razia.

Suria
Suria

Nasib yang dialami Hani tak jauh beda dengan Suria. Perempuan yang ditemui saat berada satu ruangan di atas LRT (kereta listrik) mengaku sudah bekerja selama 25 tahun di Malaysia. Meski sudah masuk kategori nenek-nenek karena sudah memiliki cucu, perempuan asal Kendal Jawa Barat ini masih terlihat enerjik. Pekerjaannya lumayan bagus yaitu menjadi office girl di Pejabat Pos sebutan Kantor Pos terbesar di Kuala Lumpur dengan gaji 1000 ringgit atau Rp 3 juta lebih. Setiap Sabtu-Minggu, libur kantor dan dimanfaatkan Ibu Suria—panggilannya, bekerja freelance di tempat lain dengan gaji 80—100 ringgit (Rp 240—300 ribu) per harinya. “Selama masih kuat, harus rajin bekerja untuk persiapan ketika kita sudah tidak lagi mampu bekerja,” kata Ibu Suria yang masih kental dengan logat Jawanya.

Suria yang menetap di Dato Keramat Kuala Lumpur mengaku memiliki 5  orang anak, tiga hasil perkawinannya dengan suami pertama yang telah bercerai, duanya dari pria asal Madura yang tinggal dan bekerja di Johor Malaysia. Dua anaknya sudah menetap di Malaysia setelah dipersunting perjaka setempat. Selebihnya menetap dan masih sekolah di Jawa. Seperti halnya Hani, Suria mengaku nyaman bekerja di Malaysia karena sudah seperti Negara sendiri.

Suwawi
Suwawi

Cerita dua TKW ini mungkin sedikit berbeda dengan yang dialami Suwawi (50) TKI asal Banyuwangi yang secara tak sengaja berada satu meja bersama rombongan UTS saat sarapan pagi di Pasar Seni, Kualalumpur.

Menurutnya awal menjadi TKI sangat menyakitkan. Bukan karena salah Malaysia, tapi salahnya sendiri karena masuk secara illegal. Saat keberangkatan pertama sekitar Tahun 2000, pria yang kini sukses sebagai pekerja bangunan tertangkap Polisi Diraja Malaysia yang terkenal tak kenal kompromi. Suwawi terpaksa harus mendekam di balik jeruji besi selama dua minggu dan kemudian dipulangkan. Dua tahun berselang Suwawi kembali masuk Malaysia secara illegal dan terjaring razia. Tapi Suwawi tidak dipenjara seperti sebelumnya melainkan dideportasi. Tekadnya untuk menjadi TKI Malaysia tak pernah surut, kali ini ‘semi ilegal’. Dengan menggunakan pasport kunjungan (turis), Suwawi berhasil masuk Malaysia dan bertemu dengan seorang kontraktor yang kemudian mengajaknya bekerja sebagai tukang terali bangunan. Upaya yang ketiga ini nyaris mengulang nasib pertama dan kedua. Karena saat itu pemerintah Malaysia melakukan razia sekaligus pendataan para pekerja untuk memeriksa kelengkapan dokumen. Beruntung pria yang telah dikarunia 3 orang anak ini lolos karena pemerintah memberikan kemudahan (pemutihan) bagi TKI yang sudah lama bekerja namun belum mengantongi dokumen untuk mengurus permit. Dengan adanya permit ini Suwawi tidak lagi dihantui razia dan tindakan polisi Diraja Malaysia. Perjalanan karier Suwawi semakin membaik. Dia naik ‘pangkat’ dari tukang terali musiman menjadi pekerja tetap bangunan dengan gaji 300 ringgit per hari. Meski terbilang besar, namun sebagiannya digunakan untuk biaya kontrakan rumah di Perak Malaysia, listrik dan kebutuhan lainnya. Sisanya secara rutin dikirim kepada istri dan anak-anaknya yang berada di Banyuwangi. Namun yang dikeluhkan Suwawi adalah biaya pengurusan permit setiap tahunnya yang terus mengalami peningkatan. “Sekarang sudah 2.500 ringgit atau sekitar 7,5 juta rupiah. Ini terbilang sangat mahal. Mau tidak mau harus kami perpanjangkan setiap tahun jika tidak ingin dideportasi,” ucapnya.

Baca Juga  Dampak Wabah Corona, Nilai Bantuan Program Sembako Dinaikkan

Di bagian lain Suwawi mengiyakan banyak TKI illegal masih berada di Malaysia. Meski mereka bekerja tapi hidupnya tidak tenteram dan selalu dihantui razia. Selain itu tempat tinggal mereka pun tersembunyi untuk menghindari pengawasan petugas. “Kalau tidak memiliki dokumen, pasti mereka tidak berani berkeliaran sehingga sulit ditemui,” ucapnya.

Hasil serapan wartawan di lapangan, banyaknya TKI illegal terutama dari NTB karena mereka masuk ke Malaysia menggunakan passport kunjungan. Selain mudahnya penerbitan passport ini di Imigrasi, juga adanya agen tak resmi yang membantu mereka mencari tempat dan pekerjaan di Malaysia. Hal ini terungkap apabila mereka menemui masalah. Untuk meminimalisir kasus ini, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan agar setiap WNI yang menggunakan passport kunjungan di Malaysia atau Negara ASEAN lainnya harus membeli tiket pesawat saat keberangkatan dan kepulangan. Seperti di Bandara Internasional Lombok, kebijakan itu sudah lama diberlakukan. (*) Baca juga di Gaung NTB

 

iklan bapenda