Kesadaran Berjilbab dan Larangan Merokok di Malaysia

oleh -16 views
bankntb

Malaysia, SR (27/01)

UUM Malaysia 3Jika ingin berhenti merokok dan rajin sholat datanglah ke Malaysia. Mungkin pernyataan ini tidak 100 persen benar namun selayang pandang dan kondisi yang dialami rombongan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) dalam perjalanan rangkaian keikutsertaan Forum ASEAN University Youth Summit (AUYS) 2015 di Universiti Utara Malaysia (UUM), membuktikan semua itu.

amdal
UMM Dikelilingi Hutan
UMM Dikelilingi Hutan

Hari kedua berada di Malaysia, rombongan UTS diterima Sekretariat AUYS UUM di Kedah, bagian Utara Malaysia. UUM adalah perguruan tinggi keenam di Kedah yang resmi didirikan pada Tahun 1984 tersebut nyaris sama dengan Universitas Teknologi Sumbawa. Selain didirikan oleh tokoh pusat asal daerah, UUM juga berada di daerah pegunungan jauh dari pusat kota. Semua bangunan kampus yang mendukung proses pendidikan di perguruan tinggi ‘milik’ Mahathir Muhammad ini dibangun oleh belasan perusahaan ternama termasuk Petronas. Tidak mengherankan jika penamaan bangunan itu sesuai nama perusahaan pendonor. Yang membedakan dengan UTS adalah luas lahan yang dimiliki UUM mencapai ribuan hektar. Saking luasnya, lahan university ini melebar hingga berbatasan langsung dengan Negara Thailand. Dengan lahan yang sangat luas, apapun bisa dibangun, seperti tersedianya 5 lapangan golf yang kerap digunakan untuk mendukung lahirnya atlit berbakat, Lintasan Gokaart, pusat perbelanjaan, pembangkit listrik, asrama mahasiswa (putra dan putri) berlantai tiga dan fasilitas lainnya. Belum lagi sebuah lembah yang permai dikelilingi bukit hijau yang masih terbilang perawan serta flora dan faunanya, sehingga sangat indah dipandang mata. Perbedaan ini sangat wajar, karena UUM jauh lebih dulu berdiri jika dibandingkan dengan UTS yang belum genap dua tahun. Meski demikian UTS masih bisa mengimbanginya dari sisi prestasi di antaranya meraih sejumlah penghargaan dunia di IGEM Boston Amerika Serikat. Itulah sekilas UUM.UUM Malaysia 4

Perjalanan hari kedua yang cukup melelahkan ini menangkap beberapa hal menarik. Hampir semua wanita yang beragama muslim baik di Kuala Lumpur maupun di Kedah Utara Malaysia mengenakan jilbab, demikian dengan mahasiswi di Universitas Malaya dan UUM yang dikunjungi rombongan. Bagi yang tidak mengenakan jilbab disebut Hairfree—rambut bebas yang berkonotasi negative.

Baca Juga  Semarak III Diinisiasi KT Unter Bulaeng Berlangsung Semarak

Masjid dan surau tak pernah sepi. Siapa yang tidak sholat menjadi perhatian sehingga merasa malu dan akhirnya ikut ke masjid. Memang Malaysia bukan Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, namun nuansa keislamannya masih sangat kental. Surau (musholah) wanita dan surau laki-laki berada terpisah. Tidak diperkenankan laki-laki mendatangi surau wanita, demikian sebaliknya. Jika ketahuan akan diberikan sanksi. Katanya sih, dinikahkan secara adat dan sanksi lainnya. Begitu aturan di masjid atau surau harus ditaati para jamaah. Setiap rumah ibadah ini selalu tertulis beberapa larangan seperti dilarang tidur, makan dan minum di dalamnya. Untuk menegakkan aturan ini, petugas pengamanan masjid selalu mengawasi. “Sebulan saja kita di sini pasti sudah menjadi ustad dengan dahi yang menghitam,” kata Zulkarnain wartawan Radar Sumbawa yang ikut dalam rombongan usai sholat dzuhur di Masjid Dzohir, Kedah.

Warga di sana tak menampik jika Malaysia ada casino dan miras. Namun dua praktek ini hanya berada di lokasi yang sangat khusus dan diperuntukan bagi orang-orang asing atau wisatawan itupun yang beragama non muslim. Ketika muslim ditemukan melakukan praktek ini akan diganjar hukuman baik kurungan maupun sanksi lainnya. Di sudut-sudut kota nyaris tidak ada orang yang berpacaran atau bermesraan. Apalagi yang berboncengan sepeda motor sambil berpelukan, kecuali berstatus suami istri inipun jarang terlihat. “Pemandangan semacam itu di sini masih tabu,” ucap Ananda Ahmad Mahmudi—mahasiswa pasca sarjana asal Sumbawa di Malaysia.

Lain jilbab lain juga rokok. Di Malaysia merokok sangat dilarang bahkan boleh terbilang diharamkan. Nyaris tidak ada tempat yang disediakan untuk para ‘ahli hisap’ ini. Bahkan sejak rombongan UTS berada di Malaysia tidak pernah melihat orang yang merokok. Jika tak tahan ingin merokok, harus di tempat tersembunyi dan tak terlihat publik. Apabila ketahuan mereka akan diberikan sanksi denda sebesar 200 RM atau sekitar Rp 600 ribu. Semua kehidupan di sana sudah tersistem, sehingga masyarakat harus mengikutinya. “Inilah ujian yang paling berat bagi kami para perokok,” kata Muhammad Yamin SH MH—Rektor Institut Ilmu Sosial dan Budaya Samawa Rea (IISBUD Sarea).

Baca Juga  SMP Negeri 1 Sumbawa Terbaik Hasil Try Out Tingkat Kabupaten

Diakui Pak Yung—sapaan populer Rektor IISBUD, biasanya dalam sehari dua bungkus habis terkuras, tapi sejak di Malaysia hanya beberapa batang. “Di sinilah tempat untuk menghilangkan kecanduan terhadap rokok. Jika terus menerus seperti ini paling lama sebulan saya pasti berhenti merokok,” ujarnya.

Di tempat-tempat publik selalu terpasang plang warning untuk tidak merokok. Ini tidak sekedar slogan karena selalu terpantau tidak hanya oleh petugas tapi juga CCTV yang terpasang di beberapa tempat. Sangat jauh berbeda dengan Sumbawa. Meski sudah dicanangkan “Bebas Asap Rokok” di tempat-tempat tertentu namun para ahli hisap tetap melanggarnya karena memang tidak ada sanksi yang mengatur. Sehingga pencanangan hanya sekedar untuk melaksanakan program dan item anggaran yang sudah terlanjur diketok.

Selayang pandang di Malaysia ini membuat masyarakatnya hidup tenang, nyaman dan aman serta sehat dengan tingkat harapan hidup cukup tinggi. Kondisi ini bisa diterapkan di Indonesia terutama di Kabupaten Sumbawa. Tentu aturan yang dibuat harus dibarengi dengan sanksi tegas. Sebab cara ini menjadi salah satu upaya untuk merubah sebuah karakter sekaligus membangun kesadaran. (*)  Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda