Amin: Bank NTB Tidak akan Kolaps

oleh -0 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (24/01)

Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masih tetap optimis Bank NTB mampu mencapai “capital aset ratio” hingga Tahun 2016 sebesar Rp 1 Triliun. Rasa optimis ini karena masih ada waktu untuk terus menggenjot kinerja dan mengelola potensi yang ada.

amdal

Wakil Gubernur NTB, H Muh Amin SH M.Si yang dikonfirmasi di Sumbawa, Rabu (21/1) menyatakan rasa optimis itu. Karena itu Pemprov terus mendorong direksi dan jajaran Bank NTB untuk lebih kreatif mengingat masih banyak potensi yang harus digarap. Haji Amin—sapaan singkat Wagub, mengibaratkan Bank NTB tengah berburu di kebun binatang, yang artinya tidak terlalu sulit untuk mendapatkan apa yang ingin dicapai. Pasalnya, semua PNS di NTB menjadi nasabahnya, tinggal bagaimana Bank NTB memiliki daya saing yang lebih kompetitif. “Masih banyak target yang harus dicapai, salah satunya bagaimana jajaran direksi Bank NTB bisa menarik dana pihak ketiga jauh lebih besar,” desak Haji Amin.

Tentunya kinerja direksi harus lebih dioptimalkan. Ketika tidak optimal sudah pasti ada konsekwensi dan dengan sendiri harus mundur karena dianggap sudah tidak mampu. Terhadap kemungkinan terburuk ketika modal inti Bank NTB belum mencapai Rp 1 T maka ada dua pilihan yaitu ditutup atau sebagian sahamnya dijual, Wagub  mengaku belum memikirkannya. Namun Ia tidak menampik adanya penawaran kerjasama dari beberapa lembaga perbankan lain. Adanya tawaran ini menunjukkan bahwa Bank NTB masih potensial. “Kami tetap optimis, Kita lihat saja sampai 2016 nanti,” tandasnya.

Baca Juga  Polres Sumbawa Inisiasi Apel Siaga Penanggulangan Bencana

Sebelumnya Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi NTB, Nurdin Ranggabarani SH MH yang ditemui saat kunjungan kerja di Sumbawa mengakui dua ancaman bagi Bank NTB yaitu ditutup atau dijual. Sesuai aturan Bank Indonesia modal inti yang harus dimiliki Bank NTB pada Tahun 2016 mendatang harus sudah mencapai Rp 1 T.  Namun dengan sisa waktu dua tahun ini, ungkap Nurdin Raba—akrab politisi gaek ini disapa, rasanya cukup berat karena posisi modal inti sampai saat ini baru mencapai Rp 430 Miliar. Artinya masih ada 570 M yang harus dikejar. Menurut Nurdin Raba, ini bisa tertutupi apabila setiap tahun masing-masing kabupaten/kota dapat memberikan suntikan modal sebesar Rp 25 M sehingga dari 10 kabupaten/kota per tahunnya dapat ‘menyumbang’ modal Rp 250 M atau dalam dua tahun mencapai Rp 500 M. Ini belum termasuk suntikan modal dari pemerintah propinsi. Tapi Nurdin Raba pesimis ini bisa dilakukan karena kemampuan keuangan kabupaten/kota berbeda-beda. Selama ini Kabupaten Sumbawa menjadi penyuntik modal terbesar di antara kabupaten/kota lainnya, yang pada tahun ini saja mencapai Rp 20 M.  Sedangkan Dompu, KSB dan KLU serta kabupaten /kota lainnya paling berada di bawah Rp 10 M. “Kemampuan kita dalam menghimpun modal dari semua kabupaten/kota ditambah propinsi setiap tahunnya paling tinggi hanya 100 Miliar rupiah, artinya dalam dua tahun mendatang modal inti totalnya hanya bisa mencapai 600 M,” bebernya.

Baca Juga  Sumbawa Ikut Promosi Pariwisata di Jakarta

Tentunya jumlah ini belum mencapai persyaratan yang ditentukan Bank Indonesia, sehingga untuk menutupinya harus menjual saham antara 30-40 persen apabila menginginkan Bank NTB terus berkiprah. “Jika tidak dijual ya harus ditutup,” tukasnya.

Diakui Nurdin Raba, sudah banyak yang berminat untuk membeli saham Bank NTB yang terungkap dari proposal yang diajukan pemohon, termasuk salah satunya Chairul Tanjung—CEO Trans TV atau mantan Menko Perekonomian.

Yang harus dilakukan untuk menyelamatkan Bank NTB selain menjual saham, kata mantan pimpinan DPRD Sumbawa tiga periode ini, Pemprov harus menggenjot suntikan modal inti dan meyakinkan kabupaten/kota untuk melakukan hal yang sama. “Jika tidak, sekali lagi saya katakan Bank NTB hanya tinggal nama karena riwayatnya akan tamat,” pungkasnya. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda