Kurikulum Berganti Penerimaan TP Tidak Berpengaruh

oleh -2 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (18/01)

Kabupaten Sumbawa resmi menggunakan kembali Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 dan tidak memakai lagi Kurikulum 2013 (K-13). Ini berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) No 160 Tahun 2014, tentang pemberlakuan KTSP 2006 dan Kurikulum 2013.

Meski demikian, ada 41 sekolah yang diusulkan untuk tetap melaksanakan K-13. Kendati kurikulumnya berganti itu tidak berpengaruh kepada penerimaan Tunjangan Profesi (TP) guru tahun 2015.

Kepala Dinas Pendidikan Naisonal (Diknas) kabupaten Sumbawa, melalui Kasi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) SMP, Sutan Syahril, SSos, menyatakan memang ada perbedaan jumlah jam antara ke dua kurikulum tersebut. Di K-13 jam disejumlah mata pelajaran bertambah, sementara pada KTSP hanya 36 jam.

Untuk diketahui, penambahan jam di K-13 guru tak lagi kekhawatir kekurangan jam, karena porsi jam mengajarnya lebih banyak ketimbang KTSP. Karena itu, guru yang selalu kekurangan jam tidak repot lagi ke sekolah pelosok untuk menutupi kekurangan jam mengajar 24 per minggu.

Sebelumnya, banyak guru yang mengalami kekurangan jam. Jika kekurangan tersebut tidak ditutupi, maka Tunjangan Profesi (TP) tidak bakal bisa diterima.

Dijelaskan Sutan Syahril, peralihan K-13 ke KTSP ini tidak berdampak signifikan terhadap jumlah jam mengajar dan penerimaan TP. Justru, dengan adanya usulan 41 sekolah untuk melanjutkan K-13 akan lebih bagus lagi. “Kalau ada dua kurikulum, maka guru yang kekurangan jam di sekolah KTSP, bisa mencari tambahan jam di sekolah yang menerapkan K-13. Jadi tidak ada pengaruh yang signifikan,” tandasnya.

Baca Juga  SMP 1 Sumbawa Siap Jaga Tradisi Kelulusan 100%

Menurutnya, ada wacana baru terkait syarat penerimaan TP 2015, dimana 24 jam mengajar per minggu tidak lagi menjadi syarat penerimaan TP. Namun mengacu kepada jumlah jam mengajar guru bersangkutan. Rumusnya, per minggu dibagi 24 jam lalu dikalikan dengan gaji pokok. Maka hasil itulah yang akan diterima oleh guru bersangkutan nantinya.

Dicontohkannya, jika jam  mengajar guru per minggunya hanya 18 jam, maka jumlah tersebut dibagikan dengan 24 jam, lalu dikalikan dengan gaji pokok. “Ini sepertinya cukup adil. Jadi 24 jam mengajar per minggu itu tidak lagi menjadi syarat penerimaan TP 2015. Tapi ini masih wacana, semoga bisa terealisasi,” harapnya. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda