Polisi Didesak Ungkap Kasus Pembunuhan Gapit

oleh -10 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (08/01)

IPTU Muaji dan AIPTU Jakun (baju dinas) beri penjelasan soal proses penyidikan
IPTU Muaji dan AIPTU Jakun (baju dinas) beri penjelasan soal proses penyidikan

Lebih dari setahun kasus pembunuhan Jalaluddin–Ketua RT 02 RW 03, Dusun Abadi, Desa Gapit Kecamatan Empang, belum berhasil diungkap jajaran kepolisian Polres Sumbawa. Bahkan sejauh ini proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan Tim Polsek Empang diback-up Tim Reserse dan Kriminal Polres Sumbawa belum mengidentifikasi siapa pelakunya. Hal ini memunculkan dugaan pihak keluarga korban jika kasus tersebut dipetieskan. Karenanya, Selasa (6/1), keluarga korban mendatangi Polres Sumbawa untuk mempertanyakan sejauhmana penanganan kasus yang terjadi pada 30 Oktober 2013 tersebut. Saat itu keluarga korban didampingi Kades Gapit, Syamsul dan A Rahman Atta S.Ag MM—Anggota DPRD Sumbawa asal Empang, diterima Kaur Bin Ops (KBO) Reskrim, IPTU Muaji didampingi Ketua Tim Penyidik, AIPTU Jakun.

Mewakili keluarga korban, Kades Gapit, Syamsul, menilai kasus pembunuhan tersebut sudah berlangsung sangat lama dan belum ada titik terang. Keluarga tidak mengetahui sampai sejauhmana penanganan polisi, mengingat hasil penyidikan yang selama ini dilakukan aparat penegak hukum itu belum pernah disampaikan kepada mereka. Kondisi ini memunculkan spekulasi jika penanganan kasus ini dipetieskan. “Kami tidak ingin kasus ini berhenti begitu saja,” pintanya, seraya mendesak polisi untuk memaksimalkan penyelidikan dan penyidikan sehingga kasus yang sempat menghebohkan ini segera terungkap.

Hal senada disampaikan A Rahman Atta. Anggota DPRD Sumbawa sekaligus kerabat korban, meminta polisi dapat bertindak cepat untuk mengantisipasi dampak lainnya dari belum terungkapnya kasus ini. Selain itu dengan berlarutnya penanganan kasus ini, semakin melunturkan percayaan masyarakat terhadap aparat kepolisian. “Kami minta masalah ini disikapi secara serius dan mendapat prioritas utama,” desaknya.

Baca Juga  Operasi Pekat, Polres Mataram Sita 1.433 Liter Berem

Menanggapi hal tersebut, Tim Penyidik, AIPTU Jakun menyatakan penanganan kasus itu tidak pernah berhenti. Sejauh ini sebutnya, sudah 29 orang saksi yang dimintai keterangan dan tidak satupun yang mengarah kepada siapa pelakunya, di samping belum ditemukan bukti atau alat yang digunakan untuk menghabisi nyawa korban. Yang menjadi persoalan, ungkap Jakun, masyarakat di sekitar TKP masih bungkam termasuk dua orang saksi yang diduga kuat mengetahui kejadian itu. Untuk ‘memaksa’ keduanya buka mulut, berbagai cara dilakukan baik dengan pendekatan kedinasan maupun kekeluargaan. Bahkan penyidik sempat meminta bantuan Kapolres Sumbawa untuk berbicara dari hati ke hati dengan dua saksi tersebut. Namun upaya ini belum membuah hasil.

Jakun juga mengaku pernah didatangi keluarga korban yang mendesak agar kasus ini segera terungkap. Saat itu pihaknya juga meminta bantuan keluarga untuk berperan termasuk masyarakat untuk bekerjasama. “Sekecil apapun informasi yang kami terima pasti kami tindaklanjuti karena dari sepotong informasi jika disatukan akan menjadi utuh,” ucap penyidik senior ini.

Selain itu lanjut Jakun, pihaknya juga melakukan gelar kasus tersebut di Polda NTB. Polda memberikan petunjuk agar memperdalam keterangan dua orang saksi dimaksud yang telah dilakukan dengan berbagai macam pendekatan. Meski demikian penyidik tidak patah arang, akan terus melakukan pengembangan. “Penyelidikan kasus ini tidak pernah berhenti,” cetusnya.

Seperti diberitakan, Jalaluddin ditemukan tewas bersimbah darah dalam posisi tidur menengadah di gang rumahnya lingkungan RT 02 RW 03 Dusun Abadi desa setempat. Kuat dugaan korban dibunuh, karena di tubuhnya ditemukan tanda-tanda kekerasan. Tampak di wajah dan tangannya terdapat luka menganga bekas sabetan senjata tajam. Korban pertamakali ditemukan Agus Supianto (42) tetangga korban yang kebetulan melintas. Selanjutnya temuan mengerikan itu dilaporkan kepada pihak kepolisian. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda