“Balada Ibu” Mahasiswa UTS Mengharu Biru

oleh -0 views
bankntb

Ditampilkan Dalam Rangka Hari Ibu

Sumbawa Besar, SR ( 23/12)

amdal

Drama UTSMengharu biru, itulah suasana di Gedung Wanita Sumbawa saat digelarnya Peringatan Hari Ibu, Senin (22/12). Sebab dalam kegiatan tersebut mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) mempersembahkan Drama Musikal “Balada Ibu”. Penampilan berdurasi  20 menit ini cukup memukau Bupati beserta Ny Hj Rahmah JM dan para pejabat. Dengan penampilan yang apik, adegan dan alur cerita yang menarik, membuat para tamu yang hadir tidak beranjak dari tempat duduknya meski suasana dalam ruangan mengundang keringat. Drama musikal ini menceritakan keluarga Lazy—Kartini pasangan suami istri yang telah dikaruniai dua orang putri. Kartini dengan sabar mengurus rumah dan melayani sang suami yang kelakuannya sangat menyimpang. Lazy adalah lelaki yang doyan miras dan berjudi serta perokok kelas berat. Namun karena belakangan terserang batuk, Lazy berhenti menjadi pemadat. Meski demikian Lazy jarang di rumah karena dia terpukul tidak dikaruniai anak laki-laki. Kondisi inilah yang membuat Prihartini dan Prihandini—demikian nama putrinya, tidak terlalu dekat dengan sang ayah. Bahkan ketika Lazy berada di rumah, kedua putrinya merasa tidak betah karena selalu mendengar ocehan dan cacian. Sosok Lazy yang egois, kasar dan dingin ini membuat keduanya dirundung kesedihan, sehingga muncul kerinduan memiliki sosok ayah yang memmbuat mereka tertawa dan terlindungi. 13 tahun kemudian, Prihartini dan Prihandini mulai tumbuh menjadi gadis cantik jelita, Tini bertubuh kecil kurus, cenderung keras, kasar, egois dan mendominasi. Sedangkan Handini lebih lembut, mudah mengalah, suka membantu dan sering menangis karena dimarahi kakaknya. Mereka sekolah di tempat yang sama. Handini yang terlihat lebih menarik mulai melirik lawan jenisnya. Kendati masih duduk di bangku SMP, Handini menjalin asmara dengan teman sekolahnya sebut saja Alan. Akibat hubungan terlarang, Handini pun hamil. Sialnya Alan tidak bertanggung jawab bahkan mencampakkan Handini. Penyesalanpun datang mendekap gadis remaja ini. Diselimuti rasa takut, Dini memberanikan diri untuk menceritakan kejadian yang menimpa dirinya kepada sang ibu. Anak dan ibu ini berpelukan sambil menangis sesenggukan. Tanpa diduga muncul sang ayah yang heran melihat pemandangan itu. Akhirnya Kartini menjelaskan semua yang terjadi kepada suaminya. Bahkan Kartini mengingatkan suaminya bahwa apa yang dialami Handini adalah kesalahan mereka selaku orang tua yang kurang memberikan kasih sayang, terutama sosok ayah. Jika ayah memberikan kasih sayang pasti Handini tidak mencari perhatian dari pria lain di luar sana. Mendengar ucapan istrinya, Lazy naik pitam langsung menampar wajah istrinya. Lazy tidak ingin disalahkan dalam kasus Handini. Bahkan dengan pongahnya Lazy mengusir putrinya dan meminta agar kandungannya digugurkan.

Baca Juga  Mahasiswa FTB UTS Kembali Magang ke Jepang

Drama UTS 1Kartini dengan sabar terus mengingatkan sang suami. “Bagaimana kalau anak yang dikandung Handini itu laki-laki pah ? Apa papa masih mau menggugurkan kandungannya ? ucap Kartini memelas, dan Lazy langsung tertunduk. Apapun jenis kelaminnya lanjut Kartini, anak adalah titipan tuhan untuk dirawat dengan sebaik mungkin. “Apa untungnya kita mengusir Handini dan menyuruhnya menggugurkan janinnya ? Kita sudah salah mendidik anak kita, apa sekarang kita akan jatuh lagi ke lubang yang sama dengan cara mengusir dan menggugurkan kandungannya? Apa itu cara yang benar pah? Tanya Kartini bertubi-tubi.

Akhirnya Lazy sadar lalu dengan suara parau berujar akan memperbaiki kesalahan yang slama ini dibuat. Lazy juga bertekad untuk merawat anak-anak dengan baik. Bagaimanapun juga anak-anak tidak cukup dengan kasih sayang seorang ibu, tapi juga seorang pria yaitu ayahnya.

Drama UTS 2Drama musikal ini mendapat tanggapan dari sejumlah tamu. Di antaranya Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA), Muhammad Ikraman S.Pt, yang menilai narasi drama itu sangat mendidik bagaimana kasih sayang orang tua sangat menentukan nasib sang anak. “Ini menarik dapat dijadikan referensi bagi ayah,” ucapnya. Namun kasus yang tergambar dalam drama itu bukan kasus yang menimpa siswa SMP secara umum tapi hanya bersifat kasuistis.

Sementara dr H Minanurrahman selaku pengarang cerita, mengatakan narasi drama itu bertujuan untuk membuka bahwa sesungguhnya peran ibu itu ada tiga yaitu sebagai perempuan, istri dan ibu. Selama ini dalam menyambut hari ibu lebih menuntut peran perempuan, namun belum peran ibu. Padahal peran ibu yang kosong dan peran bapak yang kosong mengakibatkan anak-anak menjadi bingung. Seperti yang ditonjolkan dalam cerita itu bagaimana anak perempuan yang masih lugu dan tidak mengetahii bagaimana seharusnya berpacaran, sehingga menyebabkan dia hamil.  Dalam drama ini juga ditunjukkan kelemahan dari seorang suami yang tidak mengharapkan anak perempuan, tapi dia sendiri berprilaku tidak menunjukkan seorang bapak yang baik.

Baca Juga  Rumah Aspirasi yang Aspiratif

Bagian lain yang menarik dari drama ini adalah pesan untuk tidak merokok karena menyebabkan penyakit bersarang di badan. “Semoga ini menjadi inspirasi para perokok-perokok berat dan menyadari merokok itu membunuh dirimu,” demikian Dokter Minanur. (*) baca juga di Gaung NTB

 

iklan bapenda