Miss Komunikasi, Polisi Dikepung Massa

oleh -0 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (22/12)

Tiga anggota Polsek Moyo Hilir nyaris dihakimi massa, Jumat (19/12) dinihari. Ketiga oknum anggota ini dikepung di kawasan Gili Ngara Desa Olat Rawa Kecamatan Moyo Hilir karena diduga terlibat dalam kasus illegal logging. Apalagi di lokasi, ditemukan tiga batang kayu. Ketiganya langsung diamankan di kantor desa untuk menghindari massa yang terus berdatangan. Situasi terkendali setelah Kapolsek Moyo Hilir, AKP Abdul Sani mendatangi lokasi dan berdialog dengan warga yang kemudian membawa anggotanya meninggalkan kantor desa. Tampak di lokasi Kabid Pengamanan dan Perlindungan Hutan Darussalam S.AP, Kasi Pengamanan Hutan Dinas Kehutanan Sumbawa, Adnan S.Hut, beserta Kepala KPH Batu Lanteh, Julmansyah S.Hut.

amdal

Kapolsek Moyo Hilir, AKP Abdul Sani yang dihubungi Jumat siang, menyatakan persoalan itu hanya misskomunikasi. Anggotanya berada di kawasan Gili Ngara Olat Rawa untuk mengecek keberadaan ternaknya dan di lokasi ditemukan tiga batang kayu yang tergeletak. Sebagai anggota polisi mereka pun berencana membawa kayu yang dipastikan hasil illegal logging. Ketika hendak membawa kayu itu melalui jalur laut karena jalur darat tidak memungkinan mengingat kondisi medan yang sulit ditambah lagi musim hujan, muncul anggota KPH Batu Lanteh bersama masyarakat yang datang ke lokasi. Di tempat ini terjadi salah paham karena warga menduga yang tidak-tidak terhadap anggotanya.

Terkait dengan pengamanan kayu oleh polisi ungkap AKP Sani—sapaan karib Kapolsek, tidak perlu ada surat perintah karena tugasnya sudah melekat di dalamnya. Dan tidak ada salahnya untuk diamankan karena kayu tersebut adalah barang temuan asalkan bukan untuk dijual atau dimiliki secara pribadi. “Ini hanya miss komunikasi dan kami sudah menjelaskannya kepada masyarakat sehingga mereka paham,” ucapnya.

Baca Juga  Diseruduk Dump Truck, 1 Tewas 1 Luka Berat

Mengenai koordinasi dengan petugas KPH, Kapolsek mengakui tidak dilakukan dari awal, dan koordinasi dilakukan di lapangan karena sama-sama menemukan kayu tersebut.

Sementara Kepala KPH Batu Lanteh, Julmansyah S.Hut yang dikonfirmasi terpisah tadi malam, mengaku sebelumnya tim KPH yang sedang berpatroli mendapat informasi adanya kayu temuan oleh masyarakat di sekitar Nanga Lidam Tanjung Bele. Bersama masyarakat mereka turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan. Namun tidak jauh dari lokasi terlihat ada aktivitas. Ketika dihampiri ternyata anggota polisi dan di dekatnya ada tiga batang kayu. Muncul tanda tanya masyarakat mengapa polisi mengurus kayu, terlebih lagi tanpa ada koordinasi dengan petugas KPH. Padahal keberadaan polisi hanya bersifat memback-up. Yang mencurigakan warga adanya keinginan oknum polisi untuk membawa kayu melalui jalur laut padahal bisa ditempuh melalui jalur darat. “Kejelasan inilah yang ingin diketahui masyarakat,” kata Jul.

Karenanya warga menuntut agar persoalan itu diproses. Terhadap tuntutan ini, pihaknya telah menyerahkan masalah kayu ini kepada PPNS di Dinas Kehutanan Sumbawa. “Sekarang sedang berproses,” ucapnya.

Diakui Jul, selama ini koordinasi antara KPH, kepolisian dan TNI (Babinsa) tetap terjalin dalam rangka menjaga wilayah hutan Sumbawa dari aksi illegal logging. Ketika ada informasi masyarakat, mereka tetap turun bersama seperti yang selama ini dilakukan di wilayah Batu Lanteh. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda