Gubernur NTB Mana Janjimu untuk Batu Lanteh

oleh -5 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (18/12)

Camat Batu Lanteh, M Nawawi S.Sos
Camat Batu Lanteh, M Nawawi S.Sos

Camat Batu Lanteh, M Nawawi S.Sos meminta Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi MA dapat merealisasikan janjinya untuk memperbaiki jalan di wilayah Batu Lanteh terutama jalan penghubung Batu Dulang—Tepal dan beberapa desa lainnya. Janji itu menurut Nawawi sudah lama dicetus Gubernur ketika mengunjungi Batu Lanteh menjelang pencalonannya untuk kedua kalinya pada Suksesi Gubernur NTB. Saat itu Gubernur hanya bisa sampai di Batu Dulang dan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan ke Tepal dan Batu Rotok karena terkendala jalan yang rusak parah. Gubernur yang melihat kondisi itu merasa prihatin dan berjanji akan bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sumbawa untuk segera menangani jalan tersebut. “Jika janji itu direalisasikan sudah lama jalan Batu Dulang—Tepal tertangani,” kata mantan Camat Lunyuk ini.

amdal

Sejauh ini jalan Batu Dulang menuju beberapa desa sudah tidak dapat dilalui kecuali menggunakan mobil khusus, dan menunggang kuda atau berjalan kaki. Beberapa titik rawan yang rusak parah belum tertangani meski ada program UPR (Unit Pemeliharaan Rutin) di Dinas PU Sumbawa. “Kenyataannya sampai sekarang UPR itu belum dilakukan di jalan Batu Dulang—Tepal,” akunya.

Meski demikian Ia menyambut positif upaya Dinas PU untuk mengalihkan status jalan Batu Dulang—Tepal yang merupakan jalan kabupaten menjadi jalan propinsi. Dengan perubahan status ini propinsi memiliki tanggung jawab penuh dalam melakukan perbaikan di tengah keterbatasan anggaran kabupaten. “Kami harap segera direalisasikan agar masyarakat di sini tidak semakin terpuruk dan terisolir,” pintanya.

Baca Juga  OPINI: Kajian Kemuslimahan "Langkah Kecil Mendidik Generasi Penerus Sumbawa"

Ketika jalan Batu Dulang yang menghubungkan beberapa desa seperti Batu Rotok, Tepal, Tangkanpulit dan Bao Desa sudah bagus dan arus transportasi lancar, ungkap Nawawi, masyarakat di sana tidak lagi merogoh kocek lebih dalam. Mengingat saat ini untuk membawa satu zak beras (50 kilogram), biaya transportasinya mencapai Rp 100 ribu, belum termasuk orang. Ironisnya biaya transportasi membawa raskin lebih besar daripada harga raskinnya. “Sekilo raskin seharga 1.500, sedangkan ongkos transportasi membawa raskin 2000 perkilogram,” ungkap Nawawi.

Belum lagi masyarakat yang ingin membangun rumah, masjid atau fasilitas umum lainnya, selain harga bahan bangunan mahal, harga transportasinya semakin selangit. Dampak positif lainnya ketika jalan sudah bagus tambah Nawawi, masyarakat leluasa menjual hasil panennya seperti kopi, kemiri, alpukat, duren dan cabe.

Untuk kopi saja dengan luas areal 2.500 Ha, bisa panen mencapai 5—6 ton per hektar. Hanya di sana harga beras mahal, karena warga tidak memiliki sawah. Untuk mendapatkan beras, biasanya warga turun ke kota membawa kopi yang kemudian dijual setelah pulang membawa beras dan lauk-pauk.

Ia berharap persoalan tersebut dapat diretas dengan menjadikan program infrastruktur jalan ini sebagai prioritas. Ini harus menjadi perhatian bersama propinsi dan kabupaten, mengingat persoalan ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. “Tolong wujudkan mimpi masyarakat kami,” pungkasnya. (* ) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda