Batu Lanteh ‘Longsor’ TAGANA Turun Tangan

oleh -2 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (18/12)

Terobos Terowongan "Sukaduka"
Terobos Terowongan “Sukaduka”

Sedikitnya 5 warga di Desa Semongkat, Kecamatan Batu Lanteh menderita luka serius setelah tertimpa longsor, Rabu (17/12). Musibah longsor ini menyebabkan sejumlah jalan ke dan dari lokasi bencana tertutup. Anggota Taruna Siaga Bencana (TAGANA) yang terjun ke TKP mengalami kesulitan untuk mencapai medan guna mengevakuasi korban yang sudah dalam kondisi sekarat. Melalui celah sempit, melewati lorong, menuruni bukit terjal dan licin karena dilakukan pada saat hujan turun, kelima korban berhasil dievakuasi meski berlangsung cukup alot. Selanjutnya para korban dilarikan ke puskesmas setempat untuk mendapat perawatan medis secara intensif. Musibah longsor dan penanganannya ini bukan sungguhan, melainkan gambaran dalam simulasi yang digelar Forum Komunikasi Taruna Siaga Bencana (FK TAGANA) Kabupaten Sumbawa. Simulasi ini bagian dari Pelatihan Mitigasi Bencana yang digelar TAGANA di Desa Semongkat, bekerjasama dengan Dinas Sosial dan Pemerintah Kecamatan Batu Lanteh. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini (16—19 Desember 2014) melibatkan puluhan pemuda dari  sejumlah desa di Kecamatan Batu Lanteh dan Unter Iwis. Para pemuda ini tergabung dalam PAGANA BARIS (Pemuda Siaga Bencana Batu Lanteh Unter Iwis). Dan simulasi yang dilakukannya ini merupakan implementasi dari teori yang diperolehnya dari para instruktur terdiri dari Kadis Sosial dan jajarannya, serta pengurus TAGANA Kabupaten Sumbawa.

amdal

mitigasi tagana 4Ketua FK TAGANA Kabupaten Sumbawa, Lukman Hakim SP didampingi dua instruktur Andre Taufik dan Asep Surya Darma, menjelaskan, simulasi bencana ini dikemas dalam bentuk game (permainan). Para peserta dibagi dalam beberapa kelompok dan ditantang untuk mengevakuasi korban bencana dengan melewati sejumlah rintangan. Kondisi dibuat seolah-olah benar-benar terjadi bencana tanah longsor dengan akses jalan tertutup. Seperti “lorong sempit”, mereka harus berusaha membawa korban melalui celah yang sangat sempit dan berbahaya. Jika salah langkah, tidak hanya korban menjadi korban kedua kalinya tapi tim evakuasi bisa menjadi korban berikut. Setelah melewati lorong sempit, tim dihadapkan dengan rintangan lain yakni masuk ke terowongan. Rintangan ini terbilang sulit karena mereka dipaksa merangkak terlebih lagi celah terowongan hanya selebar satu orang dewasa. Di rintangan ini, di samping membutuhkan tenaga ekstra, mereka harus berpikir cerdas bagaimana bisa membawa korban yang dalam kondisi lemah. Dengan terpaksa satu orang tim merangkak dengan cara merayap dan korbannya dibiarkan terlentang di belakangnya. Upaya ini berhasil, tapi mereka belum bisa bernapas lega karena dipaksa masuk ke liang “suka duka” yang berlumpur dan berbau sambil membawa korban. Tentu saja mereka harus mandi lumpur, dan tubuhnya berbau tak sedap. ‘Penyiksaan’ tak berhenti di situ saja, sebab di depannya sudah ada ‘jaring laba-laba’. Jaring ini memiliki 9 celah yang diibaratkan teraliri listrik. Jika tubuh tim menyentuh terali (jaring) akan kesetrum dan berakibat fatal atau bisa menyebabkan kematian. Untuk lolos dari jebakan maut ini, tim harus hati-hati serta dibutuhkan kerjasama, konsentrasi, dan keberanian.

Baca Juga  Posramil Tambora Bersama Warga Dorolede Pasang Pipa Air Bersih
lewati terowongan
lewati terowongan

Di bagian lain, tim memainkan game hiburan yakni lidi dalam sedotan dan kapal pecah. Untuk lidi dalam sedotan, dua orang berhadap-hadapan, satu menggigit lidi satunya lagi sedotan. Lidi harus dimasukkan ke dalam sedotan dengan menggunakan mulut. Di sini dibutuhkan konsentrasi tinggi dan kerjasama. Demikian dengan game kapal pecah. Lima orang dalam tim harus bisa berdiri di atas papan yang semakin lama semakin kecil sehingga mereka dipaksa terus merapat. Jika tidak, mereka akan tenggelam di lautan yang luas dan ganas. “Semua permainan atau simulasi ini memupuk kekompakan, keberanian, konsentrasi dan kepemimpinan. Hal ini sejalan dengan prinsip TAGANA yakni One Comand (satu komando), One Rule (satu aturan) dan One Corps/Unity (satu korsa/unit),” sebutnya.   Lukman berharap dengan teori dan praktek yang langsung diterima dalam Pelatihan Mitigasi Bencana ini, para peserta dapat mengimplementasikannya dalam penanganan bencana sebagai bagian dari misi kemanusiaan.

Relawan kemanusiaan
Relawan kemanusiaan

Erwan—salah seorang peserta menilai pelatihan mitigasi ini sangat penting karena banyak pengetahuan yang diperolehnya. “Ilmu ini sangat berharga dan tidak semua orang mendapatkannya. Selain itu kami diajarkan memiliki rasa tanggung jawab, kebersamaan dan empati terhadap sesama. Ini luar biasa,” ucapnya. Hal senada dikatakan Tuti Handayani—peserta lainnya yang mengaku memperoleh ilmu dan pengalaman. Mereka yang semula tidak saling kenang karena datang dari desa berlainan dapat menjadi satu tim yang kompak dalam suka maupun duka. “Ini yang kenikmatan patut kami syukuri dan kami harap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini melainkan terus dilaksanakan, tentunya tetap melibatkan kami bukan hanya menjadi peserta pelatihan, tapi dapat membantu TAGANA dalam penanganan bencana yang sesungguhnya,” pintanya. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda