Tradisi, Siswa SMPN 5 SATAP Badas Menikah Dini

oleh -2 views
bankntb

Sumbawa Besar, SR (11/12)

Ketua PGRI Badas, A Rahman Semba , S.Pd
Ketua PGRI Badas, A Rahman Semba , S.Pd

Pendidikan bagi sebagian masyarakat ternyata masih dipandang sebelah mata. Apa yang terjadi di SMP Negeri 5 SATAP Badas dapat dijadikan sebagai acuannya. Di sekolah bersangkutan menurut kepala sekolahnya, A Latief  SPd, setiap tahunnya pasti ada siswanya yang menikah dini. Padahal mereka belum juga menamatkan pendidikannya.

amdal

Tahun ini saja sebutnya, ada dua siswanya yang menikah. Sebelum menikah, satu siswa masih duduk di bangku kelas VII dan satu siswa lainnya di kelas VIII. Siswa ini bukan menikah sesama siswa melainkan dengan pemuda kampung setempat. “Tiap tahun pasti ada siswa kami yang menikah,” ujarnya.

Untuk mencegah terjadinya pernikahan dini ini pihak sekolah kerap melakukan sosialisasi baik melalui forum komite maupun mendatangi langsung kediaman orang tua dan pemerintah desa setempat. ‘’Pentingnya sebuah pendidikan sudah seringkali saya sosialiasikan, tapi tidak ada hasil,’’ keluh Latief.

Menurutnya, ada beberapa factor mengapa pernikahan dini sampai terjadi di kalangan siswanya. Selain kurangnya kesadaran orang tua, adat istiadat menjadi alasan lainnya. Di Pulau Medang—tempat SMP 5 SATAP Badas, ada sebuah kepercayaan masyarakat dimana anak yang sudah dipinang harus dinikahkan. Jika tidak, maka anak bersangkutan terancam tidak mendapatkan jodoh seumur hidup. “Ada semacam kepercayaan masyarakat di Pulau Medang, kalau anaknya sudah dipinang sekali terus tidak mau, maka tidak dapat jodoh seumur hidup. Itu yang mereka yakini dan takutkan. Makanya kalau dipinang sekali harus diterima,” tuturnya. “Kalau sekarang sudah mendingan, karena siswa SMP yang menikah. Dulu siswa kelas VI SD menikah. Sejak ada SMP, siswa SD tidak ada lagi yang menikah,” timpalnya.

Baca Juga  Mohon Pamit, KKL UNSA di Desa Ngeru Dinilai Berbeda dan Luar Biasa

Ketua GPRI Cabang Badas, A Rahman Semba SPd mengaku sangat menyayangkan kondisi yang terjadi di SMP 5 SATAP Badas ini, sebab menyakut masa depan anak. Masalah ini sambungnya, tidak lepas dari kepedulian dan kesadaran orang tua. “Pernikahan dini cukup disayangkan. Usia SMP seharusnya belajar, bukan menikah karena secara psikologis mereka belum matang,’’ tegasnya.

Ke depan lanjut Man, harus ada sosialiasi intensif kepada masyarakat di Pulau Medang, khususnya para orang tua. Dalam sosialisasi ini harus melibatkan pihak sekolah, Dinas Diknas Kabupaten Sumbawa dan sejumlah instansi terkait lainnya. (*)  Baca juga di Gaung NTB

 

iklan bapenda