Barang Disita, Pemilik Semen Rugi Besar

oleh -1 views
bankntb

Kompol Ferdyan: Kasusnya Masih Berproses

Sumbawa Besar, SR (03/12)

amdal
Kompol Ferdyan S.IK, Wakapolres Sumbawa
Kompol Ferdyan S.IK, Wakapolres Sumbawa

Hingga kini sekitar 3000 zak semen Tonasa yang hendak dikirim ke Bima dan Dompu, masih diamankan di Polres Sumbawa. Polisi masih melakukan penyelidikan secara intensif untuk memastikan ada dan tidaknya tindak pidana. Namun langkah polisi ini dikeluhkan salah seorang pemiliknya. Adalah Budi, warga Kabupaten Dompu.

Ditemui Selasa (2/12), Budi mengaku mengalami kerugian yang cukup besar dengan diamankannya semen yang baru dibelinya dari Toko Bangunan Sari Tama dan Mandira di Kelurahan Pekat Sumbawa. Apalagi polisi belum memastikan sampai kapan semen itu berada di Polres. Ia mempertanyakan dasar penyitaan barang miliknya tersebut. Sebab semen itu barang pabrikan yang dibelinya secara legal dari sumber yang tidak bermasalah. “Kalau minyak mungkin ada pasal ilegal oil, bahan tambang illegal mining dan kayu pasal ilegal logging, tapi apa pasal untuk semen ini,” tanyanya.

Sampai saat ini dia juga tidak pernah melihat ada surat edaran yang melarang peredaran semen ke luar daerah. Dan jika terjadi kelangkaan, mengapa masih banyak semen yang menumpuk dan dijual di toko-toko.  Ia mengaku terpaksa membeli semen di Sumbawa karena di Dompu tidak tersedia distributor semen. Ini dilakukan untuk mempercepat penyelesaian proyek pembangunan pemecah gelombang di Lakey yang masa kontraknya akn berakhir Desember ini. Selama ini diakui Budi, dia membeli semen di Bima, karena di sana faktur menumpuk dan bisa sampai lima hari mengantri, dia banting stir membeli semen ke Sumbawa. “Ini pertama kali saya beli semen di Sumbawa. Ini terpaksa saya lakukan karena proyek harus selesai tepat waktu. Bahkan saya sebenarnya rugi membeli di Sumbawa sebab biaya transportasinya mahal,” akunya.

Baca Juga  Gondol Uang 34 Juta, Tertangkap Setelah Terekam CCTV

Ia berharap persoalan di kepolisian cepat tuntas sehingga dapat diketahui status hukum dari semen tersebut. “Kalau memang mengarah ke tindak pidana kami siap diproses, tapi kalau tidak mohon secepatnya dikeluarkan agar tidak terkatung-katung,” pintanya.

Sementara Suryawan–Pemilik Toko Saritama dan Mandira mengaku hanya menjual semen dan dia tidak mengetahui kemana semen itu akan dibawa. “Saya hanya menjual kepada orang yang datang membeli ke sini. Harga per zak nya hanya 60 ribu rupiah. Untuk apa dan mau dibawa kemana semen itu saya tidak tahu,” akunya.

Ia mengakui Semen Tonasa baru lima hari tiba di Sumbawa dan kini masih dalam proses pembongkaran di Pelabuhan Badas, sehingga untuk stok masih cukup tersedia.

Secara terpisah, Wakapolres Sumbawa, Kompol Ferdyan Indra Fahmi S.IK, mengatakan masih menyelidiki kasus ini untuk memastikan peredaran semen tidak menyalahi ketentuan. “Sampai sekarang anggota kami berada di lapangan, sebagiannya melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak terkait untuk menghimpun keterangan sehingga nantinya bisa disimpulkan apakah ada dan tidaknya penyimpangan,” kata Kompol Ferdyan.

Ia memahami keluhan pemilik semen. Namun yang perlu diketahui semen ini diamankan karena terjadi kelangkaan di Sumbawa, bersamaan dengan munculnya informasi bahwa kondisi itu terjadi karena adanya pendistribusian semen keluar daerah. “Inilah yang kami sikapi untuk meminimalisir keresahan akibat kelangkaan,” kata Ferdyan—akrab Wakapolres disapa.

Baca Juga  Beraksi di 8 Lokasi, Residivis Curanmor Diringkus Buser

Sebenarnya permasalahan ini tidak akan terjadi apabila ketersediaan semen di Sumbawa mencukupi. Ketika semen sudah memenuhi kebutuhan konsumen, distribusi ke Dompu, Bima bahkan ke NTT pun tidak menjadi persoalan. “Saat di sini membutuhkan kenapa harus dibawa keluar sementara harga di luar lebih mahal. Apakah distributor itu merasa lebih menguntungkan jika melempar barang ini ke daerah lain daripada di sini, inilah yang sedang kami dalami,” tandasnya.

Pihak kepolisian hanya ingin memastikan tidak ada penimbunan dan perlakuan yang tidak adil. Seberapapun kebutuhan masyarakat harus dilayani tanpa memberikan perlakuan yang berbeda. “Jangan sampai pembelian sedikit tidak dilayani, dan ketika pembelian dalam jumlah besar baru diberikan, terlebih lagi pemberian itu karena harga yang menggiurkan. Ini yang harus kita tertibkan,” demikian Wakapolres. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda