Sebutan Daerah Kerbau Bakal Tinggal Nama

oleh -7 views
bankntb

Populasi Kerbau Menurun

Sumbawa Besar, SR (19/11)

amdal
Wakil Ketua DPRD Sumbawa, H Ilham Mustami S.Ag
Wakil Ketua DPRD Sumbawa, H Ilham Mustami S.Ag

Sebutan Kabupaten Sumbawa sebagai daerah kerbau bakal terancam. Sebab setiap tahun trend populasi kerbau di daerah ini terus mengalami penurunan. Tahun 2005 lalu populasi ternak kerbau berjumlah 68.519 ekor, menurun menjadi 54.535 ekor Tahun 2010. Penurunan ini terus berjalan dan rentang waktu penurunannya menjadi semakin pendek. Data terakhir populasi ternak kerbau pada Tahun 2013 berdasarkan hasil registrasi ternak sebanyak 50.857 ekor, dengan kisaran penurunan antara 2- 4,4 persen selama 3 tahun (2011-2013). Hal ini disebabkan telah terjadi pergeseran fungsi ternak kerbau, meski populasinya masih stabil dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Wakil Ketua DPRD Sumbawa, H Ilham Mustami S.Ag mengaku cukup prihatin dengan kondisi tersebut. Sebagai penggemar kerbau dan inisiator barapan kebo, Haji Ilham—akrab politisi Hanura ini disapa, melihat trend penurunan populasi itu karena beberapa faktor. Di antaranya semakin menurunnya daya tarik masyarakt untuk memelihara kerbau, mengingat sarana prasarana yang ada semakin minim, akibat pembangunannya tidak dilakukan secara simultan dan kontinyu. Seperti pembangunan LAR, penyediaan lahan pakan, dan fasilitas air untuk ternak, yang tidak sebanding dengan pengembangan bidang pertanian yang setiap tahunnya lahan cetak sawah baru terus ditambah. “Lahan pertanian semakin luas, lahan peternakan terus menyempit,” kata Haji Ilham.

Untuk merubah system LAR karena kian sempitnya lahan menjadi system kandangisasi, peternak masih berpikir dua kali. Sebab biaya yang dikeluarkan lebih besar dengan hasil yang diperoleh, sehingga pemeliharaan kerbau menjadi tidak menarik.

Baca Juga  Warga Merana, Jembatan Cinta Putus !!

Jika kondisi ini terus dibiarkan, predikat Sumbawa sebagai daerah kerbau dan pusat pembibitan nasional akan tinggal nama. Menurut Haji Ilham, harus ada gerakan yang revolusioner dengan pembangunan LAR di setiap kecamatan yang dilengkapi dengan sarana prasarana yang memadai. Melakukan sosialisasi terkait dengan keuntungan dan kelebihan beternak kerbau jika dibandingkan dengan ternak-ternak lain. Selain itu membangun laboratorium untuk menyikapi produktifitas angka kelahiran kerbau rendah dan angka kematian bayi kerbau yang tinggi.barapan kebo 3

Upaya lainnya melakukan kawin silang kerbau Sumbawa dengan kerbau jenis lain sehingga pertumbuhan lebih ceoat, dan daya tahan lebih kuat. Yang tidak kalah penting adalah membudayakan dan melestarikan barapan kerbau. Event ini sangat berpengaruh pada nilai ekonomis kerbau, di samping fisiknya yang kuat karena pemeliharaan kerbau barapan dilakukan secara khusus.

Sejauh ini diakui Haji Ilham sudah ada upaya pemerintah daerah untuk menyelamatkan populasi kerbau. Di antaranya melakukan vaksinasi meski belum maksimal atau menyeluruh. Kemudian pembangunan LAR, tapi masih sebatas LAR yang sudah ada, sedangkan pertumbuhan LAR baru masih belum dilakukan. “Meningkatkan populasi ternak kerbau diperlukan langkah-langkah yang sistematis, terfokus, terpadu dan terukur agar ternak kerbau sumbawa tidak menjadi endangered species (spesies yang terancam punah),” pungkasnya. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda