Belum Jelas Kelanjutan Eksplorasi Dodo

oleh -8 views
Wilayah Dodo Rinti, konsensi PT AMNT
bankntb

Sumbawa Besar, SR (17/11)

Presdir NNT Martiono didampingi Suharto SH M.Si  (tengah) dan Syarafuddin Jarot  Manager Comrel
Presdir NNT Martiono didampingi Suharto SH M.Si (tengah) dan Syarafuddin Jarot Manager Comrel

Kegiatan eksplorasi PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) di Dodo Rinti Kecamatan Ropang, sudah lama terhenti. Kondisi ini berdampak menganggurnya karyawan lokal, dan dihentikannya program pemberdayaan bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Tentu saja pembangunan di wilayah lingkar Dodo terseok-seok seperti infrastruktur jalan dan lainnya yang rencananya dibiayai melalui program CSR PTNNT, tidak tuntas sehingga secara tidak langsung menghambat kegiatan masyarakat. Kenyataan tersebut membuat masyarakat setempat rindu dengan keberadaan perusahaan yang berpusat di Denver Colorado Amerika ini. Mereka berharap PTNNT segera melanjutkan kegiatannya di Dodo. Demikian dengan pemerintah yang mengharapkan kembali bergeliatnya investasi di daerah terutama sector pertambangan yang dapat menjadi daya ungkit sector lainnya yakni perikanan, pertanian dan pariwisata.

amdal

Terhadap nasib Newmont di Dodo ini, Presiden Direktur PTNNT, Martiono Hadianto yang dicegat usai memberikan kuliah umum di Kampus Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Minggu (16/11), belum berani memberikan kepastian kapan Newmont melanjutkan kegiatan eksplorasinya. Hal tersebut sangat tergantung dari kondisi keuangan perusahaan yang sekarang ini memprihatinkan karena harga emas sedang terpuruk. “Harga emas sekarang memukul kondisi keuangan hampir semua perusahaan pertambangan di seluruh dunia termasuk Newmont. Sekarang ini eranya konsolidasi,” katanya.

Martiono juga tidak mau berprediksi kapan kondisi itu akan berakhir dan kapan Newmont melanjutkan kegiatan eksplorasinya di Dodo. Ia beralasan banyak prediksi yang meleset. Martiono mencontohkan CEO Newmont sebelumnya, O’Brian yang menyatakan harga emas dalam beberapa tahun naik menjadi 2000 dengan melihat trend harga emas saat itu dari 1.400 terus mengalami kenaikan, justru meleset. “CEO atau orang yang paling hebat saja keliru memprediksikan sesuatu, apalagi saya. Jadi saya gak berani memprediksikan apa-apa,” pungkasnya. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda
Baca Juga  Menko PMK Launching Media Siberindo.co