Mahasiswa UTS Berpeluang Diterima di Harvard dan MIT

oleh -37 views
Kota Boston
bankntb

Sumbawa Besar, SR (14/11)

Di depan Harvard University
Di depan Harvard University

Menimba ilmu di universitas terkemuka dunia menjadi idaman semua orang. Apalagi kuliah di Amerika di antaranya Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Sebab dari perut dua universitas yang terletak di Kota Boston inilah telah lahir sejumlah tokoh dunia, termasuk pejabat dan orang-orang sukses di Indonesia seperti Achmad Zen Umar Purba (Guru Besar Universitas Indonesia), Agus Yudhoyono (Putra Presiden SBY), Alvin Januar (Direktur Citygroup), Alvin Lesmana (Direktur Utama Exxon Indonesia), Arief Budiman (Dosen University of Melbourne), Billy Andreas (Ahli Hukum Dunia), Brilly Kristian (Ahli kesehatan Amerika), Daniel Kristanto (Direktur Telmex.com), Della Hartati (Ahli Hukum Amerika), Endang Rahayu Sedyaningsih (mantan Menteri Kesehatan RI), Gita Wirjawan (mantan Menteri Perdagangan), Hans Gunawan (Mantan Direktur Indosat), Travis Halim (CEO CityGroup) dan William Atmajaya (Mantan Direktur Utama Chevron Indonesia). Semuanya berasal dari Indonesia. Untuk tokoh dunia adalah Barrack Obama, Mantan Sekjen PBB Kofi Annan, Pemenang Nobel Fisika Richard Feynman SB, dan Pemenang Nobel Ekonomi Paul Krugman, PhD. Berkaca dari para tokoh ini, sejumlah mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang mengikuti Kompetisi Biologi Sintetik dunia (IGEM) di Boston Amerika Serikat belum lama ini, tertarik untuk melanjutkan kuliah di dua universitas tersebut. Apalagi mereka telah memperoleh banyak informasi saat berkunjung di dua universitas ini yang berpeluang bagi mereka untuk diterima.

amdal
Bersama Dekan FTB UTS di depan MIT (Massachusetts Institute of Technology )
Bersama Dekan FTB UTS di depan MIT (Massachusetts Institute of Technology )

Mochammad Isro Al Fajri, contohnya. Salah seorang mahasiswa Fakultas Teknobiologi (FTB) UTS menyatakan tekadnya untuk melanjutkan kuliah (pasca sarjana) di Harvard University. Peluang untuk kuliah di Harvard menurutnya terbuka lebar. Sebab ilmu bioteknologi yang kini didalaminya terbilang masih langka, sehingga persaingan di Harvard terbilang kecil. Terlebih lagi Rektor UTS Dr H Zulkieflimansyah SE M.Sc sangat memberikan dukungan kepada mahasiswanya yang ingin maju dan sukses. Dukungan terbesar adalah memberangkatkan mereka mengikuti kompetisi IGEM di Boston Amerika Serikat, yang dinilainya tidak hanya sekedar mengikuti lomba namun dapat membuka mata mahasiswanya terhadap kemajuan segala bidang termasuk pendidikan di negeri Paman Sam tersebut, sehingga memunculkan motivasi di dalam diri.

Baca Juga  Pembukaan Gala Desa Piala Menpora RI 2019 Digelar di Plampang
Mochammad Isro Al Fajri
Mochammad Isro Al Fajri

Fajri juga meyakini kuliah di universitas bergengsi pasti menjadi orang yang sukses. Karenanya keberadaannya di Amerika saat itu dimanfaatkan untuk menghimpun informasi sebanyak-banyaknya termasuk membuka jaringan dengan sejumlah mahasiswa setempat.  “Saya harus kembali ke Amerika tentunya menjadi salah satu mahasiswa Harvard University,” cetusnya.

Hal senada dikatakan Muhammad Al Azhar. Rekan Fajri ini juga berkeinginan kuliah di Amerika tepatnya di MIT. Sebab MIT merupakan institusi riset yang berbanding lurus dengan ilmu yang saat ini ditekuninya di Universitas Tekhnologi Sumbawa (UTS). “Saking inginnya kuliah di MIT, saya telah membeli jaket MIT sebagai tanda awal untuk kuliah di sana,” ucapnya.

Sukidi—mahasiswa asal Indonesia yang tengah mengikuti program Doktoral di Harvard University, mengakui Harvard dan MIT adalah dua universitas terkemuka di Kota Boston Amerika Serikat. Keduanya ikut andil menjadikan negara adidaya tersebut sebagai pusat ilmu pengetahuan (center of excelent). Sebab mahasiswa terbaik dunia berbondong-bondong datang menimba ilmu di dua universitas yang saat ini menjadi tempat tujuan utama kalangan turis untuk berwisata. Hal ini juga yang membuat Amerika menjadi negara maju. Meski berstatus swasta namun Harvard dan MIT lebih berkembang signifikan dibandingkan dengan perguruan tinggi ‘berplat merah’ atau yang mendapat subsidi pemerintah setempat. Berbeda dengan di Indonesia, banyak perguruan tinggi swasta justru berlomba-lomba untuk menegerikan diri, karena menganggap perguruan tinggi negeri justru lebih maju daripada perguruan tinggi swasta. Majunya dua universitas tersebut karena dukungan finansialnya (financial support) mampu melakukan investasi melalui program indomen (wakaf). Orang diajak menyimpan uang di tempat itu yang kemudian namanya diabadikan sebagai salah satu nama departemen di kampus tersebut, ini sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan dukungannya dalam membangun peradaban. Melalui program itulah menjadikan universitas seperti Harvard memiliki kekayaan kedua dunia setelah Vatikan di Roma. Dengan dana yang besar ini, Harvard dapat menarik profesor-profesor terbaik di bidangnya untuk datang ke perguruan tinggi tersebut. Para profesor inilah yang kemudian memberikan daya pikat bagi mahasiswa terbaik dunia untuk datang dan menimba ilmu di Harvard. “Negara maju berbanding lurus dengan kampus yang bagus. Inilah salah satu kunci kemajuan Amerika sehingga mengalahkan negara eropa seperti Jerman dan Inggris yang sebelumnya menjadi pusat ilmu pengetahuan,” kata Sukidi.

Baca Juga  Tingkatkan Kesejahteraan Desa, FEB UTS Gandeng BI dan OJK
Muhammad Al Azhar
Muhammad Al Azhar

Sukidi mengaku banyak mahasiswa dua universitas terbaik di Amerika ini berasal dari Indonesia. Mereka adalah mahasiswa terbaik yang mendapat kesempatan menyelesaikan S1, S2 dan S3. Dan sebagian dari mereka bukan anak orang berada, tapi karena prestasinya di bidang akademik membuat mereka berpeluang untuk mensejajarkan diri dengan mahasiswa lain di sana yang memiliki kemampuan finansial yang cukup. Tentu ini menjadi inspirasi, orang miskinpun bisa kuliah di sana.

Siapapun bisa kuliah di Harvard dan MIT termasuk sejumlah mahasiswa UTS yang beberapa waktu lalu berkunjung ke sana. Asalkan mereka memperoleh informasi yang cepat, akurat, otorigatif dan terpercaya. Selama ini mereka belum mendaftar karena belum mendapat informasi yang cukup, misalnya informasi tentang apa program yang tersedia di Harvard, mengenai program beasiswa dari kampus, dan bagaimana caranya membuat riset project yang membuat daya tarik ke Harvard. Semua informasi ini dapat diperoleh dari internet atau website www.harvard.id, dan pendaftaran dapat dilakukan secara online. Selain informasi, paling utama adalah memiliki kecerdasan dan prestasi di bidang akademik, serta spirit yang bagus yang didasari impian dan cita-cita diri yang membara.

Amerika, Sambutlah Kami
Amerika, Sambutlah Kami

Soal latar belakang ekonomi, Sukidi menyatakan tidak menjadi penghalang sedikitpun untuk kuliah di Harvard dan MIT. Kedua universitas itu umumnya menyediakan beasiswa yang cukup dermawan dan siapapun bisa mendapatkannya apakah orang miskin ataupun kaya. Pihak universitas hanya melihat nilai, kecerdasan, dan aplikasinya yang bagus. “Saya kira mahasiswa UTS apalagi yang mengikuti IGEM dan meraih sejumlah penghargaan ini, berpeluang besar untuk diterima kuliah di Harvard, MIT maupun sejumlah universitas lain yang ada di Amerika ini,” demikian pungkasnya. (*) Baca juga di Gaung NTB

iklan bapenda