Pakar Anthropology dan Science MIT Amerika Puji Project Econey UTS

oleh -2 views
bankntb

Boston, SR (03/11)

Promosi Potensi Sumbawa
Promosi Potensi Sumbawa

Penampilan Tim Sumbawagen Universitas Tekhnologi Sumbawa (UTS) pada kompetisi dunia–iGEM (International Genetically Engineered Machine) di Hynes Convention Center, Boston, Amerika Serikat, Minggu (2/11), menarik perhatian Prof Michael MJ Fischer. Pakar Anthropology dan Science dunia dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) Boston Amerika Serikat ini langsung menyampaikan pujiannya kepada Cindy Cs usai mempresentasikan Project Econey di hadapan sejumlah dewan juri dan para peserta dari berbagai perguruan tinggi di dunia. Bahkan dia sangat tertarik dengan proyek FTB UTS yang membuat alat sensor untuk mengetahui kadar gula (glukosa) dalam madu Sumbawa hasil rekayasa genetika ini. Pasalnya, proyek tersebut langsung bisa diaplikasikan kepada masyarakat. “Saya senang dengan proyek ini, sangat aplikatif,” ucapnya dalam Bahasa Inggris saat mendatangi dan menyalami Tim Sumbawagen.

amdal
Profesor Michael
Profesor Michael

Ia juga tak menyangka Sumbawa daerah yang sangat jauh dan berada di pelosok kota memiliki universitas terkemuka, apalagi masih terbilang baru namun mampu mewakili daerah dan negaranya mengikuti kompetisi dunia di Amerika ini.  “Ini sangat luar biasa dan saya salut dengan anak-anak yang masih sangat muda ini tapi mampu berprestasi,” kata Profesor Michael.

Diapun menyatakan ketertarikannya mengunjungi Indonesia dan akan berusaha mampir di Sumbawa melihat langsung proses pendidikan di UTS. “Dalam waktu dekat saya ke Singapura untuk kepentingan riset, saya akan berusaha ke Indonesia mampir ke UTS,” ujarnya mantap, sembari meminta nomor kontak Cindy Suci Ananda—Ketua Tim Sumbawagen sekaligus menyerahkan kartu namanya.

Baca Juga  OPINI: Mengenal Lebih Dekat Perempuan Sumbawa pada Masa Dulu
Sumbawagen bersama Tim ITB, UI dan UB
Sumbawagen bersama Tim ITB, UI dan UB

Sementara tim dari Universitas Indonesia, ITB dan Universitas Brawijaya, ikut hadir memberikan dukungan kepada Sumbawagen saat tampil mempresentasikan proyeknya. Demikian dengan Tim dari Tokyo University of Agricultural and Technology ikut menyampaikan ucapan selamat atas perfomance Sumbawagen UTS yang dinilai cukup baik.

Sebelumnya, dalam presentasi di kompetisi IGEM, Tim Sumbawagen yang diawaki Cyndi, Fahmi, Azhar dan Indah, memperkenalkan tentang Sumbawa. di hadapan dewan juri dari berbagai Negara ini, mereka menyampaikan bahwa  Sumbawa yang terletak di antara Pulau Bali dan Pulau Komodo, memiliki kekayaan alam yang cukup melimpah. Seperti mineral berupa emas dan tembaga yang kini dikelola PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT)—perusahaan tambang raksasa yang berkantor pusat di Denver Colorado Amerika Serikat. Tidak hanya mineral tapi juga pertanian, peternakan dan perikanan yang menjadi unggulan dalam meningkatkan perekonomian masyarakatnya karena sebagian besar berprofesi sebagai petani. Selain itu Sumbawa memiliki madu yang cukup terkenal dan sekarang sudah menjadi icon daerah Sumbawa.Diakuinya meski sumber daya alam Sumbawa melimpah namun dominan digarap pihak asing karena keterbatasan sumberdaya manusia berkualitas. Karenanya UTS berdiri untuk menjawab persoalan tersebut.

bersama Tim Tokyo University of Agricultural and Technology
bersama Tim Tokyo University of Agricultural and Technology

Dalam kesempatan yang sama, Tim Sumbawagen memaparkan project Econey yang tengah digarap dan dipresentasikan pada kompetisi tersebut. Proyek ini dilakukan berangkat dari persoalan masyarakat terutama petani madu di Sumbawa. Selama ini madu Sumbawa yang sudah menjadi produk unggulan kerap dipalsukan pihak lain, bahkan tidak jarang daerah lain mengaku madu Sumbawa sebagai produk daerahnya dengan hanya mengganti kemasan dan labelnya. Karenanya untuk menjaga kualitas dan keaslian madu Sumbawa, UTS menciptakan alat sensor hasil rekayasa genetika bakteri E.coli. Alat sensor untuk mengukur kadar gula dalam madu Sumbawa ini nantinya akan dijadikan perangkat lunak handphone.  Jadi dengan hanya menggunakan handphone, petani madu dapat langsung mengetahui kadar gula dalam madu Sumbawa sekaligus mampu mendeteksi keasliannya. Sebab selama ini untuk mengukur kadar gula, petani harus mengirim sampel ke laboratorium luar daerah yang tentunya membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit. (*) Baca juga di Gaung NTB

Baca Juga  Rugi Besar Tak Hadiri “Samawa Book Fair” 2014

 

iklan bapenda